Konten dari Pengguna

Asian Games 2026: Saatnya Evaluasi Menuju 2030

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farel Putra Anugera tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kontingen Indonesia menutup perjuangan di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan 5 medali emas, 11 perak, dan 23 perunggu.(Foto: Gilang/Kemenpora)
zoom-in-whitePerbesar
Kontingen Indonesia menutup perjuangan di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan 5 medali emas, 11 perak, dan 23 perunggu.(Foto: Gilang/Kemenpora)

Perolehan medali Indonesia pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menjadi perhatian publik. Kontingen Indonesia memang berhasil melampaui target awal empat medali emas dengan mengantongi lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu atau total keseluruhan 39 medali. Namun, keberhasilan memenuhi target tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa prestasi olahraga Indonesia sedang berada dalam kondisi baik. Indonesia justru harus melihat capaian tersebut secara lebih kritis karena berada di peringkat ke-16 klasemen akhir di bawah Thailand dan Malaysia.

Perhatian semakin besar jika capaian tersebut dibandingkan dengan prestasi pada Asian Games sebelumnya. Pada Asian Games 2022 di Hangzhou, Indonesia mampu memperoleh tujuh medali emas, 11 perak, dan 18 perunggu serta menempati peringkat ke-13. Sementara itu, ketika menjadi tuan rumah Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, Indonesia mencatat prestasi jauh lebih tinggi dengan 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu serta menempati peringkat keempat dalam klasemen.

Artinya, meskipun target lima emas pada 2026 berhasil dilampaui, terdapat penurunan prestasi yang perlu menjadi perhatian. Apalagi, Indonesia mengirimkan 432 atlet dari 35 cabang olahraga pada Asian Games 2026. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya sumber daya manusia yang dipersiapkan untuk membawa nama Indonesia di tingkat Asia. Bahkan jumlah tersebut lebih banyak dari jumlah atlet Indonesia pada tahun-tahun sebelumnya.

Jika melihat angka secara sederhana, penurunan tersebut cukup jelas. Dari 31 emas pada 2018, Indonesia turun menjadi tujuh emas pada Asian Games 2022 dan kembali turun menjadi lima emas pada Asian Games 2026. Memang, perbandingan dengan 2018 harus dilakukan secara hati-hati mengingat Indonesia saat itu berstatus sebagai tuan rumah dan memiliki keuntungan sebagai negara penyelenggara. Namun, penurunan dari tujuh emas pada Hangzhou menjadi lima emas pada 2026 tetap menunjukkan adanya pekerjaan rumah dalam pembinaan prestasi olahraga nasional.

Posisi Indonesia di klasemen akhir juga patut menjadi perhatian. Dengan lima emas, Indonesia berada di peringkat ke-16 secara keseluruhan. Bahkan di antara negara-negara Asia Tenggara, Indonesia berada di bawah Thailand yang meraih 18 emas dan Malaysia yang meraih sembilan emas. Indonesia hanya menempati posisi ketiga di kawasan Asia Tenggara dengan lima emas.

Kondisi tersebut tentu tidak berarti bahwa perjuangan atlet Indonesia gagal. Justru sebaliknya, beberapa capaian pada Asian Games 2026 patut diapresiasi. Lima emas Indonesia berasal dari cabang olahraga bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan. Bulu tangkis menyumbangkan dua emas melalui nomor beregu putra serta pasangan Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin. Rahmat Erwin Abdullah menyumbangkan emas dari angkat besi, Desak Made Rita Kusuma Dewi dari panjat tebing, dan Nurisa Dian Ashrifah dari panahan. Bahkan emas dari panahan menjadi emas pertama Indonesia dalam sejarah keikutsertaan Asian Games pada cabang tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya masih memiliki atlet berkualitas tinggi. Masalahnya bukan semata-mata potensi, tetapi bagaimana potensi tersebut dapat dikembangkan melalui sistem yang ada.

Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah kesiapan anggaran. Pakar Manajemen Prestasi Olahraga, Djoko Pekik Irianto, menilai bahwa salah satu persoalan klasik yang dapat mengganggu persiapan atlet adalah anggaran. Menurutnya, anggaran yang belum pasti atau tersedia dalam waktu yang terlalu dekat dengan kompetisi dapat mengganggu proses persiapan atlet karena pembinaan seharusnya dilakukan jauh-jauh hari.

Persoalan tersebut menjadi relevan apabila melihat kondisi anggaran pelatnas Asian Games 2026. Pada Juni 2026, anggaran pelatnas sempat dilaporkan sebesar Rp81,04 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan anggaran persiapan Asian Games 2022 yang mencapai Rp389,8 miliar. Pemerintah kemudian menambah anggaran sehingga alokasi pelatnas meningkat menjadi Rp222 miliar pada Agustus 2026.

