Konten dari Pengguna

Wolf Warrior Diplomacy dalam Kebijakan Luar Negeri Cina di Tengah Pandemi

Larasati

Larasati

lecturer of international relations at sriwijaya university

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Larasati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan teknologi yang semakin maju telah mendorong berbagai aktor dalam hubungan internasional menerapkan cara-cara baru dalam berdiplomasi. Secara universal definisi diplomasi merupakan alat komunikasi antara dua negara atau lebih melalui perwakilan untuk mencapai tujuan politik luar negeri. Untuk mencapai tujuan ini, diplomasi diimplementasikan melalui berbagai cara, salah satunya yaitu diplomasi publik.

Diplomasi publik merupakan upaya untuk mencapai kepentingan nasional suatu negara melalui understanding, informing, and influencing foreign audiences (Benny Susetyo PR,2008). Berbeda dengan proses diplomasi tradisional yang dikembangkan melalui mekanisme government to government relations, maka diplomasi publik lebih menekankan pada government to people atau people to people relations (Benny Susetyo PR,2008). Unsur-unsur dalam diplomasi publik pun beragam seperti penggunaan Mass Media, Pengalaman Individu, Official Information, Rumors, disinformation, dan Counter propaganda. biasanya, alat informasi internasional yang sering digunakan dalam diplomasi ini adalah propaganda, media massa, radio internasional dan lain-lain.

Pandemi Covid-19 yang melanda sebagian besar negara di dunia selama dua tahun terakhir, memaksa setiap negara untuk beradaptasi dengan kondisi yang berubah drastis. Kebijakan lockdown, penutupan perbatasan negara, PPKM dan cara-cara lain untuk mencegah penularan virus Corona yang semakin merebak. Hal ini menyebabkan setiap negara mau tidak mau mengubah cara mereka dalam berdiplomasi. Kebijakan luar negeri Cina saat ini paling menyita sorotan di kalangan negara Barat yang memandang diplomasi Cina saat ini sebagai agresif dan frontal, atau yang sering disebutkan oleh media massa sebagai Wolf Warrior Diplomacy. Menurut negara Barat saat ini Cina sedang mencoba transisi baru dalam kebijakan luar negerinya. Anggapan ini berawal dari sikap para diplomat China yang secara terang-terangan membalas kritikan dari AS dan Australia dengan nada yang keras. Saat ini, kedua negara memiliki hubungan bilateral yang rumit dengan Cina.

Pendekatan “Wolf Warrior Diplomacy” merupakan julukan yang populer di kalangan diplomat Cina, sehingga memperkuat dugaan adanya perubahan dari cara mereka berdiplomasi yang sebelumnya konservatif, pasif, dan sederhana menjadi lebih tegas, proaktif, dan berprofil tinggi. Meskipun pemerintah Cina secara resmi tidak mengeluarkan pernyataan apa pun terkait Wolf Warrior diplomacy ini, kebijakan luar negeri mereka saat ini telah berubah dengan nada politik yang disebut lebih agresif. Julukan ini pertama kali muncul setelah peluncuran serial film Cina berjudul Wolf Warrior dan Wolf Warrior II yang merupakan film blockbuster aksi tentang agen militer pasukan operasi khusus Cina. Film ini dianggap telah meningkatkan kebanggaan nasional dan patriotisme di kalangan masyarakat Cina.

Menanggapi julukan dari negara Barat terhadap cara mereka berdiplomasi saat ini, para diplomat Cina merespons bahwa langkah ini merupakan "pertahanan yang dibenarkan" terhadap serangan Barat (Yew Lun Tian, 2021). di era Xi Jinping jajaran pejabat Cina secara terbuka mengungkapkan pemikiran mereka yang kontroversial dan sering kali memberikan efek negatif bagi hubungan bilateral mereka dengan negara lain.

Ilustrasi dari Pixabay

Juru bicara kementerian luar negeri Cina Hua Chunying dan Zhao Lijian menggunakan Twitter untuk membalas kritikan dari negara Barat yang menganggap penanganan wabah virus Corona yang buruk dan kualitas ekspor peralatan medis Cina yang tidak memadai. Zhao mengatakan dalam tweetnya pada 20 Maret 2020 lalu “jika seseorang mengklaim bahwa ekspor China beracun, maka berhentilah mengenakan masker dan pakaian pelindung buatan Cina.”

