Potret Solok Selatan, Sumbar, Saat Diterjang Banjir Bandang

Banjir bandang menerjang Kabupaten Solok Selatan, akibatnya ratusan rumah serta fasilitas umum terendam banjir dan lumpur. Bahkan, seorang balita dinyatakan meninggal dunia setelah hanyut sejauh 1,5 kilometer terseret air sungai yang deras akibat banjir.
Pantauan Langkan.id di lapangan, ratusan korban banjir telah mengungsi, mereka tidur beralaskan kasur santai, sebagian besar dari mereka merupakan anak-anak dan perempuan. Sementara, kaum laki-laki berjaga di luar posko pengungsian.
Banjir yang melanda Kabupaten Solok Selatan, setidaknya merendam empat kecamatan, dengan total jumlah warga yang terdampak 5.571 jiwa yang terdiri dari 1.655 Kepala Keluarga (KK).
Lalu, akibat banjir tersebut, 15 unit rumah mengalami rusak berat, 10 diantaranya hanyut dihantam banjir. Dan, dilaporkan dua jembatan putus.
Bupati Kabupaten Solok Selatan, Muzni Zakaria menyebutkan, selain intensitas hujan yang tinggi, penyebab banjir di daerahnya itu karena adanya dugaan kerusakan lingkungan akibat pembalakan liar di daerah hulu.
“Sungai tidak lagi sanggup menampung debit air yang terlalu besar. Tentunya, daerah hulu, atau tangkapan hujan sudah terganggu. Artinya, ada penebangan liar di daerah hulu,” ujarnya beberapa waktu lalu kepada Langkan.id.
Adanya penebangan liar di daerah hulu, membuat kayu-kayu besar hilang. Sehingga, ketika musim hujan, hanya sebagian air yang terserap, kemudian air langsung mengarah ke sungai.
“Soal siapa yang menebang? Kita tidak tahu, namanya saja penebang liar,” kata Muzni.
Lebih lanjut, saat kunjungan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo ke Solok Selatan, Muzni Zakaria meminta agar Batang Suliti dapat dinormalisasi.
Menurut Muzni, normalisasi tersebut merupakan sudah kebutuhan saat ini, karena seringnya Batang Suliti meluap hingga merendam perkampungan warga setiap musim hujan terjadi
“Kami berharap agar diberikan bantuan pembangunan cekdam seiliran Batang Suliti. Kasihan masyarakat yang berada di aliran Batang Suliti. Termasuk daerah Kampung Tarandam,” ucapnya.
Dikatakannya, Batang Suliti yang melintasi Pasir Talang juga sudah mengancam pemukiman penduduk yang berada di sana, sehingga dibutuhkan perhatian dari Pemerintah Pusat.
Menanggapi hal itu, Doni Monardo menyebutkan, bahwa pihaknya akan segera membentuk tim gabungan, baik Kementerian PUPR, Pertanian, LHK, dan unsur lainnya untuk melakukan penelitian ke lapangan, termasuk melakukan pengecekan ke daerah hulu.
“Hasilnya, itu yang akan kita tindaklanjuti untuk penanganan lebih lanjut,” katanya.
Yang terpenting untuk saat ini, kata Doni, mencari solusi terbaik. Salah satunya adalah dengan mengubah perilaku, kesadaran kolektif untuk mau menjaga ekosistem. “Kalau perilaku ini tidak diperbaiki, akan terus muncul berbagai kerusakan. Kejadian bencana ini juga akibat ulah manusia. Kalau kita jaga alam, alam akan jaga kita,” ungkapnya.