Dari sini terlihat bahwa persoalan olahraga nasional tidak cukup diselesaikan dengan menetapkan target medali. Target harus diikuti dengan perencanaan anggaran dan program pembinaan yang jelas sejak jauh-jauh hari. Atlet tidak dapat dipersiapkan secara instan hanya beberapa bulan sebelum kompetisi. Mereka membutuhkan program latihan jangka Panjang dan berkelanjutan, pemusatan latihan, dukungan ahli, rehabilitasi, nutrisi, serta pendampingan psikologis yang konsisten.

Menurut saya, keberadaan 432 atlet dalam kontingen 2026 seharusnya juga menjadi investasi jangka panjang, bukan hanya angka untuk melengkapi kontingen. Jika sebagian besar atlet hanya dipersiapkan untuk satu ajang, maka manfaat pembinaan akan menjadi terbatas. Sebaliknya, mereka harus dipetakan sebagai bagian dari persiapan menuju kompetisi berikutnya, terutama Olimpiade Los Angeles 2028 dan Asian Games 2030.

Djoko Pekik Irianto juga menekankan bahwa hasil Asian Games 2026 harus menjadi momentum evaluasi secara menyeluruh. Menurutnya, pembinaan tidak seharusnya baru memikirkan target ketika kompetisi sudah dekat. Persiapan harus dirancang dalam jangka panjang dengan target yang ditentukan sejak awal dan sistem pembinaan yang terukur.

Pandangan tersebut menurut saya sangat penting. Indonesia tidak seharusnya hanya melakukan evaluasi setelah mendapatkan hasil buruk. Evaluasi harus dilakukan setelah setiap kompetisi, termasuk ketika target berhasil dicapai. Sebab, keberhasilan memenuhi target empat emas menjadi lima emas tidak boleh membuat persoalan struktural dalam olahraga nasional terabaikan.

Pemerintah dan federasi cabang olahraga perlu melakukan evaluasi terhadap beberapa aspek, mulai dari mekanisme pendanaan, kualitas pelatih, fasilitas latihan, hingga pendampinggan ahli. Cabang olahraga yang telah terbukti menghasilkan emas, seperti bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan, perlu dipertahankan pembinaannya. Namun, cabang olahraga lain juga harus diberikan ruang untuk berkembang agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada beberapa cabang tertentu.

Asian Games 2026 memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai kondisi olahraga Indonesia. Lima emas yang diraih memang melampaui target awal dan menjadi bukti bahwa Indonesia masih memiliki atlet-atlet berkualitas. Namun, jika dilihat dalam konteks yang lebih luas, capaian tersebut menunjukkan adanya penurunan dibandingkan tujuh emas pada Hangzhou 2022 dan sangat jauh dari 31 emas ketika Indonesia menjadi tuan rumah pada 2018. Indonesia juga harus menerima kenyataan berada di peringkat ke-16 klasemen akhir dan masih berada di bawah Thailand serta Malaysia dalam persaingan negara-negara Asia Tenggara.

Karena itu, menurut saya, perolehan medali Asian Games 2026 seharusnya tidak hanya dirayakan sebagai keberhasilan mencapai target, tetapi dijadikan momentum untuk melakukan evaluasi total terhadap sistem pembinaan olahraga Indonesia. Persoalan anggaran, persiapan yang terlalu dekat dengan kompetisi, dan konsistensi pembinaan atlet harus dibenahi secara serius.

Indonesia tidak kekurangan talenta. Yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu mengelola talenta tersebut menjadi prestasi secara nyata. Jika evaluasi dilakukan secara menyeluruh dan pembinaan mulai dirancang jauh sebelum kompetisi, maka Asian Games 2026 tidak harus dipandang sebagai kemunduran, melainkan sebagai titik balik untuk membangun fondasi olahraga yang lebih kuat.

Pada akhirnya, target olahraga nasional tidak boleh berhenti pada satu ajang atau satu jumlah medali. Persiapan untuk Olimpiade Los Angeles 2028 dan Asian Games 2030 harus dimulai sejak sekarang dengan perencanaan yang matang, anggaran yang pasti, dan sistem pembinaan yang berkelanjutan. Seperti yang ditekankan Djoko Pekik Irianto, prestasi olahraga membutuhkan persiapan jangka panjang dan sistematis. Dengan demikian, keberhasilan Indonesia di masa depan tidak hanya bergantung pada munculnya atlet hebat, tetapi juga pada negara yang mampu menciptakan ekosistem yang membuat atlet tersebut berkembang dan berprestasi.