Konten dari Pengguna

Tugas Banyak, Apakah Siswa Benar-Benar Belajar?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Latifa Husnaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi siswa sd kelelahan akibat tumpukan tugas. sumber:ai
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi siswa sd kelelahan akibat tumpukan tugas. sumber:ai

Pernahkah kita melihat siswa membawa banyak buku dan tugas untuk dikerjakan setelah pulang sekolah? Ada tugas matematika, Bahasa Indonesia, IPA, bahkan tugas dari mata pelajaran lainnya. Bagi sebagian siswa, tugas memang bisa membantu mereka mengulang materi. Namun, pernahkah kita bertanya apakah semakin banyak tugas berarti semakin banyak pula siswa belajar?

Menurut saya, pertanyaan tersebut penting untuk diperhatikan. Tugas memang menjadi salah satu bagian dari proses pembelajaran. Namun, keberadaan tugas seharusnya tidak hanya dilihat dari jumlahnya. Hal yang lebih penting adalah apakah tugas tersebut membantu siswa memahami materi, melatih kemampuan berpikir, dan membuat mereka lebih mandiri dalam belajar.

Tugas Memang Penting, tetapi Bukan Berarti Harus Banyak

Pemberian tugas bukan sesuatu yang salah. Tugas dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengulang materi yang sudah dipelajari di kelas. Melalui tugas, siswa juga dapat belajar bertanggung jawab terhadap pekerjaan mereka.

Penelitian menunjukkan bahwa pekerjaan rumah dapat memberikan dampak positif terhadap hasil belajar siswa, terutama jika diberikan sebagai pelengkap pembelajaran. Namun, jumlah atau waktu pengerjaan yang paling ideal belum bisa ditentukan secara sederhana untuk semua siswa.

Artinya, yang perlu diperhatikan bukan sekadar berapa banyak tugas yang diberikan, tetapi bagaimana tugas tersebut dirancang dan untuk apa tugas itu diberikan.

Banyak Tugas Belum Tentu Banyak Belajar

Kadang-kadang kita menganggap siswa yang mengerjakan banyak tugas berarti sudah belajar dengan baik. Padahal, belum tentu demikian.

Siswa bisa saja menyelesaikan banyak soal hanya karena ingin segera mengumpulkannya. Mereka mungkin mencari jawaban dari internet, menyalin pekerjaan teman, atau mengerjakan tugas tanpa benar-benar memahami materi.

Dalam kondisi seperti itu, tugas memang selesai, tetapi tujuan pembelajarannya belum tentu tercapai.

Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan tugas seharusnya tidak hanya dilihat dari apakah siswa mengumpulkan tugas tepat waktu. Guru juga perlu melihat apakah siswa memahami proses dan materi yang dikerjakan.

Tugas yang Bermakna Lebih Penting daripada Tugas yang Menumpuk

Menurut saya, tugas yang baik adalah tugas yang memiliki tujuan yang jelas. Misalnya, setelah mempelajari materi tentang tumbuhan, siswa tidak harus selalu diberikan puluhan soal. Guru dapat meminta mereka mengamati tumbuhan di sekitar rumah, mencatat bagian-bagiannya, kemudian menjelaskan hasil pengamatannya.

Dengan kegiatan seperti itu, siswa tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga menggunakan pengetahuan yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.

Tugas juga dapat dibuat dalam bentuk proyek sederhana, pengamatan, wawancara, diskusi keluarga, atau kegiatan mencari informasi. Dengan begitu, siswa memiliki pengalaman belajar yang lebih beragam.

Setiap Siswa Memiliki Kemampuan yang Berbeda

Hal lain yang perlu dipikirkan adalah kondisi setiap siswa tidak sama. Ada siswa yang dapat menyelesaikan tugas dengan cepat, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami instruksi.

Jika tugas diberikan dalam jumlah yang terlalu banyak tanpa mempertimbangkan kemampuan dan kondisi siswa, tugas dapat terasa sebagai beban.

Penelitian mengenai siswa sekolah dasar juga menunjukkan bahwa pemberian tugas secara terus-menerus perlu diperhatikan kaitannya dengan motivasi dan prestasi belajar. Sebuah penelitian tahun 2026 pada siswa kelas V dan VI SD secara khusus mengkaji hubungan pemberian tugas yang berkelanjutan dengan motivasi dan prestasi belajar.

