kumparan
8 Mei 2019 16:15

Wali Kota Padang Boikot Film 'Kucumbu Tubuh Indahku' karena Unsur LGBT

Film Kucumbu Tubuh Indahku.png
Cast beserta produser dan sutradara film 'Kucumbu Tubuh Indahku' Foto: Alexandr Vito/kumparan
Langkan.id, Padang- Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharullah, melarang penayangan film 'Kucumbu Tubuh Indahku' di Kota Padang, Sumatera Barat. Ini dikarenakan adanya unsur LGBT.
ADVERTISEMENT
Mahyeldi pun menyurati Lembaga Sensor Film (LSF) dan Komisi Penyiaran Islam (KPI). Dalam surat bernomor: 484/02.23/Kominfo-2019 Tanggal 29 April 2019 itu, Mahyeldi menegaskan menolak dan menyatakan keberatan atas penayangan film garapan sutradara Garin Nugroho di Kota Padang.
“Banyak hal yang membuat kita di Kota Padang memboikot penayangan film ini. Kami berharap melalui surat yang kita layangkan, dapat disikapi secara nasional dan yang jelas Kota Padang melarang film ini untuk tidak ditayangkan di bioskop-bioskop dan tempat lainnya," ujarnya, Rabu (8/5).
Ia juga meminta Kementerian Kominfo untuk mencekal peredaran film tersebut, agar tidak bisa disaksikan masyarakat melalui media sosial atau konten internet lainnya.
Mahyeldi mengatakan penolakan ini berdasarkan pelbagai pertimbangan. Film itu dinilai bertentangan dengan norma agama, sosial, dan nilai budaya yang dianut masyarakat di Kota Padang, yang berlandaskan 'Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah'.
ADVERTISEMENT
Kata dia, film itu juga dinilai bisa mempengaruhi cara pandang dan membangun opini masyarakat terhadap perilaku penyimpangan seksual, sebagai perbuatan yang biasa dan dapat diterima.
"Kami di Kota Padang telah mendeklarasikan diri sebagai kota yang bebas dari maksiat dan menolak komunitas LGBT dan sejenisnya dengan komitmen bersama yang dilakukan para tokoh masyarakat, agama, dan stakeholder terkait lainnya," ujarnya.
Selain di Kota Padang, sejumlah pemerintah daerah juga menolak penayangan film tersebut, seperti di Kota Depok, Pontianak, dan Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat.
Film 'Kucumbu Tubuh Indahku' bercerita tentang kehidupan seorang penari Lengger pria bernama Juno. Sejak kecil ia tinggal tanpa ayah dan ibu serta kerap berpindah-pindah rumah tinggal.
Seiring berjalannya waktu, Juno mulai mengenal kasih sayang dari orang-orang di sekelilingnya, mulai dari guru tari, bibi penjual ayam, paman penjahit, seorang petinju, seorang Warok dan Bupati.
ADVERTISEMENT
Kasih sayang itu membuat Juno semakin menghargai hidup, namun juga mempertanyakan pergolakan sisi maskulin dan feminin dalam dirinya. (R)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan