Kumparan Logo
Konten Media Partner

Pratama Sempat Dibopong Karena Kelelahan saat Diksar Mahepel Unila

Lampung Gehverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila). | Foto: Sinta Yuliana/Lampung Geh
zoom-in-whitePerbesar
Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila). | Foto: Sinta Yuliana/Lampung Geh

Lampung Geh, Bandar Lampung - Universitas Lampung mengungkapkan, Pratama Wijaya Kusuma sempat dibopong saat Pendidikan Dasar (Diksar) Mahasiswa Ekonomi Pencinta Lingkungan (Mahepel), Rabu (18/6).

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Tim Investigasi, Prof Novita Tresiana. Ia mengatakan hasil investigasi terdapat 6 fase atau pos, dimana ditemukan kelalaian panitia.

"Seperti roundown yang diberikan oleh fakultas berbeda dengan yang terjadi. Dan itu kami sudah verifikasi terhadap para peserta. Lalu didalamnya sudah ada kepanitiaan yang membawahi terkait medis, namun faktanya tidak ada yang mengelola," katanya.

Novita melanjutkan, pada fase keberangkatan, para peserta tidak langsung ke lokasi. Namun, berhenti dulu di salah satu desa dan berjalan 5 jam.

"Dari desa ke kebun sekitar 5 jam baru besoknya masuk ke lokasi hutan. Ini pun sudah keluar dari RDT yang diberikan ke kita. Dikebangkatan ini sebenarnya almarhum sudah mulai menandakan titik kelelahan dan proses perjalanan sudah di bopong, disini sebenarnya idealnya ada opsi harusnya untuk almarhum keluar dari kegiatan ini dan ini yang tidak diberikan oleh panitia jadi tetap diminta untuk terus berjalan, namun berjalan sambil membopong almarhum," ucapnya.

Kemudian pada pelaksanaan lapangan, terdapat beberapa aktivitas namun tidak begitu ekstrim seperti push up 25 kali. Lalu, puncaknya di fase jurit malam yang dilakukan pada dini hari.

"Total ada 6 pos yang berbeda mungkin yang agak ekstrim di 5 dan 6. Pos 5 ada pos mental kemudian pos 6 keakraban. Meski namanya keakraban dengan happy mereka suruh merangkak tapi kondisi kesehatan kurang baik maka itu semakin memburuk kesehatan almarhum," ungkapnya.

Selanjutnya fase kepulangan, para peserta dijemput oleh keluarganya. Kemudian, keluarga mengetahui kondisi para peserta Diksar Mahepel.

"Lalu fase pelaporan dan responstitusi, untuk pelaporan sebenarnya sebagaimana diketahui pada Desember ada respon dari FEB tapi bukan terkait almarhum tapi korban lain fariz, baru 5 bulan kemudian diketahui almarhum meninggal," ujarnya.

"Jadi kalau kekerasan tidak hanya fisik tapi juga tidak ada opsi untuk keluar saat perjalanan itu sudah dimulai kekerasan secara psikis. Melihatnya dari aspek perjalanan melihat kebelakang," pungkasnya. (Yul)