Mengapa Siswa Cepat Bosan Saat Belajar?

Mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar, universitas Pamulang.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Latifa Husnaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita melihat siswa yang awalnya bersemangat mengikuti pelajaran, tetapi beberapa saat kemudian mulai mengobrol, melamun, atau tidak lagi memperhatikan guru? Kondisi seperti ini cukup sering kita temui dalam pembelajaran di sekolah dasar. Ketika melihat siswa seperti itu, kita mungkin langsung berpikir bahwa mereka malas belajar. Padahal, rasa bosan tidak selalu berarti siswa tidak memiliki keinginan untuk belajar.
Sebagai mahasiswa PGSD, saya melihat bahwa kebosanan siswa dalam belajar perlu dipahami dari berbagai sisi. Siswa sekolah dasar membutuhkan pengalaman belajar yang sesuai dengan usia dan karakteristik mereka. Mereka tidak hanya membutuhkan penjelasan dari guru, tetapi juga kesempatan untuk bertanya, mencoba, berdiskusi, mengamati, dan terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran.
Bosan Tidak Selalu Berarti Malas
Ketika siswa mulai kehilangan perhatian saat belajar, siswa sering kali langsung dianggap malas. Padahal, ada banyak hal yang dapat memengaruhi munculnya rasa bosan. Cara guru menyampaikan materi, suasana kelas, penggunaan media, tingkat kesulitan materi, serta motivasi siswa dapat menjadi beberapa faktor yang perlu diperhatikan.
Karena itu, ketika siswa mulai tidak fokus, guru sebaiknya tidak langsung memberikan label sebagai siswa yang malas. Guru dapat mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi. Bisa saja siswa belum memahami materi, merasa kegiatan pembelajaran terlalu monoton, atau membutuhkan cara belajar yang berbeda.
Motivasi juga memiliki peran dalam membuat siswa tetap terlibat dalam pembelajaran. Penelitian mengenai motivasi siswa sekolah dasar menunjukkan bahwa kegiatan yang menarik, demonstrasi, diskusi, media pembelajaran, dan lingkungan belajar yang kondusif termasuk hal yang berkaitan dengan motivasi belajar siswa.
Pembelajaran yang Monoton Dapat Membuat Siswa Jenuh
Bayangkan jika setiap hari siswa hanya mendengarkan penjelasan guru, mencatat materi, kemudian mengerjakan soal. Kegiatan tersebut memang tetap diperlukan, tetapi jika dilakukan dengan pola yang sama secara terus-menerus, siswa dapat merasa jenuh.
Pembelajaran tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang sama. Guru dapat mengajak siswa berdiskusi, melakukan pengamatan, bekerja dalam kelompok, menggunakan benda konkret, atau menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari.
Hal ini sejalan dengan arah pembelajaran yang semakin menekankan keterlibatan aktif siswa. Kemendikdasmen, misalnya, menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam mendorong peserta didik untuk aktif mengamati, bertanya, bereksplorasi, dan berkolaborasi.
Guru Perlu Memahami Penyebab Kebosanan
Mengatasi kebosanan siswa bukan berarti guru harus membuat kelas selalu ramai atau setiap pembelajaran harus diisi permainan. Yang lebih penting adalah guru memahami penyebab siswa kehilangan perhatian.
Misalnya, ketika siswa kesulitan memahami materi yang abstrak, guru dapat menggunakan gambar, benda konkret, video, atau kegiatan sederhana. Dengan cara tersebut, materi yang awalnya sulit dipahami dapat menjadi lebih dekat dengan pengalaman siswa.
Guru juga perlu menyadari bahwa setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda. Ada siswa yang mudah memahami materi melalui penjelasan, tetapi ada juga yang lebih mudah memahami ketika mereka melihat, mencoba, atau melakukan sesuatu secara langsung.
Belajar Tidak Harus Selalu Serius
Belajar memang membutuhkan kesungguhan, tetapi suasana pembelajaran tidak harus selalu tegang. Siswa sekolah dasar juga membutuhkan kesempatan untuk bergerak, bertanya, berdiskusi, bekerja sama, dan mengeksplorasi.
Pembelajaran yang menyenangkan dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti permainan edukatif, diskusi kelompok, pengamatan lingkungan, praktik sederhana, maupun proyek. Namun, pembelajaran menyenangkan bukan berarti setiap kegiatan harus berupa permainan.
Menurut saya, yang paling penting adalah siswa merasa dilibatkan dan memahami tujuan dari kegiatan yang mereka lakukan. Dengan begitu, belajar tidak hanya menjadi kegiatan untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga menjadi pengalaman yang membuat siswa ingin mengetahui lebih banyak.
Siswa Perlu Diberi Kesempatan untuk Aktif
Salah satu cara untuk mengurangi kebosanan adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara langsung. Guru dapat mengajukan pertanyaan, meminta pendapat, memberikan tugas pengamatan, atau meminta siswa menjelaskan kembali materi dengan bahasa mereka sendiri.
Ketika siswa hanya mendengarkan penjelasan guru dari awal sampai akhir, mereka dapat lebih mudah kehilangan fokus. Sebaliknya, ketika siswa diberi kesempatan untuk bertanya, mencoba, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat, mereka memiliki peran yang lebih aktif dalam pembelajaran.
Penggunaan media juga dapat membantu membuat pembelajaran lebih bervariasi. Namun, media tidak selalu harus berupa teknologi. Gambar, kartu, benda di sekitar kelas, lingkungan sekolah, atau alat sederhana juga dapat digunakan sebagai sumber belajar.
Guru Bukan Hanya Menyampaikan Materi
Menurut saya, tugas guru bukan hanya memastikan seluruh materi selesai disampaikan. Guru juga perlu memperhatikan bagaimana siswa mengikuti proses pembelajaran.
Apakah siswa memahami materi? Apakah mereka terlibat? Apakah mereka memiliki kesempatan untuk bertanya dan mencoba?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena keberhasilan pembelajaran tidak hanya dapat dilihat dari selesainya materi. Guru perlu menciptakan pengalaman belajar yang membuat siswa memahami materi sekaligus terlibat dalam prosesnya.
Penggunaan media interaktif juga dapat menjadi salah satu pilihan. Penelitian terbaru di sekolah dasar mengenai Interactive Flat Panel, misalnya, melaporkan adanya peningkatan motivasi dan partisipasi siswa ketika media tersebut digunakan dalam pembelajaran. Namun, penggunaan teknologi tetap perlu disesuaikan dengan tujuan dan kebutuhan pembelajaran.
Membuat Siswa Tertarik untuk Belajar
Pada akhirnya, siswa yang terlihat bosan belum tentu berarti mereka tidak mau belajar. Bisa saja mereka membutuhkan suasana, metode, atau kegiatan belajar yang berbeda.
Sebagai calon guru SD, saya menyadari bahwa memahami siswa merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran. Guru perlu menciptakan kegiatan yang tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir, bertanya, mencoba, dan berinteraksi.
Jadi, ketika melihat siswa mulai bosan, mungkin kita tidak perlu langsung bertanya, “Mengapa siswa malas belajar?” Kita juga perlu bertanya, “Apakah cara pembelajaran yang diberikan sudah membuat siswa tertarik untuk belajar?”
Pertanyaan tersebut penting karena pembelajaran bukan hanya tentang menyelesaikan materi, tetapi juga tentang menumbuhkan rasa ingin tahu dan membuat siswa memiliki keinginan untuk terus belajar.
