Mengunjungi Yayasan Busaina: Rumah Bagi Puluhan Anak Berbagai Latar Belakang

Lampung Geh,Bandar Lampung - Melihat kehidupan anak-anak di Rumah Ramah Anak Busaina Lampung, dari berbagai latar belakang menjadi satu kesatuan keluarga besar.
Yayasan Busaina Lampung beralamatkan di Jalan Untung Suropati Nomor 51 Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung. Berdiri sejak tahun 2012 dan dilegalkan pada 2014, Yayasan Busaina Lampung saat ini memiliki 60 anak asuh yang terdiri dari 20 balita dan 40 anak-anak. Yayasan Busaina sekilas sama seperti yayasan panti asuhan pada umumnya, yakni mengasuh anak-anak dari berbagai macam latar belakang atau riwayat. Yayasan Busaina memiliki program atau rumah khusus bagi anak-anak usia balita, yakni Rumah Ramah Anak Busaina Lampung.
Budi Hidayat selalu Kepala Yayasan Busaina Lampung mengatakan bahwa dirinya tergugah dengan nasib anak-anak, khususnya yang ada di Provinsi Lampung, dalam artian anak-anak yang memang kurang beruntung dalam hal mendapatkan haknya untuk hidup dalam pengasuhan lingkungan keluarga seperti pada umumnya.
"Jadi rumah ramah anak ini suatu inovasi dan rehabilitasi, sebagaimana panti asuhan pada umumnya di dalamnya mengasuh anak-anak dewasa. Dimana anak-anak yang ada di panti asuhan ini berasal dari latar belakang dan riwayat yang berbeda-beda, ada yatim, piatu, dhuafa, ataupun anak-anak terlantar, ada yang dari korban kekerasan, pelecehan seksual, ada yang merupakan anak temuan, dan berasal dari berbagai daerah di Provinsi Lampung. Dan rumah ramah anak ini memberikan kenyamanan dan suasana kehidupan bukan seperti di panti asuhan, memberikan mindset seperti kehidupan keluarga di luar sana pada umumnya," jelas Budi saat ditemui Lampung Geh.
Budi dan istrinya Fatimah, dan juga dibantu oleh 10 pengurus lainnya berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan kehidupan yang nyaman, bukan hanya dari segi kehidupan sosial, melainkan juga dalam membangun karakter anak-anak secara emosional. Selain itu, tempat kamar tidur antara anak laki-laki dan perempuan tentunya dipisahkan, bukan hanya yang dewasa, tetapi yang balita pun juga dipisahkan antara laki-laki dan perempuan.
"Pola asuh terhadap anak-anak, terutama usia balita ini tidak bisa sembarangan, karena usia anak ini sangat cepat menyerap dan meniru apa yang orang dewasa lakukan dan katakan, yakni para pengurus di Rumah Ramah Anak Busaina Lampung. Jadi yang kita tekankan di sini, baik saya maupun pengurus lainnya harus memberikan contoh, misalkan dalam segi bahasa tidak boleh terlalu vulgar atau sembarangan bicara, dimana aturan ini kita tempel di dinding supaya diperhatikan," tambah Budi.
Anak-anak di Rumah Ramah Anak Busaina setiap harinya memiliki rutinitas seperti anak-anak pada umumnya. "Pagi hari pastinya dibangunkan untuk ibadah salat Subuh, kemudian membereskan kamar bagi yang dewasa, mandi pagi dan membuat sarapan, kemudian ada senam bersama. Lalu mereka ada tidur siang sampai sebelum Ashar, sore harinya mempersiapkan aktivitas untuk mengaji dan belajar," tutur Budi.
Adapun kegiatan tambahan, sebagai kegiatan kreativitas, Yayasan Busaina Lampung juga membuat produk tatakan kue hasil karya anak-anak. Dan produk tersebut telah dipesan oleh beberapa toko roti ataupun kue yang ada di Bandar Lampung. Tatakan kue tersebut terdiri dari berbagai macam ukuran, mulai dari yang kecil, sedang dan besar. Bahan baku tatakan kue diperoleh Budi dari perusahaan triplek di Lampung Tengah, kemudian dipotong sesuai ukuran, dan dilapisi alumunium foil.
Fasilitas yang ada di rumah anak seperti, kamar tidur yang nyaman dan bersih serta dilengkapi pendingin ruangan, ruang bermain dan menonton TV bersama, halaman bermain, serta aula untuk kegiatan-kegiatan bersama. Namun, menurut Budi, Rumah Ramah Anak di bawah asuhannya masih perlu beberapa fasilitas pendukung seperti fasilitas bermain anak, fasilitas kesehatan seperti klinik dan mobil ambulans sendiri.
