Flamingo Era: Ketika Seorang Ibu Perlahan Kehilangan Warna
Tulisan dari S Laras Wulan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu terakhir, istilah flamingo era sering menyapa telinga kita. Menurutku, ia adalah metafora yang manis, tetapi sekaligus sedikit menusuk.
Ia berbicara tentang satu fase dalam kehidupan perempuan setelah menjadi ibu: ketika dirinya perlahan memudar karena begitu banyak energi dicurahkan untuk merawat kehidupan lain.
Seperti flamingo yang kehilangan warna merah mudanya ketika menyusui anaknya.
Setelah menjadi ibu, banyak perempuan mengalami apa yang dalam psikologi dikenal sebagai role engulfment—ketika satu peran begitu dominan hingga perlahan menutupi identitas lain yang sebelumnya membentuk diri kita:
pekerjaan, cara berpakaian, hobi, pertemanan, bahkan hal-hal kecil yang dahulu membuat kita merasa, “Oh, ini aku.”
Bukan karena kita tidak lagi menyukai semua itu.
Sering kali, energi mental dan emosional kita memang sedang terserap untuk bertahan: memastikan anak terurus, rumah tetap berjalan, pasangan baik-baik saja, kebutuhan keluarga terpenuhi, dan kehidupan sehari-hari tidak berantakan.
Di sanalah warna flamingo itu mulai memudar.
Selama ini, perempuan hidup dalam standar sosial tentang “ibu yang ideal” yang sering kali terlalu diromantisasi.
Ibu harus kuat.
Tidak boleh mengeluh.
Harus sabar.
Harus total dalam pengasuhan.
Harus selalu hadir.
Harus rela berkorban.
Pelan-pelan, standar itu dapat membuat seorang perempuan takut gagal menjadi ibu yang baik.
Alih-alih mencintai dengan aman, kita justru sibuk membuktikan bahwa kita sudah cukup mencintai.
Dalam psikologi, ada konsep perfectionism under pressure—perfeksionisme yang tidak selalu lahir dari ambisi pribadi, tetapi dapat muncul dari tekanan untuk memenuhi ekspektasi sosial dan ketakutan dianggap kurang berkorban.
Akhirnya, banyak perempuan hidup dalam dua mode:
survival mode dan performance mode.
Pada survival mode, kita menjalankan peran secara fungsional.
Mengurus.
Menyiapkan.
Menyelesaikan.
Mengatur.
Memastikan kebutuhan orang lain terpenuhi.
Itulah mengapa seseorang bisa sangat sibuk, tetapi tetap merasa kosong.
Sebab yang terus-menerus kita pastikan adalah kebutuhan anak, pasangan, dan keluarga—sementara kebutuhan diri sendiri selalu berada di urutan berikutnya.
Fase ini sering terasa kuat pada tahun-tahun awal menjadi ibu, ketika tubuh, pikiran, dan kehidupan kita masih beradaptasi dengan ritme yang benar-benar baru.
Bahkan ketika memiliki anak kedua, ketiga, atau keempat, sebagian perempuan kembali merasa seperti “mulai dari nol”. Bukan karena mereka tidak berpengalaman, tetapi karena setiap anak membawa dinamika kehidupan yang baru.
Tubuh dan pikiran kembali melakukan penyesuaian.
Kita seperti berada dalam keadaan siaga terus-menerus.
Akhirnya, yang kita lakukan bukan benar-benar menjalani kehidupan, melainkan sekadar memastikan kehidupan terus berjalan.
Setelah cukup lama berada dalam survival mode, sebagian perempuan kemudian bergerak menuju performance mode.
Ada dorongan untuk kembali terlihat kompeten.
Mulai bekerja lagi.
Berolahraga.
Mengikuti kursus.
Kembali aktif di komunitas.
Membangun karier.
Mengerjakan banyak hal.
Dari luar, kita terlihat kembali menemukan diri.
Namun, tidak selalu sesederhana itu.
Kadang dorongan tersebut bukan sepenuhnya berasal dari self-growth—keinginan untuk bertumbuh karena memang ingin bertumbuh.
Ia bisa juga merupakan bentuk self-preservation: naluri untuk mendapatkan kembali kendali atas identitas diri yang sempat terasa hilang.
Maka tidak mengherankan jika kemudian muncul perbandingan antara ibu rumah tangga dan working mom. Siapa yang lebih produktif? Siapa yang lebih berhasil? Siapa yang lebih punya pencapaian?
