Bedah Metode Pembinaan Pesantren At-Tawwabin, Lapas Narkotika Yogyakarta Terapkan Tutor Sebaya

Official Account Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA Yogyakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Lapas Narkotika Yogyakarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

YOGYAKARTA – Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta menerapkan metode tutor sebaya (peer tutoring) dalam proses pembinaan keagamaan bagi warga binaan beragama Islam melalui Pesantren At-Tawwabin. Metode ini memberikan kesempatan kepada warga binaan yang memiliki pemahaman keagamaan lebih baik untuk membimbing dan membantu sesama warga binaan dalam mempelajari materi keislaman.
Metode tutor sebaya merupakan pendekatan pembelajaran aktif (active learning) dan pembelajaran kooperatif yang menempatkan peserta didik sebagai bagian aktif dalam proses belajar. Dalam pelaksanaannya, warga binaan yang memiliki kemampuan lebih dalam membaca Al-Qur'an, memahami hukum tajwid, materi fikih, maupun pengetahuan keagamaan lainnya diberikan peran sebagai tutor untuk membimbing rekan-rekannya yang masih mengalami kesulitan.
Penerapan metode ini bukan hal baru di Pesantren At-Tawwabin. Program tersebut telah berlangsung sejak lama dan menjadi salah satu metode pembinaan yang dinilai cukup baik dalam mendukung proses pembelajaran keagamaan di lingkungan Lapas. Melalui interaksi antarsesama warga binaan, proses belajar diharapkan berlangsung lebih aktif, komunikatif, dan mudah dipahami.
Setiap tutor yang terlibat merupakan santri senior Pesantren At-Tawwabin. Penunjukan tutor tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui kualifikasi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, warga binaan yang bertugas sebagai tutor memiliki dasar pemahaman dan kemampuan yang diperlukan untuk membantu proses pembelajaran.
Selain pembelajaran melalui tutor sebaya, setiap warga binaan juga menjalani pengujian untuk mengetahui sejauh mana kemampuan dan pemahaman mereka terhadap materi yang telah dipelajari. Pengujian ini menjadi bagian dari evaluasi pembinaan sekaligus membantu melihat perkembangan kemampuan masing-masing warga binaan.
Metode pembinaan ini digagas oleh petugas Lapas Narkotika Yogyakarta, Catur Andriyana dan Sumarno, melalui kerja sama dengan pihak serta lembaga terkait. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembinaan keagamaan yang terarah, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan warga binaan.
Melalui metode tutor sebaya, warga binaan tidak hanya memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an dan memahami materi keislaman, tetapi juga belajar membangun kepedulian, tanggung jawab, serta semangat saling membantu. Warga binaan yang menjadi tutor pun memperoleh kesempatan untuk memperdalam kembali pengetahuan sekaligus mengembangkan kemampuan dalam membimbing orang lain.
Lapas Narkotika Yogyakarta terus berupaya mengoptimalkan pembinaan kepribadian melalui kegiatan keagamaan yang partisipatif dan berkelanjutan. Pesantren At-Tawwabin menjadi salah satu ruang pembelajaran bagi warga binaan untuk memperkuat pemahaman agama, membentuk karakter positif, serta mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik ketika kembali ke tengah masyarakat.
