Konten Media Partner

Merawat Asa Warisan Budaya Rabab dan Babiola di Minangkabau

langkanverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penambilan babiola di ekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2019 di Jarkta. Foto: Egy/Pemkab Pesisir Selatan
zoom-in-whitePerbesar
Penambilan babiola di ekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2019 di Jarkta. Foto: Egy/Pemkab Pesisir Selatan

Kesenian rabab dan babiola di Minangkabau merupakan warisan budaya yang kini dikhawatirkan bakal putus regenerasi. Hal ini dikarenakan rendahnya peminat generasi muda untuk mempelajari kesenian tersebut.

Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat telah memantau hal dikhawatirkan tersebut. Kini cara yang dilakukan adalah membina para generasi muda untuk melestarikan budaya tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat Gemala Ranti mengatakan untuk rabab telah ditetapkan pada tahun 2015 dan babiola tahun 2019, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI).

Saat ini warisan budaya rabab dan babiola tersebar di 3 kabupaten dan kota di Sumatera Barat, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Solok Selatan.

"Jika kita amati kondisi saat ini, pada umumnya pelestari yang masih ada saat ini rata-rata sudah berusia diatas 40 tahun yang dikhawatirkan akan segera memiliki keterbatasan fisik dan kesehatan untuk melanjutkan kesenian ini," sebutnya, Minggu 26 September 2021.

"Untuk itu harus dilakukan pembinaan dan pewarisan kepada generasi muda. Program pendampingan ini terdapat berbagai aspek dukungan terhadap pelestarian seni tradisi," katanya.

Menurutnya dengan mengaplikasikan berbagai tindakan atau terapan yang lebih modern yakni terkait dengan  pola pengajaran, tata kelola hingga pemasaran (marketing).

"Mungkin juga perlu diperhatikan untuk beradaptasi dengan kondisi yang ada saat ini, dengan memanfaatkan teknologi," tegasnya.

Ia berharap program pendampingan yang telah dilakukan tersebut hendaknya tidak terhenti sampai disini tapi perlu ditindaklanjuti, sehingga memiliki pemaknaan yang lebih luas dari sekedar pelatihan seperti yang biasa digelar sebelumnya.

"Namun dapat berdampak kepada sektor lain seperti pariwisata, usaha kecil, ekonomi yang akan berdampak kepada kesejahteraan masyarakat," jelasnya.

Kuratorial pendampingan rabab dan babiola M. Fadli mengapresiasi Dinas Kebudayaan Sumatera Barat karena ide yang cemerlang untuk melestarikan warisan budaya tersebut.

"Rabab adalah pertunjukan dialektika bukan hanya sekadar musik. Rabab unik karena mampu mengkolaborasi antara dialektika dan musik," katanya.

Ia berharap selagi rabab masih dimainkan anak nagari, masih akan lahir anak nagari yang memiliki kemampuan memainkan alat musik tersebut.

Sehingga kesenian rabab, bisa menjauhkan generasi muda kita jauh dari perilaku menyimpang seperti narkoba, tawuran dan ketergantungan gadget.