Belajar Agama: Bukan Sekadar Dengar Ceramah, Tapi Menggali Makna Hidup

Mahasiswi Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Andalas
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Latifah Maratus Sholihah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menurutku, belajar agama bukanlah hal yang baru. Sejak kecil, aku sudah diajarkan salat, puasa, nilai-nilai akhlak, dan sering diajak ikut pengajian. Lingkungan tempatku tumbuh pun sangat religius, mulai dari menempuh pendidikan di madrasah hingga tinggal di asrama yang berlatar belakang agama. Namun, semakin dewasa, aku mulai menyadari bahwa belajar agama tidak berhenti pada rutinitas atau hafalan semata. Justru ketika duduk di bangku kuliah dan ikut mata kuliah Pendidikan Agama Islam, aku merasa sedang ditantang untuk benar-benar memahami esensi dari beragama itu sendiri, bukan hanya tahu apa yang boleh dan tidak boleh, tetapi tentang memahami alasan di balik ajaran-ajaran itu dan menyadari makna hidup yang terkandung di dalamnya.
Belajar agama pada dasarnya adalah proses memahami dan mendalami ajaran-ajaran keagamaan, baik secara teoretis maupun praktis. Tujuannya bukan sekadar agar kita mengetahui isi ajaran tersebut saja, tetapi juga bagaimana cara kita memperdalam pemahaman terhadap nilai-nilai agama, memperkuat keyakinan, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Singkatnya, belajar agama membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik, bermoral, dan menyadari bahwa hidup ini memiliki pedoman yang bersumber dari wahyu Allah, yakni Al-Qur’an dan hadis. .
Selama satu semester mengikuti kelas ini, banyak pengalaman yang cukup membuka mata. Mulai dari kegiatan presentasi di kelas, proyek kelompok yang harus turun ke lapangan, sampai obrolan-obrolan kecil di luar jam kuliah. Semuanya bikin aku melihat bahwa agama bukan sekadar pelajaran, tapi cara hidup.
Presentasi
Salah satu momen berkesan adalah ketika kelompok kami mendapat giliran untuk mempresentasikan topik “Manusia dan Agama.” Sekilas, tema ini mungkin terdengar sederhana. Namun, ketika kami mulai menggali lebih dalam, ternyata cakupannya sangat luas dan menyentuh sisi eksistensial manusia. Kami menyampaikan bahwa manusia sebagai makhluk berakal tidak akan mampu menjalani kehidupan dengan benar tanpa petunjuk dari Tuhan. Oleh karena itu, agama hadir sebagai kompas moral dan spiritual agar manusia tetap berada pada jalan yang lurus.
Diskusi di kelas saat itu berlangsung cukup seru. Banyak teman yang mengajukan pertanyaan kritis yang membuatku ikut berpikir ulang. Misalnya, “Mengapa manusia perlu mempelajari agama?” atau “Bagaimana agar kita tidak salah dalam memahami dan menjalankan ajaran agama?” Beberapa juga mengaitkan topik tersebut dengan contoh nyata di sekitar kita, seperti konflik sosial, persoalan toleransi, hingga isu moral di media. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat suasana kelas menjadi lebih hidup dan interaktif, tidak sekadar penjelasan satu arah. Dari situ aku mulai menyadari bahwa agama bukanlah sesuatu yang membatasi hidup manusia, melainkan petunjuk agar kita tetap berada di jalan yang benar. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ اِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِى اخْتَلَفُوْا فِيْهِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ٦٤
“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) melainkan agar kamu menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. An-Nahl: 64)
Dari ayat ini, aku paham bahwa Al-Qur’an bukan hanya kumpulan larangan dan perintah. Ia adalah petunjuk dan juga penjelasan dari hal-hal yang sering membuat manusia bingung, agar kita bisa hidup lebih lurus dan bermakna. Presentasi ini membuatku pribadi makin yakin bahwa agama itu bukan sekadar bagian dari identitas, tapi kebutuhan dasar manusia.