"Sebenarnya ini masih sangat kurang kalau merujuk pada pengasuhan anak yang layak. Seperti alat bermain anak, tempat bermain, klinik kesehatan dan transportasi. Namun di balik itu, fasilitas seperti tempat tidur, kamar mandi, dan ruang bermain terjaga kenyamanan dan kebersihannya. Setiap kamar bayi dilengkapi dengan pelindung dan pendingin ruangan agar mereka nyaman istirahat dan tidur," terang Budi.
Mengasuh anak-anak dari berbagai latar belakang dan riwayat tentunya membutuhkan komitmen dan niat yang tulus. Dalam hal ini, Budi beserta istri menjadikan ini sebagai amanah dari Allah, bahwa dirinya sudah digariskan untuk menerima amanah dan merawatnya. Sedangkan di sisi lain, Budi juga memiliki 6 orang anak kandung, yang dalam kehidupan mereka membaur bersama anak-anak lain yang ada di Rumah Ramah Anak Busaina Lampung.
"Saya dan istri menyadari benar ini amanah. Jadi kalau ada yang memberikan bayi kepada saya, ya diterima dulu. Bagaimana nanti, Allah pasti sudah beri jalan, rezeki anak-anak ini Allah yang jamin, saya hanya menerima dan merawat sebaik-baiknya. Sebisa mungkin saya harus membagi waktu, menjadi sosok ayah bagi mereka, jadi sosok orang tua yang mereka butuhkan, mulai dari makan bersama mereka, bermain bersama mereka, dan tidur bersama mereka," ujar Budi.
Sejak anak-anak datang dan diserahkan kepada Yayasan Busaina Lampung, Budi mengatakan bahwa hak asuh sepenuhnya diserahkan padanya hingga anak tersebut dewasa. "Jadi dalam hal ini, anak-anak tidak bisa diganti-ganti pengasuhannya. Hak asuh anak ini diserahkan kepada saya dalam pernyataan hitam di atas putih. Supaya apa, karena jika yang mengasuh nanti berbeda-beda atau berganti-ganti akan menimbulkan ketidakstabilan untuk emosi si anak, yang akan berpengaruh pada perkembangan psikisnya," tambah Budi.
Yayasan Busaina Lampung tidak menerima orang tua yang akan mengadopsi anak-anak asuhnya. Budi mengaku, sebelumnya anak di bawah asuhannya diadopsi, namun nasib naas menimpa sang anak hingga akhirnya meninggal dunia.
"Itu jadi teguran buat saya, seakan-akan saya tidak yakin dengan ketetapan Allah. Saya yang diamanahkan, kenapa saya serahkan ke orang lain, maka sekarang saya menutup untuk adopsi anak," ucapnya.
Selain itu, anak-anak yang ada di Rumah Ramah Anak Busaina Lampung juga dipenuhi hak-hak sipilnya, yaitu tercatat dalam data kependudukan, memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Akta Kelahiran.
"Mereka semua masuk dalam kartu keluarga dan memiliki akta kelahiran, dimana ini sangat dibutuhkan bagi masa depan mereka dalam pendidikan dan lainnya. Dan tidak semua yayasan dapat memfasilitasi hal tersebut," lanjutnya.
Seperti ayah dan ibu pada umumnya, Budi dan istri merasakan suka duka dalam mengurus anak. Ditambah lagi, anak-anak di Rumah Ramah Anak Busaina Lampung berasal dari latar belakang yang berbeda, sehingga dalam mengasuhnya banyak cerita dari tiap-tiap anak.
"Dukanya, kalau kita dapati anak-anak yang memang tidak jelas asal-usulnya, waktu hamil hingga melahirkan tidak terpenuhi gizinya, biasanya sering rewel dan rentan sakit, itu dukanya. Tapi tetap kita rawat sebaik mungkin agar anak itu bertumbuh kembang dengan baik," kata Budi.
Dan sebagai sosok orang tua, Budi dan istri merasa bahagia bilamana anak dalam asuhanya bertumbuh kembang dengan baik, hingga mereka dapat menempuh pendidikan. "Karena dalam hal ini, kita memfasilitasi dan mendukung agar anak-anak kita dapat bersekolah, berhasil di masa depannya. Alhamdulillah untuk pendidikan anak-anak di Yayasan Busaina terpenuhi, hingga ada yang sedang berkuliah," lanjutnya.
Saat ini, Budi mengusahakan pemenuhuan kebutuhan anak-anak asuhnya dari donatur tidak tetap dan tidak terikat. Budi berharap, pemerintah lebih memperhatikan lagi kehidupan anak-anak, khususnya bagi pemerintah provinsi ataupun kabupaten kota.
"Khususnya untuk pemerintah Provinsi Lampung lebih peduli lagi terhadap anak-anak yang memang kurang beruntung, supaya pemerintah lebih perhatian. Mereka berhak mendapat masa depan yang layak, kehidupan yang layak, pendidikan dan kesehatan yang layak, dan dalam hal ini pemerintah turut hadir," harap Budi. (*)
