Kumparan Logo
Konten Media Partner

Upaya Kembalikan Kejayaan Lada Lampung yang Kini Disebut Hampir Punah

Lampung Gehverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi petani memetik biji lada. | Foto: ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi petani memetik biji lada. | Foto: ANTARA FOTO

Lampung Geh, Bandar Lampung - Produksi komoditas perkebunan yakni lada disebut hampir punah di Provinsi Lampung. Saat ini, Pemerintah Provinsi Lampung dan pihak-pihak terkait tengah berjuang untuk mengembalikan kejayaan lada Lampung.

Persoalan di tingkat petani hingga harga lada yang rendah menjadi salah satu penyebab produktivitas lada di Lampung cenderung menurun dan banyak petani beralih dari menanam lada mengkonversi lahannya menjadi tanaman lain.

Data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Lampung, tahun 2022 ada sebanyak 16 hektare lahan tanaman lada mengalami konversi lahan menjadi kebun jagung hingga kakao.

Bagi sebagian petani, komoditas lain seperti jagung, singkong dan kakao dianggap lebih menguntungkan karena pemeliharaannya lebih praktis dan harga lebih baik jika dibandingkan dengan lada.

Gubernur Lampung Arinal Djunaidi mengatakan, pihaknya saat ini tengah mengupayakan agar lada Lampung kembali berjaya. Kepedulian semua pihak juga dirasa penting agar persoalan lada Lampung ini bisa ditangani dengan baik.

"Beberapa tahun yang lalu lada kita hampir punah. Kepedulian pemerintah, perguruan tinggi, pengusaha yang bergerak di bidang lada kurang meresponi," kata Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi dalam kegiatan pembahasan lada Lampung, Kamis (23/2).

Pemprov Lampung dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung membahas mengembalikan kejayaan lada Lampung. | Foto : Galih Prihantoro/ Lampung Geh

Oleh karena itu, pada momen pembahasan meningkatkan kembali kejayaan lada Lampung, Arinal meminta semua pihak agar memberikan gagasan serta masukan sehingga menghasilkan suatu strategi dalam peningkatan produktivitas lada.

"Saya mohon bantuannya kepada semua pihak, gagasan Bank Indonesia perwakilan Lampung dalam membahas persoalan lada ini memang diperlukan, karena tanah lada di Lampung ini ada, bahkan lagunya juga ada," jelas Arinal.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Eksportir Lada Indonesia (AELI) Lampung, Sumita menjelaskan, untuk mengembalikan kejayaan lada di Lampung diperlukan sinergi upaya bersama mulai dari hulu hingga ke hilir.

Oleh karenanya selain mencari solusi untuk meningkatkan produktivitas lada, diperlukan juga upaya inovasi untuk memasarkan produk turunan lada. Salah satunya dengan menggelar Festival Lada.

"Kalau soal ekspor sebenarnya tidak ada masalah, sejauh harga kita kompetitif dan barangnya ada. Yang jadi masalah itu karena produksi kita turun, jadi makanya kita mencari solusi untuk meningkatkan produktivitas lada ini," kata Sumita.

Ketua Asosiasi Eksportir Lada Indonesia (AELI) Lampung, Sumita saat diwawancarai. | Foto : Galih Prihantoro/ Lampung Geh

"Mudah-mudahan produktivitas bisa meningkat dan mengusulkan agar ada sebuah festival lada. Tetapi sebelum kita angkat di provinsi, di tiap kabupaten/kota kita adakan lomba kuliner seperti minuman turunan dari lada," imbuhnya.

Kegiatan pembahasan mengembalikan kejayaan lada Lampung ini merupakan gagasan dari Pemerintah Provinsi Lampung bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung dengan menghadirkan sejumlah narasumber. (*)