Konten dari Pengguna

Sebelum Mengenal SDGs, Anak Usia Dini Sudah Belajar Menjaga Bumi

Kayla wijayani

Kayla wijayani

Mahasiswi PGPAUD Universitas Negeri Yogyakarta

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kayla wijayani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebelum Mengenal SDGs, Anak Usia Dini Sudah Belajar Menjaga Bumi
zoom-in-whitePerbesar

Yogyakarta — Apa jadinya jika gagasan tentang pembangunan berkelanjutan diperkenalkan kepada anak-anak yang bahkan belum akrab dengan istilah Sustainable Development Goals (SDGs)?

Jawabannya mungkin tidak dimulai dari buku, presentasi, atau deretan angka 1 hingga 17. Ia bisa dimulai dari tanah yang disentuh tangan kecil, tanaman yang disiram setiap hari, permainan di halaman sekolah, atau kebiasaan sederhana untuk menunggu giliran.

Di TK Al Azhar 60 Early Years Programme Yogyakarta, nilai-nilai yang sejalan dengan SDGs diperkenalkan melalui pengalaman belajar yang dekat dengan keseharian anak. Konsep yang dalam pembicaraan orang dewasa terdengar besar dan kompleks tersebut diterjemahkan menjadi aktivitas yang dapat mereka lihat, rasakan, dan lakukan secara langsung.

Pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa pendidikan anak usia dini tidak hanya bertugas mengenalkan pengetahuan, tetapi juga membentuk kebiasaan dan karakter. Sebab, sebelum seorang anak memahami mengapa bumi harus dijaga, ia perlu terlebih dahulu memiliki pengalaman untuk mencintai lingkungan di sekitarnya.

Belajar Tidak Harus Selalu di Dalam Kelas

Salah satu bentuknya adalah kegiatan outdoor play yang dilakukan secara rutin setiap minggu. Anak-anak diberikan kesempatan untuk bermain dan beraktivitas di luar ruangan sebagai bagian dari pengalaman belajar mereka.

Kegiatan tersebut bukan sekadar cara untuk menghindarkan anak dari kejenuhan setelah beraktivitas di dalam kelas. Ruang terbuka memberikan kesempatan kepada mereka untuk bergerak lebih leluasa, mengeksplorasi lingkungan, berinteraksi dengan teman, sekaligus belajar melalui pengalaman yang tidak selalu dapat diperoleh di dalam ruangan.

Bagi anak usia dini, bermain dan belajar memang bukan dua hal yang selalu dapat dipisahkan. Ketika berlari, mereka mengembangkan kemampuan motorik. Ketika bermain bersama, mereka belajar berkomunikasi dan memahami aturan. Ketika menemukan sesuatu yang menarik di lingkungan sekitar, rasa ingin tahu mereka mendapatkan ruang untuk berkembang.

Dengan begitu, halaman sekolah tidak hanya menjadi tempat bermain. Ia dapat berubah menjadi ruang belajar yang lebih cair—tempat anak menemukan bahwa pengetahuan tidak selalu hadir dalam bentuk lembar kerja atau penjelasan guru.

“Sesekali, pengetahuan memang perlu keluar dari buku dan ikut berlari bersama anak-anak.”

Kegiatan outdoor play yang dilakukan secara konsisten juga menunjukkan bahwa memberikan ruang kepada anak untuk bergerak dan mengeksplorasi bukan berarti mengurangi waktu belajar. Justru, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri.

Dari Halaman Sekolah ke Alam

Pengalaman berinteraksi dengan lingkungan juga diperkuat melalui pemanfaatan Asram Edupark Natural Lab. Di ruang belajar yang lebih dekat dengan alam tersebut, anak-anak diperkenalkan pada ekosistem darat melalui pengalaman langsung.

Mereka dapat menanam, merawat tanaman, mengamati lingkungan, serta mengenal berbagai bentuk kehidupan yang berada di sekitar mereka. Aktivitas tersebut membuat konsep mengenai kepedulian terhadap lingkungan menjadi lebih konkret.

Anak mungkin belum memahami istilah “pelestarian ekosistem”. Namun, mereka dapat memahami bahwa tanaman yang ditanam perlu disiram. Mereka mungkin belum mengenal istilah “keanekaragaman hayati”, tetapi dapat belajar bahwa serangga, tumbuhan, dan manusia sama-sama menjadi bagian dari lingkungan yang perlu dihargai.

Di sinilah gagasan “membumikan” SDGs memperoleh maknanya. Konsep global diturunkan ke pengalaman lokal; sesuatu yang semula terdengar abstrak menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Apa yang sebelumnya hanya dapat dibicarakan, kini dapat disentuh.

