Kumparan Logo
Konten Media Partner

Menteri Wihaji Tinjau MBG dan Program Cegah Stunting di Lampung Tengah

Lampung Gehverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), Wihaji saat memberikan bantuan. | Foto: Sinta Yuliana/Lampung Geh
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), Wihaji saat memberikan bantuan. | Foto: Sinta Yuliana/Lampung Geh

Lampung Geh, Lampung Tengah - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Kepala BKKBN RI, Wihaji, meninjau proses distribusi bantuan Makanan Bergizi (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Peninjauan itu dilaksanakan di SPPG Poncowarno 2 Kecamatan Kalirejo, Kabupaten Lampung Tengah pada Rabu (24/9).

Dalam kunjungannya, Wihaji mengatakan bahwa total 3.600 paket MBG yang tersedia, sebanyak 336 paket diperuntukkan bagi ibu menyusui dan balita non-PAUD.

"Karena itu perintah bapak Presiden, saya selaku pembantu Presiden, mendistribusikan melalui TPK (Tim Pendamping Keluarga). Ini disini ada 336 dari SPPG," katanya.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), Wihaji saat memberikan bantuan. | Foto: Sinta Yuliana/Lampung Geh

Wihaji juga memastikan menu makanan bergizi yang diberikan kepada penerima manfaat. Ia menekankan pentingnya menyesuaikan jenis bantuan dengan kebutuhan gizi setiap kelompok.

"Saya pastikan menunya seperti apa, kemudian kalau kering seperti apa, tadi saya bawa contoh, ada yang khusus bayi, ada yang anak sekolah, ada yang bumil. Itu lain-lain untuk kita pastikan jangan sampai nanti sama. karena kebutuhan dari gizi mereka beda-beda," ucapnya.

Selain menyalurkan MBG, Kemendukbangga juga menggerakkan Program Genting (gerakan orang tua asuh cegah stunting) di Lampung Tengah.

Ia menyebutkan, prevalensi stunting di Lampung berada di angka 15 persen, lebih rendah dari rata-rata nasional 19,8 persen.

"Kebetulan Lampung Tengah sudah lumayan dibawah rata-rata kalau prevalensi stunting Indonesia 19,8%, di Lampung Tengah, dibawah itu 15%," ujarnya.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), Wihaji saat memberikan bantuan. | Foto: Sinta Yuliana/Lampung Geh

Menurut Wihaji, penanganan stunting disebabkan dua faktor yakni gizi dan non-gizi. Unsur non-gizi mencakup sanitasi, air bersih, serta keberadaan MCK.

"Stunting itu penyebabnya ada tiga, ada nutrisi dan non-nutrisi. Yang non-nutrisinya itu air bersih, sanitasi, dan MCK. Dan sebagainya, salah satunya juga nutrisi. Nutrisi ini kita sudah tadi bantu 200 warga untuk selama 6 bulan ke depan. Untuk non-nutrisi, kita bantu rumah layak huni tiga unit dan MCK lima unit,” ungkapnya.

Di kesempatan yang sama, Wihaji juga meninjau langsung kondisi Keluarga Risiko Stunting (KRS) di Lampung Tengah. Termasuk memberikan bantuan nutrisi serta memperbaiki kondisi rumah tidak layak huni.

"Kami ingin penanganan stunting ini menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat. Intinya gotong royong semua pihak," pungkasnya. (Yul/Ansa)