Bali: Saat Semuanya Baik-baik Saja

Lana Alexis Wangsamulia, kelahiran Bandung 2009. Siswi SMA Trinitas Bandung. Menulis untuk menginspirasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Lana Alexis Wangsamulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Karya: Lana Alexis Wangsamulia

Ada hari-hari ketika kepalaku terasa sangat berat. Seperti ditekan, dan mulutku tidak bisa berkata satu kata pun. Hal-hal yang membuat dadaku terasa berat dna kepalaku berdenyut. Ada beban yang tidak ingin aku sebutkan, seperti berjalan dengan ransel berisi batu, dan tidak ada tempat istirahat.
Diam tapi pusing,
Diam tapi sesak di dalam.
Aku kesepian, tapi kepalaku berisik, hatiku berisik. Di tengah kesibukan kepalaku itu, ada satu tempat yang selalu datang tanpa dipanggil, Bali. Tiga tahun yang lalu, saat hidup terasa lebih sederhana. Saat dunia berpihak kepadaku.
Aku tiba di sana menjelang akhir tahun. Pertama kali selama 13 tahun hidup. Udara hangat yang lembut, bau Pantai, suara motor. Orang-orang berjalan tanpa dikejar apapun. Aku melihatnya, dan diam-diam ingin mengikuti langkah mereka.
Bali, aku tidak sedang melarikan diri. Aku hanya.. ada. Untuk pertama kalinya keberadaanku terasa cukup.
Bali, semuanya baik-baik saja kala itu, seperti kembali menjadi anak-anak, semuanya indah. Berbeda pulau bukan menjadi masalah bagi aku dan temanku. Ponselku terus menyala untuk berbincang dengan temanku. Semuanya riang, tidak ada masalah.
Aku bersama seseorang waktu itu. Kami masih akrab, hangat, saling mengisi kekosongan. Tidak ada kesunyian yang menyakitkan. Tidak ada tatapan yang dipaksakan. Kami bisa tertawa karena hal-hal kecil.
Sekarang… Aku kesepian. Ponsel yang selalu panas karena notifikasi yang terus masuk, sekarang perlahan menjadi dingin. Diam. Seperti tak ada lagi yang mengingat bahwa aku pernah menjadi bagian dari hidup mereka. Dan aku menatap layar gelap itu seperti menatap jendela ke dunia yang perlahan menjauh.
Aku masih ingat malam tahun barunya. Kembang api meledak-ledak dengan bebas, tidak rapi, tidak teratur, tapi disitulah keindahannya. Rintikan gerimis tidak menghalangi mereka untuk terus meledak dan bersinar, juga lagu After Like yang setia mengiringi mereka. Andaikan hidup bisa meniru kembang api, aku ingin meledak-ledak dengan bebas, tanpa harus menahan apa yang berat.
Sekarang, ketika hidup terasa seperti pintu yang tertutup, ada sesuatu yang mengetuk.
Bukan bangunannya,
Bukan pantainya,
Bukan liburannya.
Aku kembali pada perasaan yang aku temukan di sana: rasa bebas yang sederhana, rasa aman, dan rasa ringan yang membuatku percaya dunia pernah memiliki sisi yang lembut untukku.
Ketika malam terlalu panjang, Bali kembali kepadaku. Dengan suara yang pelan, suara kembang api yang tersimpan di kepalaku mengisi kekosongan.
Tiga tahun yang berlalu. Mungkin Bali sudah berubah, mungkin aku sudah berubah, mungkin tidak akan pernah sama lagi. Tapi di kepalaku, Bali tiga tahun yang lalu tetap ada. Tetap hangat, tetap lembut, tetap menjadi tempat di mana aku baik-baik saja.
Dan mungkin, hanya mungkin. Aku bisa pergi ke tempat di mana aku merasa seperti itu lagi. Untuk sekarang, Bali menjadi hiburan di kala beban itu datang. Bali menjadi penyelamatku dengan cara yang sunyi. Ia mengingatkanku bahwa aku pernah bebas.
Lana Alexis Wangsamulia, kelahiran Bandung 2009. Siswi SMA Trinitas. Menulis untuk menginspirasi
