Terungkap, Surau Syekh Paseban Padang Simpan Naskah Kuno Berusia Nyaris Seabad
·waktu baca 2 menit

Aset bersejarah yang dimiliki Pemerintah Kota Padang, Sumatera Barat, di Koto Panjang, Ikua Koto, yakni Surau Syekh Paseban, turut menjadi perhatian Wali Kota Padang Hendri Septa.
Surau itu diketahui memiliki buku dan kitab yang ditulis oleh Syekh Paseban, seorang ulama kenamaan di masanya, asal Koto Panjang, Koto Tangah.
“Kita takjub bahwa ada karya ulama besar di Koto Panjang ini. Aset sejarah ini patut kita lestarikan, karena memiliki nilai sejarah yang tinggi," katanya, Jumat 15 Juli 2022.
Menurutnya Syekh Paseban atau akrab disapa Angku Paseban oleh masyarakat sekitar, merupakan sosok ulama yang tidak dapat dipandang sebelah mata, sebab dunia luar pun sangat menghargai naskah-naskah kuno yang ditulisnya.
Bahkan naskah kuno yang ditulis oleh Angku Paseban itu, menjadikannya objek penelitian, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
“Jika orang luar saja menghargai, kita tentu harus lebih menghargai dan peduli dengan naskah-naskah kuno peninggalan ulama besar ini," ujar Hendri Septa.
Tokoh masyarakat Ikua Koto, Yurman, mengatakan sosok Angku Paseban lebih populer di dunia akademis, dibandingkan dikenal oleh masyarakat sekitar Koto Panjang.
Hal ini dikarenakan, naskah-naskah kuno karyanya sering dijadikan objek penelitian.
“Sebab itu, kami sangat berharap Pemko Padang dapat memberikan perhatian khusus untuk perlindungan dan pelestarian naskah kuno peninggalan Syekh Paseban ini," harapnya.
Dikatakannya naskah kuno makin lama, nilainya semakin tinggi. Artinya jika lama tidak terurus kondisinya akan semakin rusak.
"Bahkan menurut penelitian, kertas yang digunakan sudah ada sejak tahun 1932,” ujar Yurman.
Diketahui Syekh Paseban merupakan ulama besar di zamannya yang lahir pada 1817 M (1234 H) di Koto Panjang, Koto Tangah, dan wafat ketika menunaikan ibadah haji di Makkah pada 1937 M (1356 H) dalam usia 120 tahun.
“Beliau pernah hampir dianugerahi penghargaan oleh Pemerintah Belanda pada masa itu, namun Angku Paseban menolaknya, sebab baginya penghargaan cukup dari tuhan saja,” pungkas Yurman.
