Membangun Indonesia Bukan Hanya Dengan Infrastruktur, Tapi Dengan Keteladanan

Pegiat Literasi isu-isu sosial. Berpikir dan menulis rangkai kehidupan layaknya minum dan makan. Lulusan program studi Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Lanjar Triyono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan penurunan kemiskinan memang penting, tetapi kemajuan sebuah negara juga bisa dilihat dari cara manusia memperlakukan manusia lain. Bagaimana Ir.Soekarno dalam membangun peradaban berawal dari penguatan revolusi mental dan Sumber Daya Manusia (SDM).
Kita sering mendengar dua kata yang sederhana, tapi mempunyai makna penting dalam kehidupan sehari-hari: "jujur dan berintegritas". Keduanya diajarkan di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di lingkungan masyarakat, bahkan dalam kehidupan beragama dan bernegara.
Oleh karena itu, masalah keteladanan tidak hanya tentang siapa yang seharusnya menjadi teladan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita sudah menjadi bagian dari perubahan yang ingin kita lihat?
Ekonomi Tumbuh, Tapi Apakah Semua Orang Merasakan Kemajuannya?
Secara ekonomi, Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan. Pada triwulan II tahun 2026, pertumbuhan perekonomian Indonesia mencapai 5,29 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa roda perekonomian nasional masih berjalan dengan positif.
Namun, pertumbuhan ekonomi tidak selalu dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang sama. Bagi sebagian masyarakat, pertumbuhan dapat terlihat melalui peningkatan aktivitas usaha, investasi, dan konsumsi.
Bagi masyarakat yang pendapatannya terbatas, pertanyaannya sederhana; apakah penghasilan mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari? Oleh karena itu, perjuangan buruh untuk mendapatkan upah yang adil adalah bagian dari usaha mencapai kesejahteraan. Pertumbuhan ekonomi menjadi lebih penting jika manfaatnya bisa dirasakan secara adil oleh seluruh masyarakat.
Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak hanya diukur sebagai angka statistik. Pertumbuhan harus dilihat dari bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat. Data mengenai pekerja juga memberikan gambaran penting. Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat bahwa pada bulan Februari 2026, sebanyak 52,81 persen dari buruh, karyawan, atau pekerja menerima upah yang lebih rendah dari Upah Minimum Provinsi (UMP).
Meski begitu, angka tersebut menunjukkan bahwa isu penghasilan pekerja tetap menjadi topik penting dalam pembicaraan mengenai kesejahteraan. Pada saat ini, pembangunan membutuhkan lebih dari hanya pertumbuhan. Dibutuhkan keberpihakan terhadap kualitas kehidupan manusia. Maka, bagaimana mungkin pertumbuhan ekonomi itu bermakna, jika masih banyak orang yang harus terus menghitung pengeluaran sampai akhir bulan?
Kemiskinan Menurun, Tapi Persoalan Kesejahteraan Belum Selesai
Kabar baik datang dari data kemiskinan. Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat bahwa pada bulan Maret 2026, persentase penduduk yang termasuk dalam kategori miskin mencapai 8,07 persen, yang setara dengan sekitar 22,93 juta masyarakat. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan bulan September 2025 yang mencapai 8,25 persen.
Penurunan angka kemiskinan tentu patut diapresiasi. Namun, angka kemiskinan seharusnya tidak membuat kita menghentikan pertanyaan mengenai kehidupan masyarakat setelah mereka melewati garis kemiskinan.
Kemiskinan bukan hanya soal berapa banyak masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat atau keluarga juga menghadapi berbagai masalah terkait pekerjaan, penghasilan, pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, serta kemampuan menghadapi situasi yang tidak terduga.
Keluarga tersebut mungkin tidak lagi termasuk dalam kelompok miskin, namun masih berada dalam situasi ekonomi yang rentan. Kehilangan pekerjaan, kebutuhan kesehatan yang tiba-tiba meningkat, atau kenaikan pengeluaran dapat menyebabkan kondisi keluarga kembali mengalami tekanan. Oleh karena itu, pembangunan sosial harus memperhatikan manusia secara lebih menyeluruh.