Karena itu, guru perlu mempertimbangkan tingkat kesulitan, waktu pengerjaan, dan kemampuan siswa sebelum memberikan tugas.

Guru Perlu Memikirkan Tujuan Setiap Tugas

Menurut saya, sebelum memberikan tugas, guru sebaiknya bertanya kepada diri sendiri: “Apa yang ingin dicapai siswa melalui tugas ini?”

Jika tujuannya untuk melatih pemahaman, maka tugas seharusnya membantu siswa memahami materi. Jika tujuannya melatih kemampuan berpikir, tugas sebaiknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menganalisis dan menemukan jawaban, bukan sekadar menyalin.

Penelitian terbaru tentang e-homework pada siswa K-12 juga menunjukkan bahwa pekerjaan rumah dapat memberikan pengaruh positif terhadap pencapaian akademik. Namun, pengaruhnya berbeda berdasarkan jenis penilaian, jenjang sekolah, mata pelajaran, dan karakteristik tugas.

Hal ini memperkuat bahwa kualitas dan rancangan tugas juga penting, bukan hanya jumlahnya.

Tugas Tidak Harus Selalu Berupa Soal

Ketika mendengar kata “tugas”, kita sering membayangkan lembar soal yang harus dikerjakan di buku. Padahal, tugas dapat dibuat dalam berbagai bentuk.

Siswa bisa diminta mengamati lingkungan sekitar, membuat gambar, melakukan percobaan sederhana, membaca buku, berdiskusi dengan keluarga, membuat karya, atau mempresentasikan hasil pengamatan.

Tugas seperti ini dapat membuat siswa memiliki kesempatan untuk belajar melalui pengalaman. Bahkan, tugas sederhana yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari bisa menjadi lebih bermakna daripada tugas yang jumlahnya banyak tetapi tidak dipahami siswa.

Orang Tua Juga Tidak Seharusnya Menjadi “Guru Kedua”

Pemberian tugas juga berkaitan dengan kondisi keluarga. Ketika tugas terlalu sulit atau terlalu banyak, orang tua sering kali akhirnya ikut mengerjakan atau bahkan menyelesaikan tugas anak.

Padahal, tujuan tugas adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara mandiri. Orang tua sebaiknya memberikan pendampingan ketika diperlukan, bukan mengambil alih seluruh pekerjaan anak.

Karena itu, tugas yang diberikan guru sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan siswa agar dapat dikerjakan secara mandiri dengan bantuan yang wajar.

Bukan Mengurangi Tugas, tetapi Memperbaiki Cara Memberikannya

Menurut saya, persoalan tugas bukan berarti semua tugas harus dihilangkan. Tugas tetap memiliki manfaat dalam proses pembelajaran. Yang perlu diperbaiki adalah cara guru merancang dan memberikan tugas.

Guru dapat memilih tugas yang benar-benar diperlukan, memberikan instruksi yang jelas, menyesuaikan tingkat kesulitan, dan memberikan umpan balik setelah tugas selesai.

Dengan demikian, siswa tidak hanya sibuk menyelesaikan tugas, tetapi juga mengetahui kesalahan, memahami materi, dan mendapatkan pengalaman dari proses belajar tersebut.

Siswa Perlu Belajar, Bukan Sekadar Menyelesaikan Tugas

Pada akhirnya, tugas hanyalah salah satu bagian dari pembelajaran. Banyaknya tugas tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran bahwa siswa sudah belajar dengan baik.

Sebagai calon guru SD, saya melihat bahwa tugas seharusnya menjadi sarana untuk membantu siswa belajar, bukan sekadar pekerjaan tambahan setelah pembelajaran selesai. Guru perlu memastikan bahwa tugas yang diberikan memang memiliki tujuan dan memberikan manfaat bagi perkembangan siswa.

Jadi, ketika melihat siswa membawa banyak tugas, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan “Apakah semua tugasnya sudah selesai?”, tetapi “Apakah siswa memahami apa yang mereka kerjakan?”

Sebab, pembelajaran yang baik bukan tentang seberapa banyak tugas yang dapat diselesaikan siswa, melainkan seberapa jauh siswa dapat memahami, mencoba, berpikir, dan belajar dari apa yang mereka kerjakan.