Kumparan Logo
Konten Media Partner

Puluhan Pekerja Pasar Malam asal Cilegon Sudah 2 Bulan Terjebak di Lampung

Lampung Gehverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rombongan Pasar Malam Arista Jaya yang terpaksa bertempat tinggal di emperan ruko belakang Bursa Mobil Bekas yang berlokasi di Jalan Pangeran Tirtayasa, Sukabumi Indah, Kota Bandar Lampung, Selasa (5/5) | Foto: Syahwa Roza Hariqo/Lampung Geh
zoom-in-whitePerbesar
Rombongan Pasar Malam Arista Jaya yang terpaksa bertempat tinggal di emperan ruko belakang Bursa Mobil Bekas yang berlokasi di Jalan Pangeran Tirtayasa, Sukabumi Indah, Kota Bandar Lampung, Selasa (5/5) | Foto: Syahwa Roza Hariqo/Lampung Geh

Lampung Geh, Bandar Lampung - Rombongan Pasar Malam Arista Jaya terpaksa bertempat tinggal di emperan ruko belakang Bursa Mobil Bekas yang berlokasi di Jalan Pangeran Tirtayasa, Sukabumi Indah, Kota Bandar Lampung selama dua bulan terakhir.

Hal itu bukan tanpa alasan, setelah ditutupnya Pelabuhan Bakauheni atas larangan mudik lebaran Idul Fitri tahun 2020 karena pandemi virus corona atau COVID-19, para rombongan pasar malam ini tak bisa kembali ke rumah asalnya di Cilegon, Banten.

Mamik (50), salah satu pengurus Pasar Malam Arista Jaya, mengatakan bahwa ia bersama 19 orang temannya terpaksa bertempat tinggal di lokasi ini lantaran Pelabuhan Bakauheni ditutup sementara waktu oleh pemerintah.

Mamik (kanan), salah satu pengurus Pasar Malam Arista Jaya saat diwawancarai Lampung Geh, Selasa (5/5) | Foto: Syahwa Roza Hariqo/Lampung Geh

"Sudah dua bulan lebih (kami di sini), kami pertama datang dari Cilegon langsung maen di sini, terjebaklah kami di sini," katanya saat ditemui Lampung Geh, Selasa (5/5).

Saat tiba pada bulan Maret lalu, rombongan Pasar Malam Arista Jaya langsung membuka hiburan malam ini di lokasi tersebut. Namun baru dua hari berlangsung, ada larangan dari pemerintah setempat untuk menyetop kegiatan pasar malam dengan alasan antisipasi penyebaran COVID-19.

"Waktu itu baru mau buka dua hari, mulai ramai. Karena corona langsung tutup, terpaksa kita tutup, gak bisa kita melawan pemerintah," kata dia.

Dengan kondisi seperti ini, mengalami kerugian sudah pasti. Namun mau gimana lagi, situasi yang tak memungkinkan membuatnya berpasrah diri.

"Itu ruginya, belum izin segala macam karena gak cukup dari Kelurahan aja, Koramil, Polsek, Polres, Lingkungan, belum sewa lokasi. Rencananya kita buat lebaran disini, tapi karena corona (jadi seperti ini). Alat sudah di cat semua, karena gini ya gimana," ucapnya lirih.

Ketika pasar malam ramai pengunjung, Mamik biasa mendapatkan penghasilan hingga Rp5 juta dalam satu malam saja. Tetapi dengan kondisi ini, pemasukan tersebut tak ada lagi.

"Pendapatnya kita biasanya tiap malam, itu 25 persen ke karyawan, 75 persen ke bos, bos juga pengeluarannya banyak. Kalau lagi ramai, Rp 5 juta dapat, cuman lagi apesnya kalau musim hujan aja," jelas dia.

Beberapa alat pasar malam yang tersusun dengan tertutup terpal agar terhindar dari air hujan, Selasa (5/5) | Foto: Syahwa Roza Hariqo/Lampung Geh

Rombongan ini biasa bergerak dari satu kota ke kota lainnya untuk membuka pasar malam tersebut. "Kalau kami wilayahnya di Lampung saja, paling ke Natar, Pringsewu, Gedongtataan," ujar Mamik.

Pria yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia pasar malam ini, terpaksa menghentikan sementara aktivitas pekerjaan utamanya di mana merupakan penghasilan satu-satunya. Kondisi tersebut diperparah lagi dengan kondisi ekonominya yang semakin terpuruk. Saat ini ia dan rombongan hanya bisa mengandalkan kiriman uang dari pemilik pasar malam.

"Kami sebisanya (hidup), untung bosnya tanggung jawab ala kadarnya cuman dikasih Rp 200 ribu sehari buat makan aja. Terpaksa kami olah Rp 200 ribu itu dibuat untuk masak aja, ya beli lauknya ikan asin sayurnya pakai sayur asem. Di sini kurang lebih ada 20 orang," papar dia.

Untuk berbelanja, istrinya yang menjadi juru masak di tempat tinggal sementara itu terpaksa meminjam motor petugas keamanan setempat untuk berbelanja kebutuhan pokok tersebut.

"Kalau belanja motornya pinjam satpam, kalau mau ngojek ya biaya lagi. Mana cukup uangnya," ucapnya.

Jika sekadar berkabar dengan keluarganya yang di Cilegon, Mamik hanya mengandalkan handphone yang ia pegang. Beruntung sang istri ikut bersamanya sehingga bisa masak untuk kebutuhan makan sehari-hari.

"Keluarga tinggal kita lewat telepon saja, gimana lagi. Sabar-sabar saja entah sampai kapan, anak-anak di Cilegon," ungkapnya.

Beberapa alat pasar malam yang tersusun dengan tertutup terpal agar terhindar dari air hujan, Selasa (5/5) | Foto: Syahwa Roza Hariqo/Lampung Geh

Sehari-hari rombongan ini hanya bisa berduduk sembari menunggu kejelasan kapan Pelabuhan Bakauheni Lampung dibuka kembali untuk umum agar bisa kembali ke rumah.

"Keseharian kita gini-gini aja pagi nunggu sore, kontrol-tunggu aja. Makan tidur sambil tunggu barang," jelas dia.

Pihaknya pun tetap harus membayar sewa lokasi yang ditinggalinya ini, namun penyewaan sudah seluruhnya di-cover oleh pemilik Arista Jaya sehingga ia dan rombongan tidak terlalu memikirkan hal itu.

"Kami sewa di sini, itu bosnya yang urus kami terima beres saja. Bosnya orang Cilegon. Kalau mandi tidur ya disini aja, tidur ya ada yang di kursi, di dalam (ruko). Asal jangan kehujanan aja," terangnya.

Mamik dan rombongan saat ini hanya bisa bergantung dengan pemilik pasar malam dan bantuan para dermawan yang memberinya.

"Ya alhamdulillah, kemarin dapat bantuan beras sama mi dari media," pungkasnya.(*)

***

kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!