Padahal bisa jadi, keduanya sama-sama sedang berusaha menemukan kembali dirinya.
Dan, itu bukan sesuatu yang salah.
Tidak semua orang dapat langsung bebas dari tekanan sosial. Tidak semua orang langsung menyadari dari mana dorongan dalam dirinya berasal.
Kita semua memiliki cara masing-masing untuk beradaptasi.
Karena itu, baik survival mode maupun performance mode dapat dipahami sebagai mekanisme adaptif.
Di sinilah menurut metafora flamingo era menjadi menarik.
Ia seperti sebuah perlawanan kecil terhadap romantisasi tentang “ibu ideal”.
Sebab sesungguhnya, setiap perempuan tetap merupakan pribadi yang layak dilihat, dipandang, disayangi, dan dihargai sebagai dirinya sendiri—bukan hanya sebagai ibu, istri, atau pengurus rumah.
Yang menarik adalah bagaimana makna ini bergeser.
Dalam pandangan sosial yang sangat tradisional, perempuan yang menikah dan memiliki anak seolah harus meninggalkan sepenuhnya identitas yang ia miliki sebelum menikah.
Namun dalam pandangan yang lebih modern, menjadi ibu tidak harus berarti kehilangan jati diri.
Dalam flamingo era, warnanya tidak benar-benar hilang.
Ia hanya memudar.
Dan ketika anak-anak mulai tumbuh, ketika kehidupan perlahan memberikan ruang yang lebih luas, perempuan mulai kembali menapakkan kaki.
Mungkin di jalan yang dulu pernah ia tinggalkan.
Atau justru di jalan baru yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Mungkin fase ini memang sedikit menyakitkan.
Tapi kalau kata aku, justru di sanalah salah satu jalan menuju kedewasaan dimulai.
Kita mulai membangun kembali identitas diri—bukan identitas yang sama seperti dulu, tetapi identitas yang lebih dewasa dan lebih berintegritas.
Di dalamnya ada luka.
Ada pengorbanan.
Ada cinta.
Dan semuanya bisa hidup dalam satu pelukan.
Karena flamingo era adalah fase yang sangat manusiawi.
Ia adalah transisi.
Fase ketika tubuh, pikiran, dan identitas seorang perempuan sedang menyesuaikan diri dengan bentuk kehidupan yang baru.
Kita bisa memudar.
Kita bisa merasa stuck.
Kita bisa kehilangan arah.
Tetapi sesuatu yang sering tidak kita sadari adalah: dalam semua proses itu, kita sebenarnya terus bergerak mencari keseimbangan.
Dan menurutku, itu berharga.
Menjadi ibu bukan berarti berhenti menjadi diri sendiri.
Hanya saja, cara kita mengenali diri sedang berubah.
Barangkali memang begitu hakikat kedewasaan seorang perempuan:
tidak lagi hidup dengan warna yang lama, tetapi menerima bahwa warna yang baru pun tetap indah.
Bukan karena ia lebih sempurna. Melainkan karena ia lahir dari perjalanan yang panjang—dari cinta, kehilangan, pengorbanan, keberanian, dan kesadaran untuk terus bertumbuh.
Perempuan tidak pernah benar-benar kehilangan dirinya.
Kadang kita hanya membutuhkan waktu untuk kembali bercahaya.
Bukan dengan warna yang sama seperti sebelumnya.
Tetapi dengan warna yang lebih berdaya.
Lebih sadar.
Dan lebih dewasa.
Jadi, untuk teman-teman yang sedang berada dalam fase flamingo:
kalian tidak sendirian.
Kalian boleh memudar.
Kalian boleh beristirahat.
Kalian boleh mencari diri kalian kembali.
Dan suatu hari nanti, kalian akan menyadari bahwa warna itu tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya sedang menunggu waktunya untuk kembali bercahaya
Penulis : S Laras Wulan
Catatan Referensi Istilah:
• Role Engulfment: Berakar dari Role Theory (Erving Goffman), saat satu peran sosial mendominasi identitas personal.
• Perfectionism Under Pressure: Terkait konsep Intensive Mothering (Sharon Hays) dan tekanan psikologis untuk memenuhi ekspektasi sosial.
• Survival & Performance Mode: Bersumber dari Coping Theory (Lazarus & Folkman) mengenai respons adaptif terhadap beban mental.
• Identity Reconstruction: Merujuk pada teori Adult Identity Development tentang rekonstruksi identitas yang dinamis.

