Pencarian populer
PUBLISHER STORY

Peneliti LRSDKP: Padang Punya Karekteristik Terjadi Likuifaksi

Peneliti Loka Riset Sumber Daya dan Kerentenan Pesisir (LRSDKP) Wisnu Arya Gemilang di BKIPM Padang. (Foto: M. Hendra/Langkan.id)

Langkan.id, Padang - Peneliti Loka Riset Sumber Daya dan Kerentenan Pesisir (LRSDKP) Wisnu Arya Gemilang mengatakan daerah Sumatera Barat memiliki potensi terjadinya likuifaksi yang cukup besar. Hal ini didasari atas hasil penelitan yang dilakukannya di sejumlah daerah pantai yang ada di Sumatera Barat, salah satunya di Kota Padang.

Wisnu menjelaskan potensi besar terjadinya likuifaksi di Sumatera Barat itu, karena ada karekteristik pasiran/tanah dari daerah sepanjang pantai di Sumatera Barat memiliki kondisi tanah yang berpotensi terjadi likuifaksi. Karekteristik pasiran/tanah yang dimaksud, yakni untuk kondisi tanah pasir dengan kepadatan rendah (tanah pasir lepas), dan bentuk butiran tanah/pasir yang seragam.

"Dari semua pasir yang saya cocokan dengan ciri-ciri tersebut, semua daerah pantai di Sumatera Barat ini memiliki kondisi kepadatan rendah dan pasir yang seragam. Nah dilihat di Kota Padang, potensi terjadi likuifaksi itu mulai dari Pantai Padang sampai sebelum jalan Bypass Padang," ujarnya, usia menjadi pemateri di acara Bulan Bakti Karantina dan Mutu Hasil Perikanan di BKIPM Padang, Senin (01/07/2019).

Menurutnya kondisi kepadatan rendah dan pasir yang seragam itu setelah diteliti di Kota Padang, menemukan kondisi tanah yang merupakan potensi tinggi terjadi likuifaksi. Sementara kawasan yang telah melewati jalan Bypass ke bagian Timur, dinilai hanya memiliki potensi terjadi likuifaksi rendah.

Sementara melihat ke kawasan Bandara Internasional Minangkabau diperkirakan apabila terjadi gempa yang menyebabkan tsunami, maka dalam perkiraan para peneliti luar negeri, kawasan bandara dan pantai Sumatera Barat mulai dari Kabupaten Pasaman Barat - Pesisir Selatan akan tenggelam. Begitu juga untuk likuifaksi, berada di jalur pantai laut Sumudera tersebut.

"Kalau Padang memang cukup besar terjadi likuifaksi ini, dan sangat kita sayangkan banyak yang berdiri bangunan-bangunan besar seperti perhotelan yang berada dekat dari pantai. Karena, kondisi tanah di pantai itu memiliki batas daya tampung. Artinya, di kawasan pantai sebenarnya tidak disarankan didirikan bangunan seperti perhotelan," katanya.

Wisnu menjelaskan apabila bangunan seperti perhotelan dan bangunan-bangunan besar lainnya terus tumbuh di kawasan pantai, maka likuifaksi itu akan semakin mudah terjadi, karena akan banyak air terserap dibagian bangunan tersebut. Sebenarnya pada gempa bumi 2009 yang terjadi di Padang, telah terjadi likuifaksi di kawasan Pantai Padang, dimana ada jalan-jalan retak dan amblas dalam skala kecil.

"Itu sebenarnya telah terjadi likuifaksi, tapi likuifaksi 2009 di Padang beda dengan likuifaksi yang terjadi di Palu. Jadi di Sumatera Barat ini, ancaman bencana tidak hanya di laut, tapi juga di darat," tegasnya.

Untuk itu, pihaknya akan menyampaikan terkait potensi likuifaksi tersebut ke Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

"Hal ini bukan untuk ditakuti sebenarnya, tapi membuat kita sadar bagaimana untuk melakukan upaya antisipasi, supaya likuifaksi itu tidak terjadi," ucap Wisnu. (M Hendra)

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.54