Unila Masuk 10 Besar Perguruan Tinggi Nasional Versi Scimago Institution Ranking

Lampung Geh, Bandar Lampung - Universitas Lampung (Unila) berhasil menempati posisi 10 perguruan tinggi teratas nasional versi Scimago Institution Ranking, Senin (26/4).
Sebelumnya, Unila juga meraih pengakuan dari lembaga pemeringkatan internasional, yakni 14 besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia dan 601-800 tingkat dunia versi Times Higher Education (THE) Impact Ranking.
Pencapaian terbaru kali ini Unila berada di posisi 10 perguruan tinggi teratas nasional dan 715 tingkat dunia versi Scimago Institution Ranking.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja sama, dan TIK Unila Prof. Ir. Suharso mengatakan, Scimago Institution Ranking merupakan lembaga pemeringkatan asal Spanyol yang memberi penilaian kepada universitas dan institusi riset dunia.
Penilaian Scimago Institution Ranking melihat pada tiga aspek yaitu riset, inovasi, dan sosial suatu perguruan tinggi atau lembaga riset.
“Scimago erat kaitannya dengan scopus, jadi lembaga ini melakukan perankingan jurnal mulai dari Q1, Q2, Q3, dan Q4, kemudian menilai riset, inovasi, dan sosial dari suatu perguruan tinggi,” ujar Suharso.
Suharso menjelaskan, berdasarkan penilaian Scimago Ranking, Unila memiliki penelitian berkualitas dengan masuk kategori quarter-1 (Q1) yaitu 25 teratas dari 61 perguruan tinggi di Indonesia yang masuk dalam Scimago Ranking.
“Meski secara jumlah, penelitian Unila tidak sebanyak perguruan tinggi yang di atas Unila, tapi kualitas penelitian dan nilai dampaknya besar untuk kemajuan pengetahuan dan sosial masyarakat. Ini menjadi surprise bagi dosen Unila dan cukup membanggakan,” jelas Suharso.
Secara keseluruhan Unila mendapatkan nilai rata-rata 49%, untuk riset 15%, inovasi 98% dan sosial 62%. “Jadi, semakin kecil persentasenya, semakin bagus nilainya dan semakin tinggi rankingnya,” kata Suharso.
Sementara itu, Scimago Ranking menempatkan Universitas Indonesia (UI) di posisi pertama dengan nilai rata-rata 32%, inovasi 87%, riset 11%, dan sosial 15%.
Menurut Suharso, sudah dua lembaga dunia yang mengakui kualitas perguruan tinggi Unila. Sebelumnya THE Impact Ranking yang menempatkan Unila pada posisi 14 besar nasional dan posisi 601-800 tingkat dunia.
“THE Impact Ranking ini penilaiannya lebih luas lagi ada aspek riset, pengajaran, penelitian, dan pengelolaan yang berkaitan dengan 17 indikator tujuan SDGs,” kata Suharso.
Bahkan, menurutnya perankingan oleh Times Higher Education ini paling diakui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud.
“Times Higher Education ini merupakan lembaga bereputasi di UK-Inggris, dan kriteria penilaiannya hampir mirip dengan klasterisasi perguruan tinggi,” ujar Suharso.
Atas perolehan dua prestasi oleh lembaga internasional ini, Suharso berharap dapat memacu semangat para dosen Unila untuk melakukan penelitian dan menerbitkan publikasi di jurnal nasional maupun internasional. Dan untuk memacu semangat dosen melakukan penelitian, lanjut Suharso, dia mengusulkan penambahan anggaran penelitian dosen yang tahun lalu sekitar Rp 28 miliar menjadi Rp 32,5 miliar.
“Tahun ini saya meminta tambahan dana penelitian dosen sekitar Rp 4,5 miliar karena dengan dana penelitian tahun lalu Rp 28 miliar itu baru bisa mencakup penelitian 500 dosen. Saya ingin bagaimana separuh dosen dari total dosen Unila sekitar 1.400 orang ini bisa melakukan penelitian. Untuk itu tahun ini saya minta tambahan anggaran penelitian dosen,” pungkasnya. (**)
