Bebas Dari Lapas Terbuka Kendal, Ex WBP ini Terima Pesangon 3 Juta Rupiah
Tulisan dari Lapas Terbuka Kendal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kendal – Kabar gembira datang dari Lapas Terbuka Kendal, bukan tentang pemberian remisi masal, melainkan tentang seorang pria paruh baya bernama Zaenal Arifin yang baru saja menghirup udara bebas setelah 4 tahun 'magang' di LPT Kendal, Selasa (15/07), dengan membawa serta pesangon tunai tiga juta rupiah! Bukan dari klaim asuransi jiwa, melainkan dari hasil cucuran keringatnya menanam terong, cabai, kangkung, jagung dan beternak ayam.
Zaenal, dengan senyum khas bapak-bapak yang baru gajian, tampak sumringah saat keluar dari gerbang Lapas. Ia bukan bebas dengan tangan kosong apalagi tangan hampa. Uang tiga juta rupiah yang ia kantongi adalah premi atas kerja kerasnya selama mengikuti program pembinaan kemandirian pertanian dan peternakan di Lapas Terbuka Kendal. Bisa dibilang, Zaenal ini adalah lulusan terbaik dari "Fakultas Pertanian" Lapas Terbuka Kendal.
"Dulu, jangankan nanam kangkung, bedain bayam sama sawi aja saya bingung," ujar Zaenal sambil terkekeh, disusul gelak tawa petugas lapas yang mengantarnya.
"Tapi, di sini (LPT Kendal), mau tidak mau harus belajar. Eh, ternyata asik juga. Empat tahun di sini, saya belajar banyak. Nanam kangkung biar subur, melihara ayam biar gemuk, dan yang paling penting, gimana caranya membuat lahan pertanian menjadi sesuatu yang sangat menghasilkan" jelas Zaenal.
Lapas Terbuka Kendal memang dikenal dengan program pembinaan kemandirian yang serius dan menghasilkan. Produk pertanian dan peternakan, tak hanya untuk konsumsi internal, tapi juga dijual. Nah, Zaenal ini adalah salah satu WBP paling produktif yang hasil kerjanya dinilai sangat memuaskan, sehingga premi yang terkumpul lumayan banyak.
"Uangnya mau saya pakai buat modal usaha nanam cabai di rumah. Siapa tahu bisa jadi juragan cabai nasional!" tutur Zaenal optimis, seraya menunjukkan sebuah amplop tebal yang disimpannya erat-erat.
Menanggapi besaran premi yang diterima Zaenal, Mulya Adi Guna selaku Kasi Bimnadik Giatja menjelaskan bahwa besaran premi yang diberikan kepada narapidana memang variatif. "Untuk sektor pertanian, sistemnya 60% untuk Lapas sebagai perputaran modal operasional serta PNBP dan 40% untuk WBP yang mengerjakannya," jelas Mulya.
"Sementara itu, untuk sektor peternakan, kami biasanya memberikan premi harian. Hasil dari premi tersebut kami masukan ke Register D berupa emoney Brizzi," pungkas Mulya, mengklarifikasi bahwa Zaenal memang betul-betul menabung hasil jerih payahnya.
Kisah Zaenal Arifin ini membuktikan bahwa Lapas tak selalu tentang hukuman, tapi juga tentang kesempatan kedua, bahkan kesempatan untuk jadi "petani sultan".
#kemenimipas
#ditjenpas
#ditjenpasjateng
#pemasyarakatan
#pemasyarakatanjateng
#infoimipas

