Konten Media Partner

Kronologi Bayi 1 Bulan di Padang Meninggal Diduga Ditelantarkan Rumah Sakit

langkanverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bayi. (foto: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi. (foto: Shutterstock)

Fery Hermansyah dan Rydha tak akan melupakan kejadian pahit yang dialaminya pada Rabu (29/4) lalu. Kala itu, pasangan suami-istri asal Kota Pariaman, Sumatera Barat ini harus kehilangan bayi mungilnya yang baru saja berumur satu bulan.

Fery Hermansyah dan Rydha tak akan melupakan kejadian pahit yang dialaminya pada Rabu (29/4) lalu. Kala itu, pasangan suami-istri asal Kota Pariaman, Sumatera Barat ini harus kehilangan bayi mungilnya yang baru saja berumur satu bulan.

Bayi perempuan yang diberi nama Isyana Putri Aisyah itu, meninggal sebelum mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M Djamil di Kota Padang. Kisahnya ini kemudian ditulis di akun facebook Rydha yang kemudian viral.

Rydha mengungkapkan kejadian bermula ketika itu anaknya baru saja disusuinya, kemudian mengalami tersedak. Berbagai upaya alternatif cara dilakukannya saat itu, namun ternyata tidak membuahkan hasil.

"Beberapa alternatif cara untuk agar penyakit yang saya lihat tersebut bisa saya selesaikan sendiri di rumah. Ternyata tidak bisa, maka sebagai orang tua saya merasa cemas," ujar Rydha dalam videonya yang diizinkan untuk dikutip langkan.id/kumparan, Selasa (5/5)

Melihat kondisi anaknya itu, ia kemudian

langsung membawa bayinya ke Rumah Sakit Aisyiyah Kota Pariaman. Kala itu, paramedis mencoba menangani, namun bayi Rydha harus mendapat pertolongan lebih lanjut dengan alat medis yang memadai.

"Karena mereka (Aisyiyah) tidak memiliki alat-alat yang lengkap. Maka saya dikasih referensi untuk memilih salah satu rumah sakit yang ada di kota Padang. Dan saya minta pendapat mana rumah sakit yang memiliki peralatan bayi yang paling banyak. Dikasih referensi itu M Djamil, dan saya akhirnya memilih M Djamil," kata dia.

Dengan kecepatan tinggi ambulans melaju dari Kota Pariaman menuju Kota Padang. Rydha berangkat bersama suaminya, Fery Hermansyah beserta perwakilan dari Rumah Sakit Aisyiyah menuju RSUP M Djamil.

Kala itu, yang ada di benak pasangan ini bagaimana anak mereka dapat diberikan pertolongan segera. Namun ternyata, harapan itu tak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Ketika sampai di IGD RSUP M Djamil, Rydha dan Fery Hermansyah beserta bayinya dibiarkan begitu saja.

"Semuanya cuek, tidak ada yang datang menanya dari mana, apa segala macam. Tidak seperti yang saya alami di RS Aisyiyah datang langsung disambut, itu tidak saya terima sama sekali di sana (RSUP M Djamil)," sesalnya.

Pada saat itu, Rydha menyebutkan, hanya ada security. Kemudian, perawat Rumah Sakit Aisyiyah yang ikut dalam ambulans langsung masuk kedalam IGD. Antara perawat berkonsultasi, dan akhirnya barulah salah seorang pihak dari RSUP M Djamil keluar.

"Dan pas dia keluar, itu yang mereka lakukan hanya cek suhu, suhu tubuh anak saya yang lagi berada di ambulans. Bukan disambut, diboyong dibawa masuk kedalam, tidak, itu tidak sama sekali," ungkap Rydha.

Hampir sekitar 20 menit lamanya Rydha dan sang suami menunggu. Dirinya kemudian masuk ke dalam, untuk disuruh mengurus administrasi pendaftaran. Namun, tiba-tiba perawat memutuskan bahwa ruang bangsal anak penuh.

"Lalu saya berdebat, langsung saya berikan hasil info yang saya terima sebelum kita jalan, kalau saya ada teman dan famili yang kerja di sana. Kalau bangsal anak itu sebenarnya kosong, lagi sepi," ujarnya.

