Kampung Halaman Imam Bonjol Kini Dijuluki Land of The Equator City
·waktu baca 3 menit

Pemerintah Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, secara resmi menggelar kegiatan Pasaman Equator Festival (PasEFest) 2022.
Kegiatan ini juga sekaligus adanya deklarasi Pasaman Land of The Equator Ranah Khatulistiwa di Taman Museum Imam Bonjol, Pasaman.
Bupati Pasaman Benny Utama mengatakan PasEFest dan Land of Equator City merupakan upaya mewujudkan prioritas pembangunan prioritas untuk menjadikan Pasaman sebagai tujuan wisata.
"Jadi dengan menampilkan wisata sejarah berpadu pertunjukan seni budaya bertepatan dengan momentum titik kulminasi matahari yang hanya terjadi dua kali dalam setahun. Momen itu sangatlah penting," katanya, Kamis 16 Juni 2022.
Ia menjelaskan PasEFest 2022 ini diselenggarakan terhitung hari ini 16 - 19 Juni 2022 mendatang. Kegiatan tersebut digelar dalam bentuk perayaan anak nagari.
"PasEFest dipusatkan di kawasan terpadu Museum Tuanku Imam Bonjol dan titik kulminasi equator, serta di tiga desa wisata unggulan Pasaman, Nagari Simpang, Jambak, dan Lubuak Gadang. Ini adalah sebuah event yang meramu warisan sejarah, budaya dan keunikan alam yang terdapat di Pasaman," sebutnya.
Dikatakannya menyambut transformasi kampung halaman Imam Bonjol itu sebagai Land of The Equator, dalam waktu dekat Pemerintah Pasaman juga akan menyelenggarakan sayembara pembuatan logo dan tugu Pasaman Land of The Equator sebagai simbol yang akan memperkenalkan Pasaman di kancah pariwisata internasional.
Di kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Sumatera Barat Audy Joinaldy mengatakan nilai historis yang diwariskan Imam Bonjol dan keunikan geografis Pasaman sebagai Land of The Equator, merupakan sebuah perpaduan icon menarik yang harus dipatenkan dan diangkat sebagai kekayaan intelektual Pasaman dan Sumatera Barat untuk menarik minat wisatawan.
Menurutnya sebagai kabupaten yang tengah bergerak secara progresif menjadi destinasi wisata baru, Menurut Wagub potensi besar Pasaman kini tengah di explore dengan dedikasi yang tinggi oleh pemerintah daerah.
"Belum lagi dalam waktu dekat Pasaman akan membangun planetarium yang diperkirakan akan menjadi yang terbesar di Sumatera, serta rencana kerja sama dengan BKSDA untuk pemugaran taman suaka alam di Rimbo Panti. Hal ini tentu sangat didukung," tegas Audy.
Dikatakannya Pasaman ternyata menyimpan banyak wisata. Karena di samping nilai historis, geografis, dan pembangunan planetarium, Pasaman juga punya agrowisata jeruk dan strawberry, ada pula arum jeram dan wisata menyusuri sungai dengan sampan di antara lembah, seperti di Amazon.
"Orang berwisata kan pasti pergi ke beberapa tempat, Pasaman punya berbagai pilihan menarik yang kini kita branding sebagai Land of Equator City dan PasEFest," kata Wagub.
Untuk itu, Audy berpesan agar masyarakat Pasaman bersiap, karena menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi membutuhkan perubahan paradigma, terutama berkaitan dengan hospitality, menjadi tuan rumah yang baik dan menjaga kebersihan lingkungan sebagai salah satu kunci keberlangsungan pariwisata.
