Marak Kasus Bunuh Diri di Lampung, Psikolog Sebut Stres Jadi Pemicu Awal
·waktu baca 2 menit

Lampung Geh, Bandar Lampung - Octa Reni Setiawati salah satu Dosen Program Studi Psikologi Universitas Malahayati menanggapi perihal maraknya kasus bunuh diri di Lampung.
Belakang ini merupakan gambaran bahwa perlunya kita waspada dan lebih aware atau peduli tentang kesehatan mental orang-orang di sekitar kita.
Octa Reni Setiawati selaku Dosen Psikologi di Universitas Malahayati mengatakan, dengan banyaknya masalah hidup saat ini harus diimbangi dengan kewaspadaan terhadap kesehatan mental.
"Dan kita tahu dalam kehidupan kita sekarang itu beraneka macam problem dan masalah, jadi menurut saya ini menjadi perhatian bersama, dan warning bersama bahwa kehidupan seseorang sebenarnya bukan milik dia sendiri tapi sebenarnya milik bersama," katanya pada Lampung Geh, Kamis (25/7).
Octa juga menuturkan sebelum seseorang melakukan bunuh diri, mereka berada di fase di mana mereka bingung apa langkah yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalahnya.
"Sebenernya sebelum kita bicara bunuh diri itu kan suatu tindakan yang biasanya dilakukan terakhir ketika seseorang benar-benar merasa tidak punya jalan keluar," ujarnya.
Lanjut Octa, biasanya bunuh diri ini dilakukan karena seseorang berada pada suatu kondisi tertekan.
"Tapi sebelumnya mereka itu dalam keadaan yang memang awal awalnya itu berada pada suatu kondisi psikologis yang dia tertekan bisa dalam keadaan stress kemudian depresi dan dia kemudian bisa masuk ke problem suicide atau bunuh diri," lanjutnya.
Octa juga menambahkan masalah kesehatan mental bukanlah masalah dari individu itu melainkan juga masalah bersama yang harus diatasi bersama-sama.
"Misalnya kita punya anggota masyarakat yang terbuka tiba-tiba mengalami perubahan perilaku menjadi tertutup gak ada yang dateng. Sebagai tetangga juga harus aware bahwa ada masalah, dan perlu mengunjungi dan kemudian ketika ada masalah dan lain lain interaksi dengan keluarga itu juga penting, " tambahnya.
Terkahir, Octa berharap, agar setiap individu bisa aware dengan sesama dan bisa menjadi support system bagi orang orang sekitar yang memliki gangguan kesehatan mental.
"Harapannya masalah kesehatan mental bisa teratasi, dan tidak perlu lagi ada berita-berita tentang suicide atau bunuh diri," pungkasnya. (Put/Ansa)
