Kumparan Logo
Konten Media Partner

Tol Lampung Beroperasi, Begini Nasib Pedagang Oleh-Oleh di Baypass

Lampung Gehverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Toko oleh-oleh yang berderet, sepanjang Jalan Bypass Soekarno-Hatta di daerah Kecamatan Panjang yang tampak lengang oleh aktivitas jual-beli, Selasa (26/3) | foto: Latifah Desti Lustikasari/Lampung Geh
zoom-in-whitePerbesar
Toko oleh-oleh yang berderet, sepanjang Jalan Bypass Soekarno-Hatta di daerah Kecamatan Panjang yang tampak lengang oleh aktivitas jual-beli, Selasa (26/3) | foto: Latifah Desti Lustikasari/Lampung Geh

Lampung Geh, Bandar Lampung - Para pedagang oleh-oleh khas Lampung di Jalan Bypass Soekarno-Hatta, terdampak paling nyata oleh pengoprasian Jalan Tol Trans Sumatera (JTSS) ruas Bakauheni-Terbanggi Besar.

Jika berkendara menyusuri sepanjang jalan nasional Bypass Soekarno-Hatta dari Bandar Lampung menuju Bakauheni atau sebaliknya, para pengguna jalan pasti sudah tidak asing lagi dengan deretan toko oleh-oleh di beberapa titik lokasi.

Sebut saja di daerah Karang Maritim, Kecamatan Panjang sebagai salah satunya. Jika dari arah Bandar Lampung, lokasinya tepat sebelum habis jalur dua Bypass. Di sana terdapat sekitar 20-an toko yang menjajakan aneka oleh-oleh Lampung.

Jika musim mudik atau liburan tiba, akan banyak dijumpai kendaraan pribadi maupun bus pariwisata yang berhenti di bahu jalan untuk sekadar membeli oleh-oleh seperti kerupuk ikan, kemplang hingga keripik pisang aneka rasa yang sudah terkenal sebagai jajanan khas Lampung.

Pusat oleh-oleh serupa yang semakin ke arah Bakauheni semakin banyak jumlahnya, semakin terasa khasnya dengan kehadiran pernak-pernik aneka rupa berbahan kerang yang kompak digantungkan pada langit-langit hampir semua toko.

Hiasan kerang yang bergantungan di salah satu toko yang sedang tutup | foto: Latifah Desti Lustikasari/Lampung Geh

Saat tertiup angin, hiasan kerang itu akan mengeluarkan nada merdu, yang akhir-akhir ini mungkin berbalik terdengar sendu bagi para penjualnya.

Ini akibat dari menurunnya pembeli si empunya toko sekaligus pengguna Jalan Bypass sebagai bagian dari dampak langsung adanya Jalan Tol Lampung.

Dua pekan pasca diresmikan Jalan Tol Lampung pada Jumat (8/3) lalu memang volume kendaraan yang melewati Jalan Bypass ini relatif lebih sepi dari hari-hari sebelum JTTS ruas Bakauheni-Terbanggi Besar itu dioperasikan.

Keberadaannya yang mampu memangkas perjalanan Bandar Lampung-Bakauheni yang semula ditempuh hingga 3 jam, kini dapat ditempuh dengan estimasi waktu tidak lebih dari 1 jam lamanya.

Kemajuan ini, seolah kompak dengan kondisi jalan di Bypass Soekarno-Hatta yang saat ini amat mengkhawatirkan dengan banyaknya lubang yang tersebar di berbagai lokasi.

Para pengguna jalan yang seyogyanya mengharapkan perjalanan cepat dengan kondisi infrastruktur memadai, tentu lebih memilih melalui jalan tol dan meninggalkan rute lama via Bypass Soekarno-Hatta.

Maka tidak heran jika volume kendaraan yang melalui Bypass Soekarno-Hatta saat ini turun drastis. Penurunan ini yang kemudian berbanding lurus dengan pendapatan para penjual oleh-oleh khas Lampung.

Kondisi jalan di depan pusat oleh-oleh yang tampak lengang dari lalu lalang kendaraan | foto: Latifah Desti Lustikasari/Lampung Geh

Indah (40), salah satu pemilik toko oleh-oleh di daerah Karang Maritim bertutur, "kalau dulu, apa lagi pas musim mudik, banyak banget mobil yang berhenti buat beli oleh-oleh. Sampai macet. Kalau sekarang boro-boro, jangankan hari ini, seminggu ini aja sama sekali gak ada yang beli. Sepi," keluhnya kepada reporter Lampung Geh pada Selasa (26/3).

Padahal Indah menggantungkan biaya dan keperluan sekolah anak-anaknya dari hasil penjualan toko yang hanya menjual oleh-oleh saja, sejak delapan tahun silam.

Ia mengenang, jika dahulu tokonya dapat menjual oleh-oleh tidak kurang dari lima ratus ribu perhari, bisa berkali lipat jika musim mudik dan libur nasional. Namun saat ini, tokonya lebih sering tidak berhasil menjual apapun dalam sehari.

Lain Indah lain pula Lestari (50), pedagang yang sudah berjualan sejak belasan tahun silam itu merasakan dampak sepi pembeli sejak akhir tahun 2018 silam.

"Pokoknya mulai sepi itu pas ada tsunami. Sekitar bulan desember, libur natal dan tahun baru biasanya ramai, ini bener-bener sepi yang lewat, beda jauh sama tahun sebelumnya. Mungkin pada takut."

Lestari sendiri tidak hanya menyediakan oleh-oleh khas saja di tokonya, namun juga barang kebutuhan lain yang umumnya dijual toko kelontong. Ia menambahkan saat ini pembeli tokonya hanya sebatas warga setempat yang memenuhi kebutuhan harian, bukan lagi dari kalangan pengguna jalan yang melintas.

Lestari mengaku setiap harinya ia biasa membuka toko sejak pagi hingga semampunya ia dan suami terjaga, "ya bisa sampai malem jam 12, sampai subuh juga pernah. Tapi sekarang percuma, gak ada yang beli juga, Sabtu-Minggu kemarin aja toko saya tutup," pungkasnya.

Para penjual oleh-oleh di Jalan Bypass Soekarno-Hatta yang didominasi oleh kaum ibu rumah tangga, memang umumnya penduduk sekitar yang tinggal di belakang rukonya.

Mengurus rumah sembari menjaga toko sebagai pemasukan tambahan, namun ada pula yang memang khusus menggantungkan hidup dari berjualan oleh-oleh.

"Ya kalau misalnya dipindahkan, ke tempat yang deket pintu tol, susah juga. Rumah jauh di sini siapa yang mengurusi. Serba salah," ujar Lestari.

Sementara Indah, menutup bincang-bincang bersama Lampung Geh dengan berujar, "untuk saat ini ya paling mengurangi stok aja. Ini beberapa kemplang yang expired nanti diambil pemiliknya. Buka aja sekadarnya, alhamdulillah rumah dan tanah sendiri, jadi tidak nambah beban biaya sewa," katanya.

---

Laporan reporter Lampung Geh Latifah Desti Lustikasari

Editor : M Adita Putra