Konten dari Pengguna

Anak Pendiam Bukan Berarti Tidak Aktif

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Latifa Husnaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi Guru mendampingi siswa dengan karakter yang berbeda dalam kegiatan pembelajaran di kelas.,sumber: ai
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi Guru mendampingi siswa dengan karakter yang berbeda dalam kegiatan pembelajaran di kelas.,sumber: ai

Di dalam satu kelas, kita bisa menemukan berbagai macam karakter siswa. Ada anak yang selalu berani mengangkat tangan, ada yang senang berbicara dan berdiskusi, ada yang aktif bergerak, tetapi ada juga anak yang lebih banyak diam dan mengamati. Perbedaan seperti ini merupakan hal yang wajar karena setiap siswa memiliki karakteristik, kebutuhan, kemampuan, dan kondisi yang berbeda.

Sayangnya, siswa yang pendiam terkadang lebih mudah dianggap sebagai siswa yang kurang aktif atau kurang memahami pelajaran. Padahal, anggapan tersebut belum tentu benar. Anak yang jarang berbicara di kelas bisa saja sebenarnya memahami materi, tetapi membutuhkan waktu untuk berpikir sebelum menyampaikan pendapat. Ada juga yang merasa kurang percaya diri atau takut memberikan jawaban yang salah.

Penelitian mengenai karakteristik peserta didik sekolah dasar menunjukkan bahwa siswa memiliki keragaman dalam aspek kognitif, sosial-emosional, fisik, moral, dan motivasi. Karena itu, pembelajaran di sekolah dasar perlu dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan siswa, bukan hanya menggunakan satu pendekatan yang sama untuk semua anak.

Diam Tidak Selalu Berarti Tidak Aktif

Ketika guru bertanya, biasanya siswa yang cepat mengangkat tangan akan lebih mudah terlihat aktif. Sebaliknya, siswa yang hanya memperhatikan dan tidak langsung menjawab sering dianggap pasif. Padahal, keaktifan siswa tidak selalu dapat dilihat dari seberapa sering mereka berbicara.

Ada anak yang lebih nyaman menunjukkan pemahamannya melalui tulisan, gambar, hasil pekerjaan, diskusi kelompok kecil, atau kegiatan praktik. Ada pula anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman berbicara di depan banyak orang.

Hal ini menunjukkan bahwa guru perlu berhati-hati dalam memberikan penilaian terhadap siswa. Jangan sampai siswa yang pendiam langsung diberi label sebagai anak yang malas, tidak mampu, atau tidak memiliki minat belajar.

Pemahaman terhadap karakteristik siswa justru menjadi salah satu dasar penting dalam menciptakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Setiap siswa memiliki kebutuhan, minat, gaya belajar, dan kemampuan yang berbeda sehingga guru perlu mengenali kondisi tersebut sebelum menentukan kegiatan pembelajaran.

Guru Perlu Mengenal Siswa Lebih Dalam

Menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi dari buku kepada siswa. Guru juga perlu mengenal siapa yang sedang belajar di dalam kelasnya.

Misalnya, ketika ada siswa yang tidak pernah menjawab pertanyaan, guru sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa siswa tersebut tidak memahami materi. Guru dapat mencoba mencari tahu penyebabnya. Mungkin siswa tersebut kurang percaya diri, takut salah, belum terbiasa berbicara di depan kelas, atau lebih nyaman menyampaikan pendapat melalui cara lain.

Begitu juga dengan siswa yang terlihat sangat aktif. Keaktifan memang merupakan hal yang positif, tetapi guru tetap perlu melihat apakah aktivitas tersebut mendukung proses belajar atau justru mengganggu teman-temannya.

Dengan memahami kondisi setiap siswa, guru dapat menentukan pendekatan yang lebih sesuai. Penelitian tentang pemahaman karakteristik peserta didik juga menegaskan bahwa informasi mengenai kondisi siswa dapat membantu guru mengembangkan pembelajaran yang lebih berpusat dan berpihak kepada peserta didik.

Memberikan Ruang untuk Setiap Anak

Lalu, apa yang dapat dilakukan guru?

