Sikap Cina dalam Menanggapi Ancaman Terhadap Keamanan Manusia

lecturer of international relations at sriwijaya university
Tulisan dari Larasati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak pandemi Covid-19 melanda dunia selama dua tahun terakhir, Cina menerima sorotan lebih besar terkait kebijakan luar negeri yang diterapkan di bawah kepemimpinan presiden Xi Jinping. Sebelum terjadinya pandemi Covid-19, ketika mendengar tentang negara Cina, yang ada dalam fikiran orang-orang pada umumnya mungkin tentang pertumbuhan ekonomi yang pesat, negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan sebagainya. dikenal dengan berbagai produksi imitasi atau barang tiruan, mengindikasikan pengaruh ekonomi Cina melalui produk ekspor dan impor yang masif di berbagai negara. Saat ini, selama pandemi Covid-19 menyerang pada sebagian besar lingkungan hidup manusia, beberapa dari kita mungkin lebih ingin tahu tentang siapa Cina dan bagaimana pengaruhnya terhadap negara-negara lain di dunia. Terdapat tiga poin penting untuk melihat isu keamanan manusia sebagai fokus utama dalam menyoroti berbagai isu yang berkembang mengenai Cina dan pengaruhnya terhadap negara-negara di dunia. Keamanan manusia yang difokuskan dalam tulisan ini adalah pertama, mengenai kebijakan atau sikap Cina terhadap kondisi lockdown di Shanghai yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi Cina yang mengalami penurunan.
Pemerintah Cina menerima protes besar-besaran dari penduduk Shanghai terkait buruknya pengelolaan bantuan makanan selama pemberlakuan lockdown yang dimulai pada tanggal 1 April 2022 lalu. Berbagai kalangan penduduk Shanghai menyatakan protes melalui media sosial tentang betapa sulitnya mendapatkan makanan, bahkan sebagian besar bantuan makanan yang disalurkan oleh pemerintah lokal merupakan makanan kedaluwarsa. Beberapa penduduk sampai terpaksa memakan tanaman liar di apartemen ataupun lingkungan rumah mereka akibat kekurangan pasokan makanan. Kondisi ini semakin memburuk seiring dengan perpanjangan lockdown dan lambatnya penanganan dari pemerintah Cina. Selain itu, kebijakan zero covid yang dikeluarkan oleh presiden Xi, juga berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Cina yang mengalami penurunan.
Lockdown selama berminggu-minggu ini menyebabkan Shanghai mengalami krisis besar, kondisi kekurangan makanan akibat kemacetan pengiriman bagi 25 juta penduduk, dan dampak terhadap bisnis dan ekonomi yang turun drastis. Mengatasi hal ini, pemerintah Cina perlu mengambil tindakan dalam menyelesaikan masalah terkait distribusi makanan dan membuka akses layanan prioritas bagi penduduk Shanghai. Misalnya seperti membuka toko bahan pangan dengan ketentuan kapasitas maksimum, ketersediaan akses dalam menggunakan layanan kesehatan di luar maupun di dalam rumah, dan ketersediaan air dan listrik yang memadai. Pemerintah Cina perlu fokus menyelesaikan masalah internal mereka terlebih dahulu, daripada hanya mengupayakan tindakan yang lebih bersifat politis yang malah merugikan penduduknya. Selain itu, pemerintah Cina juga perlu menyampingkan penggunaan retorika ekonomi raksasa, sedangkan penduduknya malah mengalami kelaparan akibat dari kebijakan domestik yang otoritatif.
Kedua, memperjelas posisi Cina dalam konflik antara Rusia dan Ukraina melalui Global Security Initiative (GSI). Pada 21 April lalu, presiden Xi Jinping mengusulkan GSI dengan prinsip keamanan tak terpisahkan. Posisi Cina dalam konflik Rusia dan Ukraina menurut para peneliti merupakan sikap tidak membantu dan tidak meninggalkan Rusia. Cina memilih untuk bersikap netral dengan mengambil keuntungan dari terjadinnya konflik ini. Jika melihat dari sisi kebijakan luar negeri, Cina lebih mengedepankan upaya untuk mencegah terjadinya peningkatan konflik, khususnya antara hubungan Cina dengan AS. Dalam menyikapi konflik Rusia dan Ukraina, Cina perlumengambil langkah proaktif bersama dengan negara-negara di dunia untuk mengelola konflik yang telah mengancam keamanan manusia dan stabilitas keamanan regional maupun internasional. Selain itu, Cina perlu untuk bersikap konsisten sesuai dengan prinsip dari GSI, yaitu melihat konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina sebagai keamanan yang tak terpisahkan. Dengan membuktikan pernyataan dari presiden Xi, bahwa seluruh negara harus menghormati kedaulatan dan integritas teritorial seluruh negara, sambil memperhatikan masalah keamanan yang sah bagi semua orang.
Ketiga, melihat peluang dalam peningkatan hubungan kerja sama pada isu-isu prioritas antara AS dengan Cina, dan implikasinya terhadap negara di kawasan regional maupun internasional. Saat presiden Trump menjabat, hubungan kedua negara mengalami masa-masa sulit akibat dari perang dagang yang dipicu oleh kebijakan tarif AS terhadap produk Cina. Keputusan ini menyebabkan negara-negara yang beraliansi dengan AS maupun Cina terdampak dalam situasi perang dagang ini. AS dan Cina merupakan aktor penting dalam membentuk tatanan internasional di masa depan. Sehingga apapun bentuk persaingan strategis antara AS dan Cina akan memiliki konsekuensi global yang berdampak pada negara-negara lain. Saat ketegangan dalam hubungan AS dan Cina semakin intens, negara-negara yang beraliansi maupun tidak tergabung dalam aliansi, mereka akan khawatir terjebak di tengah konflik antara kedua negara.
Menyikapi hal ini, kedua negara perlu untuk mengelola hubungan mereka tetap stabil dan terkendali. Kerja sama antara AS dan Cina berperan penting dalam mendorong negara-negara di dunia agar ikut berkontribusi dalam menekan potensi peningkatan konflik antara Rusia dan Ukraina, dalam mencegah kerusakan lebih jauh terhadap ancaman keamanan manusia dan stabilitas keamanan global. Ketiga isu ini, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap situasi keamanan manusia yang akan berkembang di masa depan. Situasi yang saat ini kita alami di tengah pandemi Covid-19, semakin diperburuk dengan konflik yang terjadi di beberapa negara di dunia. Semua permasalahan ini menambah faktor penyebab ancaman terhadap keamanan manusia yang semakin beragam.
Referensi
Wen Liu Tracy, ‘Shanghai’s Food Shortages Spur Voluntarism and Cynicism,’ Foreign Policy (daring), 3 May 2022, https://foreignpolicy.com/2022/05/03/shanghai-food-shortages-covid-lockdown-china/, diakses 7 Mei 2022.
‘Shanghai: Residents 'running out of food' in Covid lockdown,’ BBC News (daring), 7 April 2022, https://www.bbc.com/news/world-asia-china-61019975, diakses 7 Mei 2022.
Kevin Yaow and Yew Lun Tian, ‘China's Xi proposes 'global security initiative', without giving details,’ Reuters (daring), 22 April 2022, https://www.reuters.com/world/china/chinas-xi-says-unilateral-sanctions-will-not-work-2022-04-21/, diakses 7 Mei 2022.
