Konten dari Pengguna

34 Detik

Lana Alexis Wangsamulia

Lana Alexis Wangsamulia

Lana Alexis Wangsamulia, kelahiran Bandung 2009. Siswi SMA Trinitas Bandung. Menulis untuk menginspirasi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lana Alexis Wangsamulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Karya: Lana Alexis Wangsamulia

Aku sebenarnya sudah memutuskan untuk menolak tawaran itu. Lomba fisika? Di UNPAR? Aku kira temanku sedang bercanda. Ia memberikan tawaran seakan-akan kemampuan kami sudah diakui dunia, padahal kami bahkan jarang menyentuh rumus dengan benar. Namun saat aku hendak menjawab “tidak, terima kasih,” tiba-tiba ada yang menahan lidahku yang membuat mulutku berhenti. Desir lembut dari belakang kepala seperti bisikan yang bersuara “Ikut saja,”. Aneh, tapi aku secara tidak sadar menerima tawaran itu.

Pagi itu, UNPAR terasa seperti tempat suci bagi para jenius. Buku-buku tebal terbuka, laptop menyala, rubik berputar di jari-jari yang percaya diri. Sementara itu, aku dan kelompokku berjalan blak-blakan seperti wisatawan salah jadwal, seperti hilang arah, tapi tetap pura-pura yakin. Tidak ada bekal yang kami bawa untuk lomba ini, seakan-akan kami ke tempat ini hanya untuk melihat-lihat kampus, bukan untuk lomba. Suasana tegang ini sesekali diberhentikan oleh angin halus, seperti tangan yang memberi ketenangan. Ada sesuatu di udara, semacam pertanda. Mungkin ini adalah perasaan yang sangat halus hingga hanya orang putus asa yang bisa merasakannya.

Babak pertama dimulai. Serangkaian eksperimen dilakukan dan kami harus menjawab pertanyaan yang diberikan berdasarkan eksperimen tersebut. Kami diminta untuk memprediksi apa yang akan terjadi layaknya seorang peramal yang bisa melihat masa depan. Aku memilih satu jawaban secara acak, tidak ada alasan mengapa aku memilih jawaban itu, hanya berharap ada keberuntungan yang menyertaiku. Dan ajaibnya: benar. Kami langsung tertawa kegirangan tetap dengan kepolosan kami, “Sepertinya kamu dirasuki kekuatan fisika,” ucap temanku. Aku tertawa mangangguk padahal tidak mengerti apa maksudnya, tapi aku merasakan sesuatu menepuk pelan bahuku, entah angin atau yang lain.

Setelah itu semuanya turun drastis. Sebagian kami tahu dan bisa menjawabnya, namun sebagian besar tidak. Kesalahan menumpuk bagaikan bukit sampah yang dibiarkan seminggu. Harapan menang turun ke titik di mana angka nol terasa terlalu tinggi bagi kami. Saat istirahat, peserta lain kembali belajar. Kami? Kami makan dengan Santai di bawah pohon, seolah baru selesai arisan. Beberapa kali aku merqasa ada sesuatu yang mengikuti aku, tapi setiap kali aku menoleh, yang ada hanyalah udara yang terasa sangat biasa. Tidak menakutkan, hanya… terasa selalu ada.

Workshop dimulai, semua orang merakit sesuatu dengan serius sesuai arahan. Sedangkan kami dengan penuh kesadaran memutuskan membuat teh dan kopi. Ketika aku menuangkan air panas, teh dalam gelas itu berputar perlahan, tenang, seolah ingin menyampaikan pesan, “yang serius belum tentu menang,” aku memutuskan untuk menghiraukan perasaan yang aku anggap aneh itu.

Babak kedua adalah neraka bagi kami. Kami diminta membuat unit mobilitas. Apa itu? Kami tidak tahu, bentuknya pun tak bisa ditebak. Kami memohon bantuan tim lain, dan dengan kebaikan Tingkat malaikat, mereka membantu membangun bahkan hampir separuhnya. Tapi tetap, lima menit sebelum waktu habis, alat kami masih tampak seperti potongan patah hati. Panik menyebar layaknya wabah. Nafas terengah-engah. Tangan dingin, gemetar. Suara pengawas hanya memperburuk suasana.

Tepat ketika semuanya terasa runtuh, aku merasakan suatu ketenangan dalam diriku. Angin itu datang lagi. Aneh, sungguh aneh. Ajaib, setelah aku merasakan ketenangan itu, alat kami jadi. Detik terakhir, alat selesai. Kami saling tatap tidak percaya. Rasanya seperti diselamatkan oleh fisika, keberuntungan, atau makhluk yang senang bercanda. Saat alat kami diuji, alat itu berhasil berjalan 34 detik. Kami bahkan tidak tahu apakah angka itu layak untuk dibanggakan. Kami tertawa, bukan karena lucu, tapi karena otak kami telah menyerah dalam memproses keadaan.

Menang? Kata-kata itu rasanya tidak ada dalam kosa kata kami. Kami memutuskan untuk pulang bahkan sebelum pengumuman. Kami pulang setelah membujuk panitia dengan sisa tenaga yang kami punya. Di sinilah aku berpisah dengan teman-temanku. Saat aku melewati gerbang, ada tarikan halus di jaketku, seolah ada yang ingin menahanku untuk tidak pulang. Tapi aku sudah terlalu lelah, tidak peduli. Aku melanjutkan langkahku, berjalan sambil sesekali menendang-nendang kerikil. Tidak terlewat di benakku aku bisa menyelesaikan lomba ini.

Foto: Kemenangan Tak Terduga

Aku berjalan menuju kos kakakku yang jaraknya tidak jauh dari UNPAR. Aku dijemput oleh kakakku yang baru saja selesai kelas, kami berdua naik mobil menuju rumah. Di tengah perjalanan pulang, ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk: “Selamat! Kalian JUARA 3!” Dunia berhenti sebentar. Lalu meledak. Kakakku kaget, mobil hamping oleng. Angin bertiup pelan ke wajahku, hangat, hangat sekali, seperti senyuman yang tidak memiliki bentuk. Bahkan rasa sakit dari sariawan dalam mulutku terasa menyenangkan.

Untuk pertama kalinya aku paham, mungkin bukan keberuntungan, bukan roh fisika, atau bisikan. Mungkin memang ada hal kecil, entah angin, entah semesta yang mendorong kita ke arah yang bahkan tidak kita percaya. Dan kadang, dorongan itu hanya membutuhkan 34 detik untuk membuktikan dirinya. Seolah-olah semesta benar-benar hadir membantuku bermain-main dengan kenyataan, tepatnya dengan hukum fisika. Dan mungkin, hanya mungkin, kami benar-benar menang karena alam semesta sedang ingin bercanda.

Lana Alexis Wangsamulia, kelahiran Bandung 2009. Siswi SMA Trinitas Bandung. Menulis untuk menginspirasi