Konten dari Pengguna

Belajar Tidak Harus Selalu Duduk dan Mendengarkan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Latifa Husnaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi siswa sedang melakukan proyek pembelajaran. Sumber: AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siswa sedang melakukan proyek pembelajaran. Sumber: AI.

Pernahkah kita melihat siswa yang selama pelajaran hanya duduk, mendengarkan penjelasan guru, mencatat, kemudian mengerjakan soal? Situasi seperti ini masih cukup sering ditemukan dalam pembelajaran di sekolah. Siswa terlihat tenang dan kelas terasa tertib, tetapi apakah kondisi tersebut selalu berarti siswa sedang belajar dengan baik?

Menurut saya, belajar tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai kegiatan duduk diam dan mendengarkan guru. Terutama di sekolah dasar, siswa membutuhkan pengalaman belajar yang lebih beragam. Mereka perlu mendapatkan kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, bergerak, mencoba, mengamati, bahkan melakukan kesalahan selama proses belajar.

Sebagai mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), saya melihat bahwa pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dapat membuat mereka lebih mudah memahami materi. Siswa bukan hanya menerima informasi dari guru, tetapi juga ikut menemukan dan membangun pemahamannya melalui berbagai kegiatan.

Duduk Diam Tidak Selalu Berarti Belajar

Kelas yang tenang memang terlihat nyaman. Namun, kelas yang tenang belum tentu menunjukkan bahwa semua siswa benar-benar memahami materi.

Ada siswa yang mungkin terlihat memperhatikan guru, tetapi sebenarnya belum memahami apa yang sedang dijelaskan. Ada pula siswa yang mencatat semua materi, tetapi kesulitan ketika diminta menjelaskan kembali dengan bahasanya sendiri.

Hal tersebut menunjukkan bahwa belajar tidak hanya berkaitan dengan seberapa lama siswa mampu duduk dan mendengarkan. Yang lebih penting adalah bagaimana siswa memahami, mengolah, dan menggunakan pengetahuan yang mereka dapatkan.

Menurut saya, siswa perlu diberikan kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Ketika siswa hanya menjadi pendengar, kesempatan mereka untuk mengeksplorasi dan menemukan pemahaman sendiri menjadi lebih terbatas.

Belajar Bisa Dilakukan dengan Banyak Cara

Setiap materi sebenarnya dapat dipelajari dengan cara yang berbeda. Tidak semua pembelajaran harus dilakukan melalui penjelasan guru di depan kelas.

Misalnya, ketika mempelajari materi tentang tumbuhan dalam pelajaran IPA, guru tidak harus hanya menjelaskan bagian-bagian tumbuhan melalui buku. Siswa dapat diajak keluar kelas untuk mengamati tumbuhan yang ada di lingkungan sekolah. Mereka dapat mencatat bagian tumbuhan yang ditemukan, membandingkan beberapa jenis tanaman, kemudian mendiskusikan hasil pengamatannya.

Dengan kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mendengar penjelasan tentang tumbuhan, tetapi juga melihat dan mengalaminya secara langsung.

Hal yang sama dapat diterapkan pada berbagai mata pelajaran. Pembelajaran matematika dapat dilakukan melalui permainan atau benda konkret. Pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dilakukan melalui kegiatan bercerita atau membuat tulisan sederhana. Sementara itu, pembelajaran PPKn dapat dikaitkan dengan masalah yang dekat dengan kehidupan siswa.

Artinya, belajar dapat berlangsung melalui banyak cara selama kegiatan tersebut membantu siswa memahami materi.

Siswa Perlu Diberikan Kesempatan untuk Aktif

Pembelajaran aktif bukan berarti siswa harus terus bergerak atau kelas harus selalu ramai. Aktif dalam pembelajaran berarti siswa terlibat dalam proses memahami materi.

Keterlibatan tersebut dapat dilakukan melalui diskusi, tanya jawab, praktik, permainan edukatif, pengamatan, pemecahan masalah, maupun kegiatan kelompok.

Misalnya, ketika guru memberikan sebuah masalah sederhana, siswa dapat diminta berdiskusi untuk mencari solusi. Dalam proses tersebut, siswa belajar menyampaikan pendapat, mendengarkan teman, mempertimbangkan berbagai jawaban, dan mengambil keputusan.

Menurut saya, kegiatan seperti ini memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan siswa hanya menerima jawaban dari guru.