Masalahnya bukan hanya tentang siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Memiliki kekayaan bukan sebuah kesalahan. Penting diperhatikan adalah apakah masyarakat secara umum memiliki kesempatan yang memadai untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Di sinilah keteladanan memiliki arti sosial. Kemajuan sebenarnya memberikan peluang lebih banyak masyarakat untuk tumbuh dan berkembang.
Keteladanan Tidak Harus Dimulai dari Orang yang Memiliki Jabatan
Ketika kita membicarakan contoh yang baik, biasanya kita bayangkan individu yang seperti pemimpin, pejabat, guru, tokoh agama, atau siapa saja yang memiliki posisi penting. Padahal, contoh yang baik tidak selalu datang dari manusia yang berada di posisi paling atas. Keteladanan bisa dimulai dari kehidupan yang paling biasa saja.
Seorang pekerja yang tetap jujur meskipun tidak ada yang mengawasi adalah contoh yang baik. Orang tua yang berani mengakui kesalahan kepada anaknya sebenarnya memberi contoh bagaimana cara berbuat benar. Seorang mahasiswa yang tidak memperbanyak nilai dengan cara mencontek meskipun dia bisa melakukan hal itu juga sedang menunjukkan sikap jujur. Masyarakat tidak menyebarkan berita yang belum jelas, menghormati manusia lainnya, menjaga lingkungan, dan membantu sesama tanpa merasa lebih hebat.
Tindakan tersebut mungkin tidak menjadi berita besar.
Namun, kehidupan sosial sebenarnya terbentuk dari tindakan-tindakan kecil seperti itu. Kita juga bisa melihat bagaimana nilai kemanusiaan dihayati melalui berbagai lembaga sosial dan organisasi masyarakat. Contohnya organisasi Islam Muhammadiyah, sudah lama bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, layanan sosial, dan kemanusiaan. Dengan menjalankan prinsip gerakan amar ma'ruf nahi munkar dan tajdid (pembaharuan).
Dalam keteladanan ini yang menjadi figur yang perlu ditiru, bukan hanya tentang cara kerjanya. Akan tetapi bagaimana keyakinan yang dimilikinya diubah menjadi tindakan yang dirasakan oleh masyarakat. Nilai moral baru berarti ketika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tanpa Kejujuran, Kemajuan Hanya Melahirkan Kemewahan Tanpa Martabat
Akhirnya, ekonomi, pendidikan, dan pembangunan semuanya bertujuan yang sama, yaitu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pertumbuhan ekonomi penting. Penurunan kemiskinan penting. Pendidikan juga penting. Namun, semuanya akan kurang bermakna jika kemajuan material tidak diiringi dengan kemajuan dalam cara masyarakat memperlakukan dengan cara lebih humanis.
Kemajuan bukan hanya soal bangunan yang semakin tinggi, teknologi yang semakin maju, atau angka ekonomi yang semakin besar. Kemajuan juga bisa dilihat ketika masyarakat semakin bisa hidup dengan martabat, melakukan kejujuran, berintegritas, dan mendapatkan kesempatan yang adil.
Oleh karena itu, keteladanan bukan hanya soal moral pribadi, tetapi juga merupakan bagian dari kehidupan sosial. Ketika nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari kehidupan bersama, kemajuan tidak hanya terlihat dari angka-angka, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Kita mungkin tidak bisa mengubah semua situasi dalam satu hari. Namun, kita selalu memiliki kesempatan untuk memberikan contoh yang lebih baik pada hari ini. Jujur dan berintegritas bukan hanya sekadar kata-kata yang terdengar enak didengar dalam nasihat. Keduanya harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab itu, sebuah negara tidak hanya terbentuk karena kebijakan besar dan angka-angka pembangunan saja. Sebuah negara terbentuk karena adanya manusia yang setiap hari memutuskan untuk melakukan hal yang benar, meskipun tidak selalu ada yang memperhatikannya. Barangkali, di situlah keteladanan seharusnya dimulai.
Dalam kutipan kata Nelson Mandela "The onus is on us, through hard work, honesty and integrity, to reach for the stars" yang artinya "Tanggung jawab ada pada kita, melalui kerja keras, kejujuran, dan integritas, untuk meraih masa depan yang lebih baik" (Dalam pembangunan Afrika Selatan setelah era apartheid, 1996).
