Ahli Epidemiologi Unand Sentil Gugus Tugas COVID-19 Sumbar
A

hli epidemiologi Universitas Andalas (Unand) Padang Defriman Djafri mengkritik cara kerja Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Sumatera Barat. Kritikan itu berkaitan dengan tidak terbukanya soal informasi detail jumlah sampel perkabupaten dan kota yang telah diperiksa setiap harinya.
Menurut Defriman, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Sumatera Barat hanya membicarakan angka kesembuhan. Sementara, untuk sampel yang telah diperiksa perharinya hanya dirangkum secara keseluruhan.
"Kalau saya sebagai epidemiologi sering mengkritisi dan mempertanyakan, berapa sampel individu dari masing-masing kota dan kabupaten yang tidak ada kasus itu yang telah diperiksa. Ini yang harus dibuka," ujarnya dihubungi langkan.id, Senin (29/6).
Defriman menegaskan, seharusnya gugus tugas merincikan dari mana saja asal keseluruhan sampel yang telah diperiksa tersebut. Sehingga masyarakat tahu dan tidak hanya tahu sekadar penambahan kasus dan soal kesembuhan.
"(Misalanya) oh 800 tes sampel swab di Bukittinggi, hasilnya nol positif semuanya, ini oke. (Tapi) ini dicampur semua, sekian hari ini 2.000 diperiksa, kan kita tidak tahu dari mana. Bisa saja (sampel) orang yang sama, kan bisa saja. Kan yang dirawat perlu diulang-ulang (diperiksa)," kata dia.
Ia mengatakan, cara kerja tim gugus tugas ini menurut pemandangan orang awam tentu tidak menjadi pertanyaan atau persoalan. Bahkan, menganggap penanganan COVID-19 di Sumatera Barat sudah berjalan baik dengan sedikit penambahan kasus dari sekian banyak sampel.
Namun, kata Defriman, dirinya selaku ahli epidemiologi angka rincian tersebut sangat penting. Padahal, dengan pemberian informasi secara detail tidak akan merugikan.
"Secara etika itu malah bagus, ini akan kami apresiasi. Tapi gubernur, tim gugus tidak melaporkan itu," sesalnya.
Ia menyebutkan, sebenarnya dalam hal ini pemerintah sangat bertanggung jawab, sebab laboratorium Unand hanya sebagai penerima sampel. "Itu menurut saya yang sering saya sampaikan di grup kawal COVID-19. Supaya masyarakat sedikit confident terhadap itu. Sehingga nol kasus yang dilaporkan itu, benar-benar sampel swab yang diambil itu sudah banyak," tuturnya.
Defriman meminta dalam kondisi saat ini kepala daerah harusnya aktive case finding. Jangan menunggu terjadi kasus baru masif melakukan tes swab.
"Sekarang wali kota dan bupati tidak ngirim sampel karena kasus tidak ada. Ini namanya pasif, seharusnya dengan kondisi meskipun nol kasus tetap ngirim sampel secara random," katanya.
