Laporan Keuangan, Kunci yang Tak Dimiliki UMKM untuk Membuka Pintu Bank

Mahasiswa Prodi Akuntansi S1 Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Zainada Aulia Mifriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Banyak pelaku UMKM mengeluh sulit mendapat pembiayaan.
Bank dianggap berbelit, bunga dianggap mencekik. Namun di balik keluhan itu ada alasan yang jarang dibicarakan: Banyak UMKM tidak punya laporan keuangan yang bisa dinilai.

Persoalan ini mengemuka dalam pelatihan penyusunan laporan keuangan dan keterampilan menjual di e-commerce yang digelar PT BPR BKK Jateng (Perseroda) bersama pelaku UMKM Kelurahan Plombokan. Para peserta, yang mayoritas ibu-ibu pemilik usaha rumahan, ada 30 peserta duduk mengikuti materi dari pemateri di depan ruangan.
Bahasa kepercayaan bagi bank
Bagi lembaga keuangan, laporan keuangan adalah bahasa kepercayaan. Tanpa itu, bank tidak punya dasar menilai kemampuan usaha membayar cicilan. Pemilik usaha yang sebenarnya sehat pun bisa ditolak hanya karena tidak mampu membuktikan kesehatannya secara tertulis.
Akibatnya, pemilik usaha yang sebenarnya sehat pun bisa ditolak. Ini bukan karena usahanya buruk, tetapi karena ia tidak mampu membuktikan kesehatannya secara tertulis. Banyak pelaku UMKM masih mencampur uang usaha dengan uang pribadi dan mengandalkan ingatan untuk menghitung untung rugi. [Tambahkan kutipan peserta atau pemateri tentang pengalaman ditolak pengajuan pinjaman.]
Akuntansi sebagai akses, bukan sekadar administrasi
Karena itu, akuntansi sebaiknya dipandang sebagai akses, bukan sekadar urusan administrasi. Usaha yang punya catatan rapi punya posisi tawar lebih baik. Mereka bisa menegosiasikan pinjaman dengan lebih percaya diri, menarik investor, atau mengikuti program bantuan pemerintah yang mensyaratkan dokumen keuangan.
Manfaat yang lebih dekat
Manfaatnya juga terasa dalam keseharian. Dengan laporan yang rapi, pemilik usaha lebih mudah mengetahui produk mana yang paling menguntungkan dan kapan harus menambah stok. Mereka juga bisa menghitung kewajiban pajak dengan benar, sehingga terhindar dari denda dan kerepotan di kemudian hari.
Pendampingan sebagai investasi
Pendampingan pembukuan UMKM seharusnya dipandang sebagai investasi, bukan beban. Kampus, pemerintah daerah, dan komunitas bisnis dapat bekerja sama menyediakan pelatihan murah dan aplikasi pembukuan yang mudah dipakai, termasuk yang bisa dijalankan lewat ponsel. Pelatihan yang mengaitkan pembukuan dengan penjualan di e-commerce, seperti yang dilakukan BPR BKK Jateng, menjadi contoh bahwa kedua keterampilan ini saling melengkapi: usaha yang rajin mencatat penjualan daring otomatis punya rekam jejak yang bisa ditunjukkan ke bank.
Biayanya kecil dibanding manfaatnya, yaitu jutaan usaha yang bisa naik kelas.