Pendekatan semacam ini membuat lingkungan bukan hanya menjadi objek yang dipelajari, tetapi juga bagian dari pengalaman belajar itu sendiri. Anak tidak sekadar diberi tahu bahwa alam penting; mereka diberi kesempatan untuk mengalami hubungan dengan alam sejak dini.

Ketika Nilai Islam Bertemu dengan Keberlanjutan

Sering kali, kita membayangkan kemajuan sebagai sesuatu yang bergerak ke depan, sementara nilai-nilai agama dianggap sebagai sesuatu yang datang dari masa lalu. Keduanya seolah berada di dua arah yang berbeda. Namun, bagaimana jika yang perlu dipertanyakan bukan apakah agama dapat mengikuti kemajuan, melainkan untuk apa kemajuan itu dibangun sejak awal?

Pertanyaan tersebut menjadi menarik ketika ditempatkan dalam pendidikan anak usia dini. Sebab, jauh sebelum anak mengenal istilah SDGs, mereka telah diperkenalkan pada gagasan yang sangat dekat dengan kehidupan bersama: tidak mengambil hak orang lain, berbagi dengan sesama, menyelesaikan perselisihan secara damai, serta menjaga apa yang telah dititipkan.

Nilai-nilai tersebut memiliki titik temu dengan pendidikan karakter yang dikembangkan di TK Al Azhar 60 Early Years Programme melalui Kurikulum Pengembangan Pribadi Muslim. Anak-anak dibiasakan untuk mengantre, berbagi dengan teman tanpa membedakan, menghargai orang lain, serta belajar menyelesaikan konflik secara damai.

Hal-hal yang tampak sederhana tersebut sesungguhnya merupakan latihan sosial yang penting. Dari kebiasaan menunggu giliran, misalnya, anak belajar bahwa keinginannya bukan satu-satunya yang perlu dipertimbangkan. Dari berbagi, mereka belajar bahwa sesuatu yang dimiliki dapat menghadirkan kebaikan ketika diberikan kepada orang lain. Sementara melalui konflik-konflik kecil yang diselesaikan dengan pendampingan, anak mulai mengenal bahwa perbedaan tidak selalu harus berujung pada pertentangan.

Dalam konteks tersebut, kemajuan tidak selalu harus berarti meninggalkan nilai yang telah ada. Bisa jadi, kemajuan justru terjadi ketika nilai tersebut menemukan bentuk baru yang relevan dengan persoalan zaman. Nilai Islam tidak harus diposisikan berseberangan dengan gagasan tentang keberlanjutan; keduanya dapat bertemu ketika sama-sama berbicara tentang bagaimana manusia menggunakan pengetahuan dan kebebasannya tanpa merugikan kehidupan di sekitarnya.

Di titik inilah rahmatan lil ‘alamin dapat dikenalkan melalui pengalaman sehari-hari. Menjadi rahmat bagi seluruh alam tidak harus dimulai dari tindakan besar. Ia dapat tumbuh dari cara seorang anak memperlakukan teman, menghargai makhluk hidup, menjaga lingkungan, dan memahami bahwa dirinya hidup berdampingan dengan banyak kehidupan lain.

Menjadi rahmat bagi seluruh alam tidak harus dimulai dari tindakan besar.

Ia dapat tumbuh dari cara seorang anak memperlakukan teman, menghargai makhluk hidup, menjaga lingkungan, dan memahami bahwa dirinya hidup berdampingan dengan banyak kehidupan lain.

Bagi anak usia dini, lingkungan tempat mereka belajar merupakan bagian dari proses pendidikan itu sendiri. Mereka tidak hanya mendengar bagaimana seharusnya memperlakukan orang lain, tetapi juga mengamati bagaimana orang-orang di sekitarnya saling memperlakukan.

Di sinilah pendidikan karakter memiliki tantangannya sendiri. Mengajarkan anak untuk menghargai orang lain tentu penting, tetapi pengalaman tersebut akan menjadi lebih bermakna ketika mereka sendiri merasa dihargai. Mengajarkan empati juga bukan sekadar meminta anak memahami perasaan orang lain, melainkan memberi mereka ruang untuk mengenali dan menyampaikan perasaannya sendiri.

Sebab, ada perbedaan antara mengajarkan sebuah nilai dan menghadirkan nilai tersebut sebagai pengalaman. Anak dapat diminta menyelesaikan konflik dengan damai, tetapi mereka juga perlu melihat bahwa konflik dapat diselesaikan tanpa merendahkan. Mereka dapat diajarkan untuk mendengarkan, tetapi suara mereka pun perlu memiliki ruang untuk didengar.