"Akhirnya saya bilang ibu pembohong, bapak pembohong, saya tahu di sini ruang (bangsal) anaknya sepi. Karena Ungkapan tersebut akhirnya mereka mau terima," sambungnya.

Diputuskan Harus Masuk Ruang Isolasi

Setelah perdebatan, akhirnya pihak rumah sakit mau menerima, tetapi memutuskan bayi tersebut harus masuk ruang isolasi terlebih dahulu. Rydha kesal, perawat bukan mendahului menangani atau memberikan pertolongan.

"Karena saya berontak, tetap berontak tidak mau anak saya masuk ke sana. Karena saya rasa sangat-sangat kritis sekali anak saya pada hari itu. Memang butuh pertolongan yang sangat sangat dibutuhkan pertolongan oleh seorang bayi yang masih kecil yang umurnya baru 30 hari," ucapnya dengan berurai air mata.

Rasa sangat senang Rydha ketika mengetahui anaknya akan dibawa ke rumah sakit memiliki alat medis yang lengkap, berubah seketika menjadi kecemasan.

"Sampai saya mengeluarkan kata-kata sama orang tersebut, saya ikuti prosedur ibu sama bapak kalau memang itu juga yang bapak inginkan saya ikuti. Tapi kalau seandainya nanti terjadi apa-apa sama anak saya, apa kalian mau bertanggung jawab? saya sempat melontarkan kata-kata tersebut," katanya.

Karena tak ada pilihan, apalagi untuk berpindah rumah sakit lain, akhirnya keluarga ini memutuskan untuk mengikuti prosedur RSUP M Djamil. Fery Hermansyah selaku ayah kandung, menemani buah hatinya masuk ke ruangan yang disebut ruang isolasi untuk tes COVID-19.

Di ruang itu, hanya boleh masuk untuk satu orang. Dari kata perawat yang disampaikan kepada Rydha, di ruang isolasi memiliki peralatan yang lengkap dan ditangani medis di sana.

"Pas masuk disana ternyata tidak langsung juga dilakukan tes COVID-19, juga lama menunggu. Suami saya juga sudah nelpon-nelpon, nih Kok lama di tesnya, anak saya sudah semakin kritis kata suami saya," jelasnya.

Tepat pada pukul 17.30 WIB, paramedis datang ke ruang isolasi menemui. Mereka pun hanya melakukan rontgen, namun untuk tes darah belum dilaksanakan. Rydha mengira penanganan di ruang itu cepat, namun nyatanya tidak seperti yang diharapkan.

Bahkan, kata Rydha, alat medis yang lengkap yang sebelumnya disampaikan ternyata tidak ada sama sekali. Hingga akhirnya, pukul 17.00 WIB, buah hati pasangan ini meninggal dunia dan perawat pergi begitu saja.

Fery Hermansyah dan jenazah bayinya berada di ruangan isolasi itu sampai pukul 21.00 WIB, tanpa ada kabar dari perawat selanjutnya. Padahal, saat itu suami Rydha yang puasa juga tidak mendapat minum air putih segelas pun untuk berbuka puasa.

Hanya menangis yang bisa dilakukan Fery Hermansyah, kala melihat anaknya telah terbujur kaku. Ia sempat berontak dan ingin mebawa anaknya untuk keluar, namun Rydha mencoba menenangkan. Tak berselang, datang seorang perawat yang ingin mengambil sampel darah.

"Entah perawat, entah dokter, entah apa saya tidak tahu. Katanya mau mengambil sampel darah anak saya yang kala itu suami dan saya masih ikhlas untuk diambil darah. Ternyata dia kaget melihat darah anaknya sudah beku dan mungkin tidak bisa diambil," tuturnya.

Salah seorang perawat itu sempat menanyakan kepada Fery Hermansyah kenapa darah bayinya bisa membeku. Mendengar hal itu, ia pun marah dan berontak. "Sudah tahu anak saya meninggal jam 17.00 WIB sampai 21.00 WIB, bertanya juga kamu kenapa darah anak saya beku. Seharusnya kamu yang tahu," ucap Rydha menirukan perkataan suaminya.

