Menilik Wisuda Online dari Rumah Sasa Chalim, Mahasiswi Universitas Lampung

Lampung Geh, Bandar Lampung - Dalam suasana pandemi COVID-19 ini memaksa semua pihak untuk bekerja hingga belajar di rumah. Bahkan pagelaran wisuda yang biasanya meriah kini pun harus dilakukan secara online dari rumah.
Begitu pula yang dilakukan oleh, Nur Sazaro Tudhur (22) atau yang lebih akrab disapa, Sasa Chalim, wisudawati Universitas Lampung yang ikut serta dalam wisuda online dari rumah. Wanita muda Jurusan Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran ini sudah menyiapkan telah segala hal sejak pagi, mulai dari baju toga, meja, hingga laptop.
Laptop tersebut digunakan sebagai fasilitas layanan untuk bergabung ke video telekonferensi melalui aplikasi Zoom yang terhubung dengan Universitas Lampung. Tetapi layanan tersebut juga dapat diakses dengan menggunakan telepon genggam.
Pantauan Lampung Geh, wisuda online perdana yang digelar Universitas Lampung ini dimulai pukul 08.30 WIB yang diikuti oleh 1.591 peserta. Hanya 24 wisudawan terbaik yang melakukan wisuda secara langsung di gedung serba guna (GSG) Universitas Lampung.
Seperti pada umumnya, wisuda diawali dengan pembukaan sidang senat terbuka oleh rektor. Setelah seluruh prosesi selesai, hal yang menjadi sejarah adalah pemindahan tali topi toga yang seharusnya dilakukan oleh rektor atau dekan universitas. Tetapi karena wisuda digelar secara daring maka pemindahan tali tersebut dilakukan orang tua dari masing-masing wisudawan.
Sasa mengungkapkan jika wisuda online ini menjadi pengalaman paling berkesan dalam hidupnya. Hal itu lantaran momen bahagia ini tidak bisa dilakukan secara meriah bersama wisudawan lain.
"Kesannya seumur hidup baru kali ini ada wisuda online, ini bisa jadi untuk kenang-kenangan, bisa untuk diceritakan nanti kalau wisudanya berbeda dengan lainnya," ungkapnya saat ditemui Lampung Geh di kediamannya, Rabu (24/6).
Rasa sedih yang dirasakan oleh Sasa sudah menjadi suatu kewajaran, karena momen berharga wisuda yang selalu dinanti-nanti oleh setiap mahasiswa pupus begitu saja.
"Pasti sih (kurang meriah), kita kan suka hiporia di kampus pasti teman-teman yang lain bakal dateng dari fakultas. Kalau di rumah kan gak bisa, apa lagi pandemi saat ini sangat dibatasi," ucap Sasa.
"Ya agak kecewa sih kok kayak gini doang wisudanya, kita berjuang 3,5 tahun tapi wisudanya cuma kayak gini. Semalam juga sudah sedih banget, kenapa ya kok nasib aku gini banget. Karena angkatan 2016 itu dari SMA sudah kena imbas terus, dari UN 20 paket terus sekarang wisudanya kayak gini," imbuh dia.
Biasanya pagelaran wisuda Universitas Lampung yang diselenggarakan di GSG ini berlangsung meriah. Ditambah lagi adik-adik junior yang meramaikan suasana dengan menyambut wisudawan untuk diarak keliling kampus.
"Kalau di kampus itu biasanya rame banget, banyak karangan bunga, kan makin bikin seneng. Terus kita dari Fakultas Kedokteran itu ngerayain juga wisuda di fakultas masing-masing. Sekarang karena ada pandemi corona ini gak bisa gitu lagi, beda banget," terangnya.
Sebelum menyelenggarakan kegiatan wisuda ini, pihak kampus telah memberikan dua pilihan kepada setiap calon wisudawan yaitu wisuda daring atau wisuda normal. Tetapi Sasa memilih wisuda daring agar segera menyelesaikan masa kuliahnya.
"Aku dan teman-teman pilihnya wisuda online karena kita akan wisuda profesi juga, jadi nanti dua kali wisudanya. Lebih mending wisuda online aja biar cepet kelarnya urusan kampus dan next ke hidup baru," urai dia.
Meski demikian dirinya tetap bersyukur meski menjalani wisuda dari rumah. Sasa pun berpesan kepada adik tingkatnya untuk tetap bersemangat kuliah di masa-masa pandemi ini.
"Banyak juga hikmah yang kita dapatkan di sini, kita bisa kumpul dengan orang tua, gak perlu jauh-jauh untuk wisuda, dan lebih khusyuk. Pesannya kepada adik-adik tingkat aku, naudzubillah min dzalik ini wisuda daring akan terus berlanjut tetap semangat," pungkasnya.
Sementara itu, Kholisoh (50), sang ibu juga terungkap rasa kesedihan lantaran anak bungsunya di wisuda dengan cara yang berbeda dari sang kakak.
"Rasanya agak sedih juga, anak muda biasanya bisa merayakan keberhasilannya selama belajar sekian lama itu dan perjuangan yang gak segampang itu, ternyata yang dirasakan hanya begini," ucapnya.
Namun ia juga tetap merasakan kebahagiaan telah berhasil mengentaskan Sasa dengan menyandang Sarjana Kedoteran di Universitas Lampung.
"Turut bahagia karena sebagai orang tua melihat anaknya belajar sampai tengah malam, saat ini sudah selesai. Bersyukur sekali, gak kecewa dengan keadaan, ini ujian Allah yang memberikan ujian ini," papar dia.
Setelah resmi mendapat gelar barunya, Kholisoh berharap agar anaknya bisa menjadi orang yang sukses dan bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya.
"Seperti yang sudah-sudah saya nasihati, kamu cari ilmu bukan hanya untuk sendiri, tapi berbagilah jika punya ilmu kepada siapa pun yang membutuhkan ilmu. Kalau bisa untuk menolong, ya untuk menolong. Jadi saya amanah begitu," harapnya.(*)