“Barangkali, pendidikan karakter memiliki ujian paling sederhana: apakah anak hanya mampu mengucapkan nilai yang diajarkan, atau benar-benar merasakannya?”

Pada akhirnya, lingkungan pendidikan bukan hanya tempat nilai diajarkan, melainkan tempat nilai tersebut menemukan bentuknya dalam keseharian. Sebab sebelum meminta anak belajar menjadi rahmatan lil ‘alamin, ada pertanyaan yang tak kalah penting: sudahkah ruang tempat mereka tumbuh memberi mereka pengalaman tentang bagaimana rasanya diperlakukan dengan rahmat?

Pendidikan yang Memperhatikan Anak Secara Utuh

Upaya membangun generasi yang berkelanjutan juga tidak dapat dilepaskan dari kesehatan dan kesejahteraan anak. Karena itu, proses pendidikan di TK Al Azhar 60 Early Years Programme dirancang melalui pendekatan holistic full-day yang memperhatikan berbagai aspek perkembangan anak.

Aktivitas fisik seperti berenang memberikan ruang bagi perkembangan motorik. Penyediaan makanan sehat dan bergizi mendukung kebutuhan tubuh selama anak beraktivitas. Pembiasaan murojaah Al-Qur'an menjadi bagian dari perkembangan spiritual, sementara anak yang mengikuti program daycare mendapatkan waktu istirahat melalui tidur siang.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa proses belajar anak tidak hanya berlangsung ketika mereka menerima materi. Makan, bermain, bergerak, beristirahat, berinteraksi, hingga melakukan pembiasaan sehari-hari juga menjadi bagian dari pengalaman pendidikan.

Cara pandang ini penting karena anak bukan sekadar individu yang perlu dipersiapkan untuk mencapai target akademik. Mereka adalah manusia yang sedang bertumbuh secara fisik, sosial, emosional, intelektual, dan spiritual. Pendidikan yang berkualitas karenanya tidak hanya berbicara tentang seberapa banyak anak mengetahui sesuatu, tetapi juga tentang bagaimana mereka belajar memperlakukan dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungan di sekitarnya.

Menanam Kebiasaan, Menumbuhkan Perubahan

Anak-anak mungkin belum mampu menjelaskan 17 tujuan SDGs. Mereka juga belum perlu memahami seluruh kompleksitas perubahan iklim, ketimpangan sosial, ataupun pembangunan berkelanjutan.

Yang dapat mereka lakukan justru sesuatu yang lebih sederhana: menyiram tanaman, menjaga lingkungan, tidak membuang makanan, menunggu giliran, berbagi dengan teman, berdamai setelah berselisih, bergerak dan bermain, serta menjaga tubuh dengan makanan yang baik dan waktu istirahat yang cukup.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan besarnya persoalan dunia. Namun, perubahan pada akhirnya juga dibangun dari perilaku manusia yang dilakukan berulang kali. Karakter tidak terbentuk dalam satu hari; ia tumbuh dari kebiasaan yang terus dipelihara.

Karena itu, agents of change tidak selalu harus dibayangkan sebagai anak-anak yang kelak berdiri di atas panggung dengan pidato besar tentang masa depan bumi. Bisa jadi, mereka adalah anak-anak yang hari ini belajar bahwa tanaman harus dirawat, teman harus dihargai, dan lingkungan bukan sesuatu yang dapat diperlakukan sesuka hati.

Dari halaman sekolah, mereka belajar mengenal dunia. Dari permainan, mereka belajar hidup bersama. Dari tanah, mereka belajar tentang kehidupan. Dan dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah nilai keberlanjutan perlahan menemukan akarnya.

Pada akhirnya, membumikan SDGs sejak usia dini bukan berarti membebani anak dengan persoalan dunia yang terlalu besar untuk pundak mereka. Sebaliknya, ia berarti menerjemahkan gagasan besar tersebut ke dalam bahasa yang paling mereka kenali: bermain, mengalami, meniru, dan membiasakan diri.

Sebab masa depan tidak hanya dibentuk oleh apa yang kelak anak-anak ketahui, tetapi juga oleh apa yang sejak kecil mereka anggap sebagai sesuatu yang wajar untuk dilakukan.

“Mereka mungkin belum sedang menyelamatkan dunia. Tetapi mereka sedang belajar menjadi bagian dari dunia dengan cara yang lebih baik.”

Dan mungkin, di situlah makna rahmatan lil ‘alamin bertemu dengan cita-cita pembangunan berkelanjutan: mendidik manusia agar kehadirannya membawa kebaikan bagi dirinya, bagi sesama, dan bagi alam yang menjadi rumah bersama.