Anak Pertama yang Dituntut Kuat, Padahal Sedang Rapuh

Pegiat Literasi isu-isu sosial. Berpikir dan menulis rangkai kehidupan layaknya minum dan makan. Lulusan program studi Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Lanjar Triyono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai anak pertama, usia 26 tahun sering digambarkan sebagai fase mapan: karier mulai terbentuk, penghasilan mulai stabil, dan masa depan mulai terlihat jelas. Namun, refleksi kehidupan saya di usia ini justru berjalan ke arah yang berbeda. Saya tidak sedang merayakan ulang tahun atau pencapaian. Saya sedang berhenti sejenak untuk menoleh ke belakang dan bertanya mengapa jalan yang saya tempuh terasa begitu sulit. Persoalan kesehatan, kelelahan emosional, tuntutan sebagai anak pertama, dan masa depan yang belum pasti berjalan beriringan, saling menumpuk, dan jarang memberi saya ruang untuk sekadar bernapas.
Saya ingin hidup layak. Namun, kenyataan tidak selalu sejalan dengan keinginan saya. Pada malam-malam sunyi, saya kerap bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh apa saya melangkah dan mengapa saya masih merasa tertinggal dengan yang lain? Dalam diam, saya juga sering menggugat, apakah beban ini adil untuk saya, atau justru menjadi cara saya memaknai arti kehidupan. Pertanyaan itu muncul berulang, tanpa jawaban yang benar-benar menenangkan saya.
Lebih dari 300 Lamaran, Secuil Harapan yang Belum Berpihak
Saya telah mengirimkan lebih dari 300 lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan. Saya terus mencari celah, menyusun berkas, dan berharap satu pintu akhirnya terbuka. Sampai saat ini, pintu itu belum juga saya temukan. Gelar sarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial dan sertifikasi Pekerja Sosial Profesional dari Kementerian Sosial RI yang saya miliki ternyata belum cukup menjadi kunci. Saya masih perlu mengasah keterampilan, memperluas pengalaman, dan memahami kebutuhan dunia kerja yang terus berubah-ubah.
Saya dapat menerima bahwa kemampuan saya masih perlu dikembangkan. Namun, menghadapi penolakan berulang bukan perkara mudah. Ada kalanya saya mulai meragukan kemampuan sendiri, seolah seluruh usaha yang telah saya lakukan tidak membuahkan apa-apa. Dalam refleksi kehidupan saya, menyadari bahwa kesulitan ini bukan saya alami sendirian. Menurut Badan Pusat Statistik mencatat jumlah pengangguran terbuka di Indonesia masih mencapai 7,22 juta orang pada Mei 2026, dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65 persen.
Dari jumlah itu, lebih dari satu juta orang berpendidikan diploma dan sarjana, kelompok yang semestinya paling siap bersaing di dunia kerja, justru ikut terjebak dalam angka tersebut. Saya menginginkan penghasilan, bukan semata-mata untuk hidup mewah. Saya ingin mampu memenuhi kebutuhan, membantu keluarga, dan menjalani hari tanpa terus-menerus dibayangi ketidakpastian ekonomi.
Sebab, saya juga memerlukan penanganan medis yang berkelanjutan demi menjaga keberlangsungan hidup saya sendiri. Pekerjaan yang stabil bagi saya adalah syarat dasar untuk menjalani hidup dengan tenang. Namun, realitas ini dipatahkan dengan fakta perusahaan yang masih banyak melakukan sistem pengupahan yang layak dan sesuai dengan UMP/UMR. Berdasarkan jurnal media akademik, bahwa pekerja yang menerima upah di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) masih sangat tinggi mencapai lebih dari 50% dari total tenaga kerja di Indonesia.
Tubuh yang Lelah, Pikiran yang Tak Kunjung Istirahat
Persoalan pekerjaan bukan satu-satunya beban yang saya hadapi. Hampir setengah tahun terakhir, kondisi kesehatan memaksa saya beberapa kali ke ruang gawat darurat dan menjalani pemeriksaan dokter spesialis, bahkan dua hingga tiga kali dalam sebulan saya harus kembali ke rumah sakit. Dalam kondisi seperti itu, saya harus membagi tenaga antara menjaga kesehatan dan memikirkan masa depan. Ketika saya ingin mengasah keterampilan atau melamar pekerjaan, tubuh dan pikiran saya justru menuntut waktu untuk pulih.
Saya kerap merasa seluruh persoalan datang bersamaan, seolah tidak tersisa ruang untuk sekadar menenangkan diri. Saya juga termasuk orang yang mudah memikirkan banyak hal secara berulang: pekerjaan yang belum didapat, kondisi ekonomi, kesehatan, harapan keluarga, dan masa depan terus memenuhi kepala saya.
Saya tidak ingin menjadikan keadaan ini sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki diri. Namun, saya mulai memahami bahwa perjuangan tidak selalu berarti memaksakan diri untuk terus terlihat kuat. Saya mencoba menerima bahwa pemulihan membutuhkan waktu, meski hal itu tidak selalu mudah saya lakukan. Pikiran yang melelahkan karena sudah terkuras oleh dinamika konflik batin. Demikian daripada itu saya mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri yang bisa saya kendalikan.
