Konten dari Pengguna

Bakar Saja Gaunnya, Kamu Nggak Harus Lanjut: Realitas di Balik Tren "Stop the Wedding! "

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lasma Lydia N tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Pribadi

Coba bayangin deh rasanya. Tanggal pernikahan udah dikunci dari jauh-jauh hari, gedung impian udah diamankan pakai DP yang nguras tabungan, dan undangan digital pun siap disebar ke ratusan orang. Semua energi, waktu, dan kepala pusing selama berbulan-bulan cuma buat satu hari yang katanya bakal jadi momen paling bahagia seumur hidup. Tapi, pas udah mepet hari-H, bukannya rasa tidak sabar yang muncul, dada justru makin sesak. Ada keraguan luar biasa yang nggak bisa lagi dibohongi. Di titik itu, kepala cuma bergeming satu kalimat: duh, bisa nggak sih ini semua dibatalin aja?

Keresahan itu persis banget kayak apa yang diteriakkan penyanyi asal Amerika Serikat, Ashe, lewat lagu barunya yang lagi sliweran di TikTok, "Stop the Wedding!". Di salah satu baitnya yang paling ngena, dia bilang: “Even though the table's set, the guests are waiting. You can burn the dress and run away.” (Meskipun meja sudah ditata dan para tamu sedang menunggu, kau bisa membakar gaun itu dan kabur). Penggalan lirik itu kayak nampar siapa pun yang selama ini mikir kalau batal nikah didetik akhir adalah sebuah dosa sosial yang paling haram.

Berkat lagu itu dan maraknya curhatan di media sosial, tren “Stop the Wedding” langsung meledak. Kalau dulu orang yang batal nikah bakal langsung dicap "sial", jadi bahan omongan tetangga, atau dituduh plin-plan, sekarang pandangannya mulai bergeser. Publik mulai sadar kalau memotong kerugian emosional di tengah jalan jauh lebih terhormat daripada memaksakan diri masuk ke neraka rumah tangga cuma karena takut sama omongan orang.

Jujur saja, badai di balik layar itu nggak seindah video-video estetik di Reels. Bayangkan betapa hancurnya mental seseorang saat harus mengabari keluarga besar bahwa acara pernikahannya batal, atau harus rela uang muka melayang begitu saja. Tapi, alasan di balik keputusan ekstrem ini biasanya bukan hal sepele. Mulai dari perselingkuhan yang mendadak terbongkar, tabiat asli pasangan yang keliatan belangnya pas lagi stres ngurus nikahan, sampai tekanan keluarga yang udah di luar batas wajar. Proses persiapan nikahan itu ibarat saringan paling jujur, dari situ keliatan mana pasangan yang benar-benar siap, dan mana yang masih bingung menata masa depan.

Meski konten-konten di TikTok dan linimasa lain fokusnya emang ke urusan batal nikah, namun kalau kita perhatikan lebih jeli, makna “the wedding” di sini sebenarnya jauh lebih luas dari itu. Di tangan netizen, istilah ini udah berubah jadi metafora bebas buat segala bentuk komitmen hidup yang salah arah.

Pernikahan di sini bisa diartikan sebagai pekerjaan impian yang ternyata zonk, seperti memutuskan resign di hari pertama kerja karena jobdesc aslinya jauh banget dari janji manis waktu interview. Bisa juga diartikan sebagai circle pertemanan yang keliatan solid di luar, tapi ternyata toksik dan suka memanfaatkan di belakang. Atau bahkan proyek kerja sama yang sejak awal udah nunjukin tanda-tanda bahaya (red flag), tapi dipaksa lanjut cuma karena nggak enak sama relasi.

Keberanian anak muda buat bilang stop di tengah jalan ini nggak lepas dari makin meleknya mereka soal kesehatan mental. Istilah kayak gaslighting, toxic environment, atau pentingnya punya boundaries (batasan diri) udah jadi bahasa sehari-hari. Mereka paham betul kalau hidup ini bukan ajang lomba lari siapa yang paling tahan banting menderita demi gengsi.

Platform digital kini berfungsi ganda. Kalau dulunya medsos jadi ajang pamer kesempurnaan hidup yang bikin insecure, sekarang medsos justru jadi safe space. Saat ada orang yang berani speak up, baik itu batal nikah, keluar dari kantor toxic, atau ngelepas pertemanan benalu, kolom komentarnya hampir selalu penuh dukungan. Warganet paham banget kalau butuh mental sekuat baja buat ngelepas sesuatu yang telanjur ada di depan mata.

Tentu saja, nggak ada keputusan patah hati yang gratis. Rasa bersalah karena mengecewakan ekspektasi lingkungan atau omongan orang sekitar yang menganggap kita labil adalah harga pas yang harus dibayar. Tapi, kalau ditaruh di atas timbangan masa depan, kerugian itu nggak ada apa-apanya dibanding potensi trauma batin yang harus ditanggung sampai tua.

Pada akhirnya, apa pun bentuk "pernikahan" atau komitmen besar yang lagi kamu jalani saat ini, baik itu urusan asmara, karir, maupun sosial, kalau di tengah jalan justru bikin kewarasanmu ambruk, beranilah buat melompat keluar. Seperti pesan dari tren ini: meja boleh rapi dan orang-orang boleh menunggu, tapi keselamatan dirimu sendiri selamanya jauh lebih berharga daripada sekadar mempertahankan sandiwara yang salah.