Anak SD Juga Perlu Didengar

Mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar, universitas Pamulang.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Latifa Husnaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita melihat seorang siswa yang sebenarnya ingin berbicara, tetapi akhirnya memilih diam karena takut salah atau merasa pendapatnya tidak akan diperhatikan? Situasi seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi penting untuk direnungkan dalam dunia pendidikan.
Selama ini, keberhasilan belajar sering kali dikaitkan dengan nilai, kemampuan menjawab soal, dan pencapaian siswa di kelas. Padahal, ada hal lain yang juga perlu diperhatikan, yaitu bagaimana siswa diberi kesempatan untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya. Anak sekolah dasar bukan hanya seseorang yang datang ke kelas untuk menerima materi, tetapi juga individu yang memiliki pengalaman, pendapat, dan kebutuhan yang berbeda-beda.
Mendengarkan Anak Bukan Berarti Selalu Menuruti
Mendengarkan siswa bukan berarti guru harus selalu menyetujui semua perkataan atau keinginan mereka. Mendengarkan berarti memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbicara, memahami alasan di balik pendapatnya, dan menanggapi dengan cara yang menghargai.
Misalnya, ketika guru bertanya tentang materi pelajaran, ada siswa yang menjawab dengan tepat, sementara siswa lain menyampaikan jawaban yang belum sesuai. Dalam situasi seperti ini, guru dapat membantu siswa memperbaiki pemahamannya tanpa langsung menyalahkan atau mempermalukannya di depan teman-teman.
Sikap tersebut penting karena siswa masih berada dalam proses belajar. Mereka perlu mengetahui bahwa kesalahan bukanlah sesuatu yang harus selalu ditakuti, melainkan bagian dari proses memahami sesuatu. Ketika pendapatnya ditanggapi dengan baik, siswa memiliki kesempatan untuk belajar menyampaikan alasan, mendengarkan pandangan orang lain, dan memperbaiki pemikirannya.
Penelitian Rozy dan Sukardi (2023) membahas kemampuan siswa kelas IV sekolah dasar dalam mengungkapkan pendapat. Kajian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menyampaikan pendapat masih menjadi tantangan bagi sebagian siswa. Karena itu, kesempatan untuk berlatih berbicara dan dukungan selama pembelajaran menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Tidak Semua Anak Berani Berbicara
Di dalam kelas, kita dapat menemukan siswa dengan karakter yang beragam. Ada anak yang mudah mengangkat tangan dan menyampaikan pendapatnya. Ada pula anak yang lebih suka berpikir terlebih dahulu, merasa malu, atau membutuhkan waktu sebelum berani berbicara.
Sayangnya, siswa yang sering diam terkadang dianggap tidak memahami pelajaran atau kurang aktif. Padahal, diam tidak selalu berarti tidak tahu. Bisa jadi, anak tersebut belum percaya diri, takut jawabannya salah, atau belum menemukan cara yang nyaman untuk menyampaikan pikirannya.
Oleh sebab itu, guru perlu mengenali kebutuhan setiap siswa. Anak yang belum berani berbicara di depan kelas, misalnya, dapat diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan teman sebangku, menuliskan pendapat, atau menyampaikan jawaban dalam kelompok kecil sebelum berbicara kepada seluruh kelas.
Penelitian Safitri dan rekan-rekan (2022) juga menyoroti pentingnya keterampilan komunikasi siswa sekolah dasar dalam pembelajaran. Komunikasi perlu dilatih melalui kegiatan yang memungkinkan siswa berinteraksi, berdiskusi, dan menyampaikan pemahamannya. Artinya, kesempatan berbicara tidak seharusnya hanya diberikan kepada siswa yang sejak awal sudah berani.
Peran Guru dalam Menciptakan Kelas yang Terbuka
Guru memiliki peran penting dalam membangun suasana kelas yang membuat siswa merasa aman untuk berbicara. Hal ini dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mendengarkan sampai siswa selesai berbicara, tidak menertawakan jawaban yang keliru, dan memberikan tanggapan yang membangun.
Guru juga dapat mengajukan pertanyaan terbuka, misalnya, “Menurut kalian, mengapa hal itu bisa terjadi?” atau “Apakah ada pendapat lain?” Pertanyaan seperti ini memberi ruang bagi siswa untuk berpikir dan memahami bahwa satu persoalan dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda.
Selain itu, guru perlu menghindari kebiasaan hanya menunjuk siswa yang selalu aktif. Siswa yang masih pasif juga perlu memperoleh kesempatan, tetapi tanpa dipaksa dengan cara yang membuatnya semakin takut. Guru dapat memberikan waktu untuk berpikir dan menawarkan beberapa cara untuk menyampaikan pendapat.
Mendengarkan siswa bukan berarti mengurangi kewibawaan guru. Justru, guru dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan siswa melalui komunikasi yang terbuka dan tetap memiliki batasan yang jelas. Dengan begitu, siswa belajar bahwa setiap orang boleh memiliki pendapat, tetapi juga perlu menyampaikannya dengan sopan dan menghargai orang lain.
Anak Perlu Didengar agar Belajar Menghargai Orang Lain
Ketika siswa terbiasa didengarkan, mereka juga dapat belajar mendengarkan orang lain. Dalam diskusi kelas, misalnya, siswa tidak hanya berlatih menyampaikan pendapat, tetapi juga belajar menunggu giliran, menerima perbedaan, dan menanggapi pandangan teman dengan baik.
Kebiasaan tersebut penting untuk membentuk lingkungan belajar yang menghargai keberagaman. Siswa tidak harus selalu memiliki jawaban atau pendapat yang sama. Mereka perlu memahami bahwa perbedaan dapat menjadi kesempatan untuk belajar, bukan alasan untuk merendahkan orang lain.
Bagi calon guru sekolah dasar, hal ini menjadi pengingat bahwa tugas guru bukan hanya menyampaikan materi dan memastikan siswa memperoleh nilai yang baik. Guru juga perlu menciptakan ruang belajar yang membantu anak berkembang, termasuk dalam keberanian berkomunikasi dan kemampuan menghargai sesama.
Pada akhirnya, anak SD juga perlu didengar. Bukan karena semua pendapatnya pasti benar, melainkan karena mereka sedang belajar memahami dunia dan menemukan cara untuk menyampaikan pikirannya. Terkadang, kesempatan sederhana untuk berbicara dan didengarkan dapat menjadi awal bagi tumbuhnya rasa percaya diri.
Sebab, pendidikan yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang berhasil disampaikan guru, tetapi juga tentang seberapa jauh siswa diberi kesempatan untuk berpikir, bertanya, dan menyuarakan pendapatnya.
