Kumparan Logo
Konten Media Partner

Lima Peserta Diksar Mahepel Unila Dipanggil ke Polda, Saksi Dugaan Kekerasan

Lampung Gehverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lima peserta Diksar Mahepel Unila diperiksa sebagai saksi. | Foto: Sinta Yuliana/Lampung Geh
zoom-in-whitePerbesar
Lima peserta Diksar Mahepel Unila diperiksa sebagai saksi. | Foto: Sinta Yuliana/Lampung Geh

Lampung Geh, Bandar Lampung - Lima peserta Pendidikan Dasar (Diksar) Mahasiswa Ekonomi Pencinta Lingkungan (Mahepel) Universitas Lampung (Unila) jadi saksi kasus meninggalnya Pratama Wijaya Kusuma (20).

korban dugaan kekerasan saat Diksar Mahepel XXVI ada 6 mahasiswa, selain Almarhum Pratama kini lima korban lainnya dimintai keterangan oleh pihak berwenang.

Mereka memberikan kesaksian terkait dugaan kekerasan yang dialami selama kegiatan tersebut, memperkuat tudingan adanya tindakan kekerasan sistemik dalam pelaksanaan Diksar.

Pantuan Lampung Geh, mereka datang dengan didampingi tim kuasa hukumnya. Tak hanya itu, ibu Pratama Wijaya Kusuma juga turut datang ke Mapolda Lampung, kamis (5/6).

Pengacara keluarga korban, Icen Amsterly mengatakan pihaknya mendampingi lima korban sebagai saksi untuk dimintai keterangan terkait peristiwa dugaan kekerasan saat Diksar.

"Untuk hari ini pemeriksaan saksi aja terkait tindak pidana kekerasan. Barang bukti hari ini rekam medik dari Rumah Sakit Bintang Amin dan akte kelahiran," katanya.

Pengacara keluarga korban, Icen Amsterly. | Foto: Sinta Yuliana/Lampung Geh

Menurut Icen, dugaan tindak pidana kekerasan yang dilakukan para senior dan panitia Diksar sangat fatal. Salah satunya, mengakibatkan Fariz (20) mengalami gangguan pendengaran. "Kalau dari keterangan para korban tindakan kekerasan yang dilakukan para senior dan panitia khususnya Mahepel tindak kekerasan mengakibatkan sangat fatal, itu ada pemukulan, penendangan dan ada yang diinjek," sebutnya. Icen menambahkan, saat ini kondisi para korban dalam keadaan sehat. Namun, korban atas nama Fariz mengalami gangguan pendengaran. "Saat ini sehat, 1 atas nama Fariz dia pendengarannya agak berkurang karena terjadi penamparan. Diduga semua peserta dan sama (korban kekerasan)," pungkasnya. (Yul)