Anak Pertama: Antara Privilese yang Disangkakan dan Kecemasan yang Disembunyikan
Menjadi anak pertama membuat saya memandang masa depan dengan tuntutan yang berlapis. Saya ingin mandiri, memiliki pekerjaan, memperoleh penghasilan, dan menjadi sosok yang dapat diandalkan keluarga. Realitanya, kondisi saya sendiri belum cukup stabil untuk menanggung semua itu. Saya ingin membantu, tetapi saya sendiri juga sedang membutuhkan pertolongan. Saya kerap merasa harus segera berhasil, seolah usia 26 tahun adalah batas waktu untuk membuktikan bahwa saya mampu menjalani hidup dengan baik.
Padahal, saya hanya manusia biasa. Saya bisa sakit, takut, kecewa, dan kehilangan arah. Saya tidak selalu punya jawaban atas persoalan yang saya hadapi. Menjadi anak pertama tidak berarti saya harus menanggung semuanya sendirian. Saya juga berhak mengakui keterbatasan dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk pulih. Sebagian orang di sekitar saya justru menilai saya memiliki privilese, koneksi, bahkan kekuasaan.
Pada kenyataannya, setiap malam saya hanya larut dalam pikiran sendiri di hadapan layar ponsel, mempertanyakan arah hidup saya. Saya tetap ingin menjadi orang yang berguna bagi keluarga. Kehidupan terasa jauh lebih berat apabila dijalani tanpa arah yang jelas. Saya membutuhkan pedoman hidup yang mampu memberi harapan, semangat, dan kekuatan untuk melangkah.
Mendefinisikan Ulang Arti Perjuangan
Melalui berbagai pengalaman tersebut, saya mulai memahami makna perjuangan dengan cara yang berbeda. Bagi saya, perjuangan bukan sekadar kemampuan bertahan dalam keadaan sulit. Perjuangan adalah keberanian mengakui bahwa saya sedang kesulitan. Perjuangan juga berarti kesediaan untuk mengevaluasi diri dan mencari pertolongan. Saya melakukannya ketika saya tidak lagi sanggup menghadapi semuanya sendirian.
Memaknai perjuangan hanya sebatas pengakuan rasanya terlalu sempit untuk menggambarkan kompleksitas hidup. Saya tidak ingin mendefinisikan perjuangan sebagai kewajiban selalu menang. Dalam hidup, ada masa ketika keadaan berjalan sesuai harapan. Ada pula masa ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana. Saya belajar untuk menerima kedua keadaan tersebut sebagai bagian yang wajar dari proses.
Karena itu, saya belajar membedakan antara hal yang perlu saya perbaiki dan hal yang tidak sepenuhnya dapat saya kendalikan. Saya perlu mengakui kekurangan tanpa menghakimi diri sendiri, dan menerima kenyataan tanpa menganggap seluruh masa depan telah ditentukan oleh keadaan hari ini. Bagi saya, perjuangan bukan berarti tidak pernah merasa kalah. Perjuangan adalah upaya untuk tidak menjadikan kekalahan sebagai satu-satunya ukuran atas seluruh kehidupan saya.
Berdamai dengan Masa Depan yang Belum Pasti
Pada usia 26 tahun, saya belum mendapatkan seluruh hal yang saya inginkan. Saya masih mencari pekerjaan layak dan masih berhadapan dengan persoalan kesehatan. Saya juga sedang belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Saya tidak tahu kapan keadaan ini akan berubah. Saya hanya bisa terus berusaha, tanpa kepastian kapan semuanya akan terasa lebih ringan.
Namun, saya memilih berhenti menjadikan usia sebagai tenggat waktu untuk sebuah "kesuksesan". Setiap kegagalan yang pernah menghantam, perlahan saya ubah menjadi bekal untuk menghadapi badai berikutnya. Saya berjuang bukan untuk membuktikan apa pun kepada dunia, melainkan karena di dalam diri saya masih menyala satu hal yang belum padam: harapan.
Saya mungkin belum meraih kemenangan yang selama ini saya bayangkan. Namun, saya tidak ingin menjadikan keadaan hari ini sebagai keputusan akhir atas hidup saya. Pada usia 26 tahun, saya belum menjadi seseorang yang berhasil menurut ukuran yang pernah saya impikan. Saya masih manusia yang sedang berjuang, lengkap dengan keterbatasan dan rasa takut. Harapan dalam diri saya pun belum selesai, dan saya memilih untuk terus membawanya.
Dalam cerita yang hampir sama, kisah nabi Ayub AS dikenal sebagai sosok yang sabar menghadapi penyakit kulit yang menyiksa tubuhnya selama bertahun-tahun, hingga ia dikucilkan masyarakat dan diusir dari kampung halamannya. Menurut sebagian riwayat, ujian itu berlangsung hingga 18 tahun, sebelum akhirnya kesembuhan datang. Kisah ini dikenal luas dalam Surat Shad ayat 41-44, dan sering dijadikan rujukan tentang makna kesabaran dan harapan positif.