Pada 12 Mei 2o2o, ia kembali menuliskan komentar di Twitter yang telah memicu kontroversi dari berbagai kalangan masyarakat internasional, di mana ia menyatakan “mungkin (tentara) AS yang membawa epidemi ke Wuhan” (Zhiqun Zhu, 2020). Melihat adanya gaya baru diplomasi Cina saat ini, menimbulkan pertanyaan dari berbagai analis tentang apa tujuan Cina dengan gaya diplomasi baru ini dan Apakah Wolf Warrior Diplomacy akan membentuk suatu norma baru?.

Analis melihat gaya baru dari kebijakan luar negeri Cina sebagai perpaduan antara kepercayaan dan ketidakamanan yang meningkat di kalangan pemerintah Cina, sehingga membentuk kombinasi dari terciptanya Wolf Warrior Diplomacy. Menurut para diplomat Cina mereka berada di bawah tekanan besar selama bertahun-tahun. Selain merasakan dampak dari perang dagang dengan AS, Cina juga mendapatkan tekanan dari berbagai negara karena dianggap menjadi penyebab utama wabah virus Corona di akhir 2019 lalu. Fenomena Wolf Warrior Diplomacy yang memiliki gambaran agresif dan keras seperti ini, tentu akan mempengaruhi hubungan bilateral Cina dengan Negara lain.

Seperti yang kita tahu, arah kebijakan luar negeri AS yang multilateral dengan fokus memperkuat hubungan dengan negara aliansi. Hal ini tidak akan terlihat baik bagi Cina jika dimusuhi oleh negara-negara di mana Cina seharusnya dapat lebih menekankan arah kebijakan luar negeri dengan menggunakan soft power. Jika memang pemerintah Cina menggunakan Wolf Warrior Diplomacy, model diplomasi seperti ini mungkin lebih defensif, karena Cina memilih untuk melawan mereka yang mengkritik daripada mencoba untuk menanggapi dengan cara yang lebih bijak. Wolf Warrior Diplomacy sejauh ini, cenderung merugikan kebijakan luar negeri Cina karena menimbulkan penolakan dari beberapa negara. Seperti, adanya seruan Australia untuk penyelidikan independen terhadap asal-usul virus corona.

Ilustrasi dari Pixabay

Saat ini model diplomasi Cina di bawah Xi Jinping lebih terfokus pada gagasan bahwa sistem Cina berhasil, dan anggapan di kalangan Partai Komunis Cina yang seharusnya tidak perlu meminta maaf atas cara kerja negara mereka. Ketika Cina merasa tidak mendapatkan rasa hormat yang seharusnya mereka terima, maka akan ada respons balik yang negatif dari mereka.

Apakah model diplomasi baru ini menguntungkan atau malah merugikan Cina menurut penulis tergantung bagaimana negara itu melihatnya. Misalnya Amerika Serikat, jika melihat latar belakang hubungan antara kedua negara maka sulit untuk melihat diplomasi ini sebagai hal yang menguntungkan bagi kepentingan Amerika terhadap China. Berbeda jika kita melihatnya dari negara-negara yang memiliki aliansi dengan Cina. Mereka mungkin akan melihat Wolf Warrior Diplomacy sebagai upaya dalam menegaskan kembali posisi dan pengaruh Cina dalam tatanan politik dan ekonomi dunia.

referensi

Benny Susetyo PR, ‘Peranan Diplomasi Publik,’ Komisi HAK KWI dan Dewan Nasional Setara, 18 Desember 2008, 1-2.

Yew Lun Tian, China ‘Wolf Warrior diplomacy is ‘justified defence’, envoy says,’ Reuters (daring), 17 June 2021, https://www.reuters.com/world/china/chinas-wolf-warrior-diplomacy-is-justified-defence-envoy-says-2021-06-17/, diakses 25 Desember 2021.

Zhiqun Zhu, ‘Interpreting China’s ‘Wolf-Warrior Diplomacy,’ The Diplomat (daring), 15 May 2020, https://thediplomat.com/2020/05/interpreting-chinas-wolf-warrior-diplomacy/, diakses 25 Desember 2021.

Understanding Chinese “Wolf Warrior Diplomacy”, The National Bureau of Asian Research (daring), 22 October 2021, https://www.nbr.org/publication/understanding-chinese-wolf-warrior-diplomacy/, diakses 25 December 2021.