Siswa juga dapat belajar bahwa tidak semua masalah memiliki jawaban yang langsung ditemukan. Mereka perlu mencoba, berdiskusi, dan mencari informasi sebelum mendapatkan kesimpulan.

Guru Bukan Hanya Penyampai Materi

Dalam pembelajaran yang aktif, bukan berarti peran guru menjadi lebih sedikit. Justru guru memiliki tanggung jawab untuk merancang kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Guru tetap perlu menjelaskan materi ketika siswa membutuhkan penjelasan. Namun, penjelasan tersebut dapat dilanjutkan dengan kegiatan yang membuat siswa menerapkan apa yang sudah dipelajari.

Guru juga perlu memperhatikan kondisi siswanya. Tidak semua siswa memiliki kemampuan dan cara belajar yang sama. Ada siswa yang lebih mudah memahami materi melalui gambar, ada yang lebih memahami melalui praktik, dan ada pula yang membutuhkan diskusi.

Karena itu, guru perlu menggunakan variasi kegiatan agar kesempatan belajar tidak hanya diberikan kepada siswa yang sudah terbiasa aktif berbicara.

Sebagai calon guru SD, saya merasa hal ini penting untuk dipahami sejak sekarang. Guru bukan hanya bertugas menyelesaikan materi sesuai jadwal, tetapi juga perlu memastikan bahwa siswa benar-benar mendapatkan pengalaman belajar.

Belajar dari Lingkungan Sekitar

Salah satu hal yang sering dilupakan adalah bahwa sumber belajar tidak selalu berada di dalam buku atau di depan kelas.

Lingkungan sekolah juga dapat menjadi tempat belajar. Halaman sekolah dapat digunakan untuk mengamati tumbuhan atau lingkungan. Kantin dapat menjadi tempat belajar tentang kegiatan ekonomi sederhana. Bahkan kegiatan piket kelas dapat dikaitkan dengan pembelajaran mengenai tanggung jawab dan kerja sama.

Dengan memanfaatkan lingkungan sekitar, siswa dapat melihat hubungan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari.

Menurut saya, pembelajaran seperti ini lebih mudah diingat karena siswa tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga melihat contoh nyata dari apa yang mereka pelajari.

Bukan Berarti Guru Tidak Perlu Menjelaskan

Membahas pembelajaran aktif bukan berarti metode ceramah harus dihilangkan sepenuhnya. Penjelasan guru tetap memiliki peran penting, terutama ketika siswa membutuhkan informasi atau pemahaman awal mengenai suatu materi.

Yang perlu diperhatikan adalah keseimbangannya.

Jika seluruh pembelajaran hanya berisi penjelasan guru, siswa bisa menjadi terlalu bergantung pada informasi yang diberikan. Sebaliknya, jika siswa hanya diberikan aktivitas tanpa arahan yang jelas, mereka juga dapat mengalami kesulitan dalam memahami tujuan pembelajaran.

Karena itu, menurut saya, guru perlu menggabungkan penjelasan dengan berbagai aktivitas yang sesuai. Guru memberikan arahan, kemudian siswa mendapatkan kesempatan untuk mencoba dan menerapkan apa yang telah dipelajari.

Pembelajaran yang Bermakna

Pada akhirnya, tujuan pembelajaran bukan sekadar membuat siswa duduk dengan tertib selama pelajaran berlangsung. Yang lebih penting adalah apakah siswa memahami apa yang dipelajari dan mampu menggunakannya dalam kehidupan.

Siswa sekolah dasar masih berada pada tahap perkembangan yang membutuhkan pengalaman konkret dan kegiatan yang menarik. Oleh karena itu, pembelajaran sebaiknya memberikan ruang bagi mereka untuk aktif, bukan hanya menjadi penerima informasi.

Sebagai mahasiswa PGSD, saya memandang bahwa kelas yang baik bukanlah kelas yang siswanya paling lama duduk diam, melainkan kelas yang membuat siswa terlibat dalam proses belajar.

Belajar tidak harus selalu duduk dan mendengarkan. Siswa juga perlu bergerak, mencoba, bertanya, berdiskusi, mengamati, dan menemukan. Karena pada akhirnya, pembelajaran yang bermakna bukan hanya tentang apa yang disampaikan guru, tetapi tentang apa yang benar-benar dialami dan dipahami oleh siswa.