Hingga akhirnya, perawat tersebut kembali meninggal keluarga ini. Sampai sekarang tanpa ada kejelasan soal penyakit dan status yang diderita anak Rydha dan Fery Hermansyah. Begitupun data-data lain, juga tidak mereka terima dari pihak rumah sakit.

"Kami pulang dengan sendirinya karena sudah tidak tahan lagi dengan apa yang mereka lakukan. Dan mereka bahkan bilang akan mengkremasi anak saya dengan cara COVID-19 karena statusnya dia bilang PDP," tuturnya.

Rydha heran, apabila anaknya betul-betul diduga terpapar virus hingga akhirnya ditetapkan PDP, kenapa kenapa Rumah Sakit Aisyiyah tidak membaw ke RSUD Pariaman yang juga merupakan rujukan rumah sakit khusus COVID-19 yang lebih dekat.

Padahal kronologi awal sudah disebutkan apa penyebab, bahwa anaknya tersedak setelah menyusui. Maka dari itu, keluarga ini berontak untuk melakukan swab terhadap bayinya. Mereka berharap hal seperti ini tidak terjadi kembali kepada masyarakat lain.

"Karena di sini saya lihat dari jawaban klarifikasi mereka itu proses administrasi jauh lebih penting dan prosedur, lebih dari menyelamatkan nyawa seseorang. Nauzubillah Min Dzalik, padahal semua sudah diatur oleh undang-undang. Apakah undang-undang jauh lebih lemah dibanding dari aturan mereka. Saya tidak tahu hanya pemerintah yang bisa menjelaskan dan menjawabnya terima kasih," tutupnya.

Atas kejadian ini, Rydha akan mendatangi Ombudsman Perwakilan Sumatera Barat, IDI, LBH serta KPAI pada hari ini, Selasa (5/5). Begitupun juga merencanakan membuat laporan ke Polda Sumatera Barat.

Salah satu gedung RSUP M Djamil Padang (Foto: Dok. RSUP M Djamil Padang)

Jawaban Pihak RSUP M Djamil

Sementara itu, Direktur Utama RSUP M Djamil Padang, Yusirwan Yusuf mengklarifikasi soal pihak keluarga menganggap anaknya ditelantarkan oleh pihak rumah sakit. Diakuinya, masih adanya kekurangan dalam aspek pelayanan, yang mana keluarga pasien merasa kurang puas atas yang dilaksanakan.

Namun, kata Yusirwan, melihat kronologi dari kejadian tersebut, ada beberapa permasalahan yang bisa ditarik. Salah satunya, masih lemahnya sistem rujukan dari rumah sakit jejaring dengan rumah sakit pusat.

"Padahal kami sudah menyepakati melalui Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Sumbar dan Dinas Kesehatan, bahwa bila ada pasien terduga COVID-19 yang ingin dikirim ke M Djamil, itu sudah harus diberikan data pendahuluan, pemeriksaan laboratorium dan rontgen foto torak," katanya.

Ia mengungkapkan ada beberapa persyaratan yang dikirim ke rumah sakit, dan itu harus menghubungi dulu pihaknya supaya bisa mempersiapkan kondisi-kondisi emergency pada pasien tersebut. Pada kenyataannya, pasien tidak dibekali data-data yang lengkap.

Menurutnya, sampai di M Djamil, karena pasien sesak napas, untuk gejala utama pada screening pasien itu terimbas COVID-19.

"Karena pada wabah ini, ada beberapa keluhan gejala klinis yang memang menjadi dasar utama kita memilah pasien, karena kita sama tahu penyakit pandemi ini menular, perlu perlakuan khusus pada pasien ini," jelasnya.

Dari hasil rontgen foto torak, ada bronco pneumonia dan akan diambil swab. Swab untuk memastikan melalui PCR, apakah positif atau negatif COVID-19. Dan keluarga pasien menolak. Sehingga ujung-ujungnya terjadi seakan-akan terbengkalai pelayanan.

"Ini karena terjadi miskomunikasi sehingga berakibat kejadian seperti ini. Kami dari pihak RSUP M Djamil tetap akan memberikan upaya-upaya perbaikan di internal, juga ke depan ini akan memberlakukan disaster plan, agar kasus yang berat ini tidak terulang lagi dengan respon time yang terlambat," ungkapnya.