Konten Media Partner

Penangguhan Penahanan PSK yang Digerebek Andre Rosiade Dikabulkan

langkanverified-green

Screenshot video penggrebekan NN oleh Andre Rosiade bersama pihak kepolisian. Foto: istimewa.
zoom-in-whitePerbesar
Screenshot video penggrebekan NN oleh Andre Rosiade bersama pihak kepolisian. Foto: istimewa.

Kepolisian Daerah Sumatera Barat akhirnya mengabulkan penangguhan penahanan terhadap NN, wanita pekerja seks yang terjerat kasus prostitusi online di Kota Padang. Sebelumnya, kasus ini terungkap dari informasi anggota DPR RI, Andre Rosiade yang ikut dalam penggrebekan.

Kabid Humas Polda Sumatera Barat, Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto, membenarkan penangguhan penahanan tersebut. Saat ini, sedang tahap melengkapi berkas terkait pembebasan NN.

"Jadi memang rencana ada pengajuan penangguhan penahanan, sama pimpinan diberikan kebijakan. Keputusan akhirnya ditangguhkan," kata Sateke Bayu dihubungi langkan.id, Sabtu (8/2).

Ia mengungkapkan, dikabulkan penangguhan penahanan karena dijamin kuasa hukum NN dari Lembaga Advokasi Perempuan dan Anak. Meskipun demikian, Satake Bayu menegaskan, untuk proses hukum tetap akan berlanjut.

"Jaminannya ya pendamping kuasa hukum yang bersangkutan. Untuk proses tetap berlanjut, NN akan wajib lapor dua kali dalam seminggu ke Polda Sumatera Barat," ujarnya.

Sebelumnya, dukungan terhadap NN terus mengalir dari Nurani Perempuan Women’s Crisis Center beserta jaringan peduli perempuan. Mereka menganggap NN hanya sebagai korban dalam prostitusi online yang diduga sengaja dijebak oleh Andre Rosiade.

Bahkan Nurani Perempuan Women’s Crisis Center mendesak Andre Rosiade untuk meminta maaf kepada publik atas tindakannya dalam penggrebekan yang tidak sesuai tupoksi sebagai anggota DPR RI Komisi VI. Andre Rosiade juga diadukan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR.

"Kami memberikan surat terbuka untuk Andre Rosiade dan Gerindra. Tuntutan dalam surat itu salah satunya meminta Andre Rosiade meminta maaf ke publik karena merendahkan perempuan," kata Plt Direktur Nurani Perempuan Women’s Crisis Center, Rahmi Merry Yenti.

Juru Bicara BPN, Andre Rosiade Foto: Jodi Hermawan/kumparan