Proyek Lapangan: Agama Itu Nyata, Bukan Hanya Wacana
Kalau presentasi membahas secara teori, proyek kelompok justru membawa kami turun langsung ke lapangan. Saat itu, Taplau kami pilih sebagai lokasi observasi, dengan mengangkat tema “sampah”, di mana kami mencoba mencari tahu bagaimana masyarakat memandang dan memperlakukan lingkungan sekitar. Melalui kegiatan ini, kami ingin melihat secara langsung respons masyarakat terhadap isu kebersihan, sekaligus mengamati sejauh mana nilai-nilai Islam, seperti menjaga kebersihan dan bersikap amanah terhadap bumi itu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Hasilnya? Cukup menyedihkan. Masih banyak orang yang membuang sampah sembarangan, terutama anak-anak kecil yang belum dibiasakan menjaga kebersihan sejak dini. Bahkan, di ruang publik seperti Taplau yang seharusnya menjadi tempat rekreasi yang bersih dan nyaman, tapi ternyata sampah berserakan di berbagai sudut. Ironisnya, banyak orang yang mengeluh soal kondisi lingkungan yang kotor, tetapi di sisi lain, mereka sendiri belum sepenuhnya sadar akan tanggung jawab untuk menjaga kebersihan.
Namun, persoalan ini tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada masyarakat saja. Pemerintah pun tampaknya belum maksimal dalam menyediakan fasilitas yang memadai, seperti jumlah tempat sampah yang cukup, papan informasi yang edukatif, maupun sistem pengelolaan sampah yang terorganisir di kawasan tersebut. Akibatnya, kebiasaan buruk ini terus berlangsung tanpa upaya nyata yang mendorong perubahan perilaku.
Padahal, dalam Islam, menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, tapi juga bentuk ibadah. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ ٥٦
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah diatur dengan baik, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan), Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini tidak bicara soal ibadah formal seperti salat atau puasa, tapi soal tanggung jawab terhadap bumi. Islam sebenarnya sangat tegas soal menjaga alam, tapi kesadaran itu belum banyak tercermin dalam perilaku sehari-hari. Dari proyek ini, aku sadar bahwa belajar agama tidak boleh berhenti di teori. Harus ada aksi nyata. Harus turun ke lapangan. Harus meresap ke dalam cara kita hidup.
Catatan Kritis
Jujur saja, meskipun banyak hal yang aku pelajari dari kelas ini, ada beberapa bagian yang menurutku kurang maksimal. Materi yang disampaikan dosen sangat luas dan beragam, tapi terkadang terlalu padat. Saking banyaknya, malah ada bagian yang tidak sempat aku pahami dengan baik. Mungkin karena kurangnya contoh konkret, atau karena waktu yang terbatas. Menurutku, akan lebih efektif jika fokus disederhanakan ke materi yang paling penting dan aplikatif. Yang penting tidak banyak, tapi masuk dan nyangkut di otak mahasiswa.
Selain itu, akan lebih baik dan menarik jika sejak awal mahasiswa diminta membawa mushaf Al-Qur’an ke kelas. Dengan begitu, setiap kali ayat disebutkan, kami bisa langsung mencarinya, membaca, dan memahami maknanya langsung dari sumber aslinya. Hal sederhana seperti ini sebenarnya bisa membuat proses belajar terasa lebih nyata, menyentuh, dan membangun kedekatan langsung dengan isi ajaran yang sedang dipelajari.
Penutup
Belajar agama ternyata bukan proses instan. Ia membutuhkan keterbukaan hati, ruang untuk berdialog, pengalaman langsung, bahkan kritik yang membangun. Dari kelas ini, aku tidak hanya belajar tentang akidah, ibadah, dan etika dalam Islam, tetapi juga menemukan banyak hal tentang diriku sendiri seperti cara berpikir, cara berinteraksi dengan orang lain, dan cara memaknai dunia dari sudut pandang yang lebih bijak dan berlandaskan nilai.
Dosen kami pun telah banyak memberikan pemahaman, bukan hanya secara teoritis, tapi juga lewat cara beliau membimbing dan memberi ruang bagi kami untuk berkembang. Melalui diskusi, tugas, dan proyek lapangan, beliau mengajarkan bahwa agama tidak hanya untuk dihafal, tapi untuk dipahami dan dijalankan dengan penuh kesadaran. Meski tidak semua materi langsung bisa aku serap, setiap pertemuan selalu meninggalkan bekas yang membuatku ingin belajar lebih jauh lagi tentang peran agama dalam kehidupan.
Akhirnya aku paham, belajar agama bukan soal “tahu banyak,” tapi soal “mampu menghidupkan apa yang kita tahu dalam pikiran, lisan, dan juga tindakan.”
