Sayang Nenek atau Sayang Warisan? "How To Make Millions Before Grandma Dies"

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Langgeng Aprilliawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Film garapan Pat Boonnitipat ini mengangkat kisah seorang pemuda yang putus sekolah bernama M (Putthipong Assaratanakul). Ia awalnya mendekati sang nenek, Amah (Usha Seamkhum), yang sedang sakit dengan motif terselubung demi merawatnya.
Keinginan tersebut muncul setelah M melihat sepupunya, Mui (Tontawan Tantivejakul), memperoleh warisan rumah setelah merawat kakeknya hingga akhir hayat. Mengetahui Amah menderita kanker stadium akhir, M melihat situasi tersebut sebagai peluang ekonomi untuk mengejar warisan.
Kasus ini tentu tidak merepresentasikan seluruh konflik keluarga di dunia nyata. Namun, film ini berhasil menyoroti bagaimana pembagian harta peninggalan kerap bertransformasi menjadi persoalan struktural yang memicu sengketa antarpihak.
Ketika Uang Mengubah Cara Pandang terhadap Relasi Keluarga
Dalam kerangka berpikir Marxis, relasi sosial kerap direduksi menjadi relasi komoditas, di mana nilai material dan kepemilikan memengaruhi cara manusia memperlakukan sesamanya. Hal ini tercermin jelas dari posisi M dan keluarganya.
M berasal dari latar belakang kelas pekerja yang kurang mampu, di mana ibunya harus bekerja seorang diri untuk bertahan hidup. Sementara itu, Mui berhasil mengubah kondisi kelas ekonominya pindah ke rumah sewa yang jauh lebih baik berkat warisan dari sang kakek.
Situasi ini mengubah makna kekerabatan warisan tidak lagi dipahami sekadar sebagai bentuk kasih sayang atau harta peninggalan, melainkan sebagai aset. M melihat Amah sebagai "investasi" atau sumber keuntungan finansial, bukan lagi murni hubungan emosional antara nenek dan cucu.
Dinamika semacam ini sangat relevan dengan realitas sosial di Indonesia, di mana konflik warisan sering kali berujung pada sengketa hukum yang kompleks. Tidak jarang, anak atau anggota keluarga yang merasa paling berjasa merawat orang tua menuntut penguasaan aset terbesar sebagai bentuk kompensasi tenaga.
Kendati demikian, film ini tetap objektif dengan menunjukkan bahwa tidak semua bentuk perawatan didorong oleh motif tersembunyi banyak yang murni berakar dari tanggung jawab moral dan kasih sayang. Di sinilah letak kekuatan film tersebut ia berhasil merekam persinggungan antara kepentingan ekonomi kapitalistis dan ikatan emosional humanis.
Mengapa Ceritanya Terasa Begitu Nyata?
Dari sudut pandang realisme, film ini menolak menyajikan narasi keluarga yang ideal atau murahan. Hubungan antara M dan Amah digambarkan dengan sangat organik diawali dengan penolakan yang dingin, resistensi, hingga hubungan yang perlahan mencair melalui akumulasi waktu dan interaksi sehari-hari yang rumit.
Pendekatan realisme ini membuat persoalan yang diangkat terasa dekat dengan denyut kehidupan masyarakat sehari-hari. Warisan jarang sekali dibicarakan secara jernih karena ia membawa serta benturan harapan ada yang merasa paling berhak secara moral, ada yang menuntut keadilan pembagian, dan ada pula yang bergerak murni karena manfaat pribadi.
Melalui gesekan kepentingan antara M dan Amah, Kisah M dan Amah mengajak penonton merefleksikan bagaimana persoalan warisan dapat memengaruhi hubungan keluarga, sekaligus mempertanyakan makna ketulusan dalam merawat orang terdekat dan memberi ruang bagi penonton untuk merefleksikan getirnya realitas sosial di dunia nyata.
