Kamu yang Sempurna

Lana Alexis Wangsamulia, kelahiran Bandung 2009. Siswi SMA Trinitas Bandung. Menulis untuk menginspirasi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Lana Alexis Wangsamulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mereka bilang aku beruntung pernah dicintai oleh seseorang seperti dia.
Sempurna, kata mereka.
Aku hanya mengangguk.
Karena tidak ada yang benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak pernah merasa perlu berubah.
Aku pertama kali bertemu dengannya di usia yang terlalu muda untuk mengerti arti cinta. Tubuhnya tinggi, wajahnya tertutup masker, tapi matanya justru mencuri perhatianku. Indah, matanya indah. Mereka ikut tersenyum saat ia tersenyum. Aku tidak berani menatap matanya yang bersinar itu, hanya dengan bantuan ekor mataku, aku diam-diam memperhatikannya.
Sejak saat itu, tanpa benar-benar kusadari, aku mulai mencari sepasang mata itu di setiap kesempatan.
Waktu itu sederhana.
Aku hanya ingin dilihat olehnya.
Hanya itu.
Entah sejak kapan keinginan yang kecil itu tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa kutahan. Dan untuk itu, aku berikan semua yang kupunya, bahkan bagian dari diriku yang tidak pernah terpikir akan kuberikan.
Senja. Namanya Senja.
Senja yang setiap dipanggil guru selalu tidak hadir karena mengikuti organisasi di sekolah. Ketidakhadirannya itu membuat aku semakin penasaran dengan keberadaannya.
“Senja yang katanya tampan?” Sebesar itu rasa penasaranku.
Awalnya aku bingung. Aku ingin dekat, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Aku ingin lebih, tapi takut salah langkah. Aku ingin tahu apa yang ia rasakan, tapi ia selalu tampak santai, tak peduli.
Setiap pesan yang konstan membuatku lega sekaligus gelisah.
Aku bertanya-tanya, apakah aku terlalu berharap?
Apakah perasaanku hanya ilusi yang kubuat sendiri?
Aku merasa terseret di antara keinginan dan ketidakpastian, tidak tahu kapan harus berhenti atau melangkah lebih jauh.
Beberapa bulan setelah kami dekat, aku masih bingung. Aku menebak-nebak perasaannya. Lalu entah bagaimana, Senja menyatakan perasaannya padaku. Aku terdiam. Aku ingin bertanya, ingin menjerit, ingin menolak, tapi juga ingin percaya. Tidak ada perayaan. Tidak ada tepuk tangan.
Hanya ada rasa lega yang membaur dengan kebingungan.
Saat itu kami menjalani hubungan yang berada di tengah-tengah antara teman dan pasangan. Ketika akhirnya ia memilih untuk tinggal, semua orang bilang aku beruntung. Aku percaya itu. Tangki cintaku penuh untuknya. Setiap hari kuberikan isi cintaku padanya.
Semua orang mendukung kami. Aku merasa menjadi orang paling beruntung satu dunia karena mendapatkan Senja.
Aku tidak sadar kapan tepatnya tangkiku mulai kosong. Mungkin sejak aku terus memberi tanpa benar-benar diminta berhenti. Perlahan kusadari Senja memberikan hanya sebagian kecil dari apa yang telah aku berikan padanya.
Waktu yang selalu dinantikan perlahan tidak ada artinya. Aku tidak lagi tahu apa itu jatuh cinta. Mungkin aku masih semangat di awal. Tapi, terus memberi tanpa dibalas membuat tangkiku semakin kosong.
Seiring berjalannya waktu, keinginan dan kebutuhanku akan cinta bertambah. Aku juga ingin seperti teman-temanku. Tapi sayangnya Senja tidak bisa melihat keinginanku itu. Selama ini, selalu aku yang memulai sesuatu dalam hubungan kami. Aku pernah bilang aku lelah. Dia tidak marah, tidak juga pergi. Dia hanya berkata dengan ‘kepolosan’nya, “Bukannya kita baik-baik saja?” Saat itulah terlihat prioritas kami yang sudah berbeda.
Pertengkaran mulai hilang, tapi justru itu masalahnya.
Kami perlahan menghilang dari satu sama lain.
Tapi entah bagaimana, Senja masih menganggap hal itu wajar.
Semua terlihat baik-baik saja di permukaan. Senja tetap menjadi sosok yang sempurna di mata orang-orang. Kami tetap menjadi pasangan panutan orang-orang.
Tapi pada kenyataannya, hubungan ini rusak. Kami menyakiti satu sama lain dengan cara yang berbeda, tanpa menyadari kehadiran luka itu.
Tidak ada yang benar-benar hancur saat itu. Tapi aku berhenti tinggal.
Hanya segelintir orang yang mengetahui rahasia ini. Mereka masih menyebut namanya saat berbicara denganku. Seolah aku hanyalah versi yang terpotong dari sesuatu yang lebih utuh.
Apa aku bisa mengagumi orang lain selain Senja? Setiap kali aku mengagumi seseorang, mereka selalu menghakimi. Aku tidak boleh berpaling dari sosok yang sudah sempurna di mata orang. Tidak ada orang lain yang lebih sempurna dari Senja.
Aku bingung.
Aku ingin bahagia, ingin bebas, tapi selalu ada komentar dan perbandingan. Teman, keluarga, semua menekanku. Mereka bilang aku jahat. Aku meninggalkan seseorang yang sempurna demi orang yang biasa-biasa saja. Hal ini membuat aku membenci Senja. Karena Senja aku hidup di tengah komentar orang lain.
Jangan berpikir aku tidak bahagia tanpamu, Senja. Hidupku bebas sebebas lautan lepas.
Tapi.. Lautan itu penuh dengan komentar orang. Komentar yang membuat aku terlihat jahat karena meninggalkanmu. Mereka selalu membandingkan orang yang kukagumi denganmu. Sebab tidak ada orang yang lebih sempurna dari Senja.
Mereka bilang Senja akan berubah untukku, Senja adalah orang baik.
Mereka mengasihani Senja.
Tapi, apakah mereka pernah mengasihani aku?
Apakah mereka pernah melihat dari sudut pandang yang berbeda?
Tidak pernah.
Aku selalu merasa tertekan. Aku dianggap jahat. Aku orang bodoh yang meninggalkan orang sempurna demi orang lain yang biasa-biasa saja.
Aku tidak tahu sejak kapan cinta berubah menjadi perbandingan.
Mungkin aku yang salah karena memilih kamu yang sempurna pertama kali.