Salah satu caranya adalah memberikan berbagai kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan keaktifannya. Guru tidak harus selalu meminta siswa menjawab pertanyaan secara langsung di depan kelas.

Misalnya, guru dapat memberikan waktu kepada siswa untuk berpikir terlebih dahulu sebelum menjawab. Setelah itu, siswa dapat berdiskusi dengan teman di kelompok kecil sebelum menyampaikan hasil diskusinya kepada kelas.

Cara sederhana seperti ini dapat membuat siswa yang biasanya diam menjadi lebih berani berpartisipasi. Guru juga dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat melalui tulisan, gambar, presentasi kelompok, maupun kegiatan praktik.

Pembelajaran seperti ini bukan berarti guru membiarkan siswa belajar tanpa arahan. Justru guru tetap memiliki peran penting sebagai pendamping yang membantu siswa berkembang sesuai dengan karakteristiknya.

Penelitian di sekolah dasar juga menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan keaktifan dapat membantu siswa yang sebelumnya cenderung diam dan jarang bertukar pikiran menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran.

Jangan Terlalu Cepat Memberi Label

Menurut saya, salah satu hal yang perlu dihindari dalam pendidikan adalah terlalu cepat memberikan label kepada siswa.

Ketika seorang anak sering diam, jangan langsung mengatakan bahwa ia pemalu. Ketika anak sering bergerak, jangan langsung menganggapnya sulit diatur. Ketika seorang anak lambat mengerjakan tugas, jangan langsung menyebutnya malas.

Setiap perilaku memiliki kemungkinan penyebab yang berbeda. Karena itu, guru perlu mengamati, berkomunikasi, dan memahami kondisi siswa sebelum memberikan penilaian.

Anak-anak sekolah dasar masih berada dalam tahap perkembangan yang terus berubah. Perkembangan kognitif, bahasa, sosial, dan emosional mereka juga dipengaruhi oleh lingkungan sekolah, interaksi sosial, serta pengalaman yang mereka dapatkan.

Artinya, siswa yang hari ini masih malu berbicara di depan kelas belum tentu akan tetap seperti itu selamanya. Dengan dukungan dan kesempatan yang tepat, kemampuan dan kepercayaan dirinya dapat berkembang.

Kelas yang Baik Bukan Hanya untuk Anak yang Berani

Kelas yang baik bukanlah kelas yang hanya dipenuhi oleh siswa yang berani berbicara. Kelas yang baik adalah kelas yang memberikan ruang kepada setiap siswa untuk belajar dengan caranya masing-masing.

Guru dapat menciptakan suasana yang membuat siswa merasa aman untuk mencoba, bertanya, bahkan melakukan kesalahan. Ketika siswa tidak takut ditertawakan atau dimarahi karena jawabannya salah, mereka akan lebih memiliki keberanian untuk terlibat dalam pembelajaran.

Hal ini juga sejalan dengan pentingnya pembelajaran yang memperhatikan keberagaman peserta didik. Pembelajaran yang berpusat pada siswa tidak berarti semua anak harus melakukan hal yang sama, tetapi memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkembang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristiknya.

Pada akhirnya, setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan bahwa dirinya sedang belajar. Ada yang aktif berbicara, ada yang aktif bertanya, ada yang aktif berdiskusi, dan ada pula yang lebih banyak mengamati tetapi mampu menunjukkan pemahamannya melalui hasil pekerjaan.

Sebagai calon guru sekolah dasar, kita perlu belajar melihat siswa lebih jauh daripada sekadar perilaku yang tampak. Anak yang pendiam bukan berarti tidak aktif, anak yang banyak bertanya bukan berarti merepotkan, dan anak yang lambat bukan berarti tidak mampu.

Tugas guru bukan membuat semua siswa menjadi sama, tetapi membantu setiap anak berkembang berdasarkan potensi dan kebutuhannya. Karena itu, sebelum mengatakan “anak ini tidak aktif”, mungkin kita perlu bertanya lebih dulu, “Apakah selama ini kita sudah memberikan kesempatan kepada anak tersebut untuk menunjukkan keaktifannya?”