Kumparan Logo
Konten Media Partner

Polemik Maskot Pilkada, Tokoh Adat Desak KPU Bandar Lampung Minta Maaf

Lampung Gehverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
R. Berlian Marga, S.H atau yang bergelar Panglima Elang Berantai Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung | Foto : Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
R. Berlian Marga, S.H atau yang bergelar Panglima Elang Berantai Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung | Foto : Istimewa

Lampung Geh, Bandar Lampung - Sejumlah tokoh adat bereaksi soal Maskot Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 yang diluncurkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bandar Lampung, pada (19/5) lalu.

Tampak dalam Maskot ikon Pilkada 2024 Bandar Lampung itu memuat karakter hewan Kera yang mengenakan pakaian adat Lampung dari atas hingga bawah.

Hal tersebut memicu respons negatif dari para tokoh adat Lampung, salah satunya R. Berlian Marga, S.H atau yang bergelar Panglima Elang Berantai salah satu Panglima Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung.

"Monyet dipakaikan pakaian adat Lampung itu merupakan pelecehan terhadap orang Lampung, kami siap turun dan bertemu dengan ketua KPU bandar lampung, guna membela marwah adat istiadat yang mulia ke Kota Bandar lampung," tuturnya pada Lampung Geh, Senin (20/5).

Menurut Panglima Elang Berantai, KPU Bandar Lampung kurang selektif dalam memilih maskot ikon Pilkada 2024 Bandar Lampung yang jauh dari unsur-unsur adat dan Piil Pesenggikhi orang Lampung.

"Seharusnya ketika saudara mempunyai jabatan, manfaatkan dengan baik dan kembangkan adat istiadat lokal yang membangun marwah Lampung, sejahterakan masyarakat, didik para generasi mudanya dengan nilai-nilai yang mulia," paparnya.

Beliau juga menambahkan, ketidaktahuan para pemangku jabatan soal nilai-nilai adat serta kebudayaan seharusnya jangan enggan bertanya kepada para tokoh-tokoh adat Lampung.

"Jika saudara tak paham, tanyakan kepada masyarakat adat, tokoh, lembaga adat suku lampung Dan KPU Kota Bandar Lampung harus minta maaf kepada para penyimbang dan masyarakat adat se-Lampung," pungkasnya. (Al/Put)