Tradisi Menangani Hujan di Indonesia dan Dunia

Mahasiswi Antropologi Universitas Brawijaya
Konten dari Pengguna
24 Maret 2022 16:27
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Latifatul Qolbiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Kalian Bisa Jadi Pawang Hujan Dadakan Kaya Mba Rara Loh…!
ADVERTISEMENT
Siapa disini yang tau Mbak Rara? Pasti tau dong! Namanya disorot media-media karena aksinya saat hujan turun menjelang Start MotoGP Mandalika viral di media sosial. Loh emang ngapain kok pas hujan-hujan viral? Mba Rara viral karena profesinya yang unik daripada yang lain, yaitu pawang hujan. Mba Rara sudah beberapa kali menjadi pawang hujan ajang-ajang besar, contohnya ASEAN GAME 2018.
Sebenernya Pawang Hujan itu apa sih?
Dalam KBBI kalo kalian cari apa itu pawang hujan, maka di sana akan tertulis pawang hujan adalah orang yang pandai menolak hujan. Kok bisa menolak hujan emang hujan confess ke dia? Eh ga gitu!
Pawang hujan jika dikaji dari sisi budaya termasuk ke dalam kepercayaan masyarakat akan kemampuan spiritual seseorang. Orang yang menjadi pawang hujan dipercaya dapat berkomunikasi dengan hal gaib dan memiliki kekuatan untuk mengendalikan angin, api, air, dan udara. Tidak hanya menolak hujan, seorang pawang hujan juga dipercaya dapat menurunkan hujan.
ADVERTISEMENT
Tidak sampai disitu, selain ada kepercayaan ada orang yang disebut pawang hujan, masih ada banyak kebudayaan yang juga memuat cara-cara lain dalam menangani hujan. Cara yang dimaksud di sini adalah melalui ritual, sehingga kita tidak harus menyewa seorang pawang hujan.
Kearifan lokal untuk penangkal hujan atau meminta hujan tidak saja dengan jasa seorang pawang hujan. Terdapat beberapa cara masyarakat lokal dan dunia dalam menangani masalah hujan.
Sekarang bagian bagi kalian yang mau seperti Mbak Rara nih…
Penangkal Hujan di Indonesia
Berikut contoh caranya dari beberapa tempat di Indonesia:
Lombok
Selain kemarin ada Mbak Rara yang beraksi di Lombok, masyarakat Lombok sendiri telah memiliki ritual hujannya sendiri, tapi yang ini bukannya menangkal hujan malah meminta hujan guys. Masyarakat Lombok mempunyai memohon hujan atau yang disebut Ritual Turun Taun. Ritual ini dilakukan pada masa menjelang musim tanam. Di dalam ritualnya terdapat iringan lirik atau mantra meminta hujan.
ADVERTISEMENT
Berikut mantra yang digunakan masyarakat Lombok:
Turun taun léq Gedong Sari (Turun hujan dari Gedong Sari)
Mumbul katon suarga mulia (Semburan hujan laksana sorga mulia)
Langan Dé Sida Allah nurunang sari (Berkah rahmat Tuhan menurunkan kebahagiaan)
Sarin merta sarin sedana… (Sumber kebahagiaan hidup)
Jawa
Kalo di Jawa bentuk ritualnya juga menggunakan mantra tertentu, namun juga menggunakan sarana seperti sapu lidi dan bawang merah atau brambang. Permohonan menolak hujan dilakukan dengan memasang sapu lidi yang didirikan terbalik di luar rumah dengan ujung sapu lidi tersebut ditusukkan cabai dan bawang merah. Setelah sapu lidi sudah terpasang lalu lafalkan mantranya.
Berikut mantra yang digunakan untuk menangkal hujan di Jawa:
Niat ingsun ora ngadekaké sapu biasa (Niat hamba bukan sekedar mendirikan sapu biasa)
ADVERTISEMENT
Nanging sapu jagat kanggo ngresiki mendhung (Tetapi sapu jagad yang mampu membersihkan mendung)
Udan lan angin saka daérah nama daerah (Hujan dan angin di wilayah nama daerah )
Dibuang menyang Weleri (Dipindahkan ke daerah Weleri)
Sawetara wektu rong ndina (Untuk jangka waktu 2 hari)
Saking kersaning Allah ingkang murbéng jagad (Ini terjadi atas berkah Allah, Penguasa Semesta Alam)
Bali
Di Bali ritual menangani hujan sering dilakukan mengingat upacara keagamaan umat Hindu sering dilakukan. Ritual ini di Bali disebut Nerang Tolak Hujan. Ritual menolak hujan di Bali lebih kompleks dari pada ritual di daerah lainnya.
Tempat yang digunakan seseorang untuk nerang hujan biasanya tergantung jenis kegiatan yang ingin dilakukan, misalnya jika kegiatannya di rumah cukup melakukan ritual di sanggah kemulan atau pangijeng karang. Jika kegiatannya melibatkan dua rumah atau lebih maka di pura banjar, di pelinggih begawan penyarikan, tetapi kalo melibatkan warga antar banjar sebaik-baiknya dilakukan di pura kahyangan tiga.
ADVERTISEMENT
Karena ritual di Bali ini ribet, aku saranin ga usah coba-coba yang ini guys…
Sekarang bagian bagi kalian yang mau lebih internasional untuk menangani hujan, bisa nih coba dengan ritual penangkal hujan dari negara lain.
Penangkal Hujan di Dunia
Jepang
Di Jepang guna menolak hujan mereka menggunakan boneka putih yang digantung di jendela yang disebut bonekaTeru-teru bozu.
Teru teru bozu ini telah ada sejak zaman dahulu di Jepang sebagai penangkal hujan. Konsep boneka ini mirip dengan boneka hantu yang ada saat Halloween. Teru teru bozu juga dianggap jimat yang diyakini memiliki kekuatan ajaib yang mampu mendatangkan cuaca cerah serta menghentikan atau mencegah hujan.
Teru dalam Bahasa Jepang berarti bersinar atau cerah dan bōzu dapat berarti bhiksu (kepala botak). Selain dengan boneka Teru teru bozu juga terdapat sesajen berupa sake suci yang disiramkan ke boneka, lalu bonekanya dihanyutkan ke sungai. Sekarang ini anak-anak di Jepang membuat teru-teru-bōzu dari tisu atau kapas dan benang, mereka menggantungnya di jendela saat mereka mengharapkan hari yang cerah, biasanya pada hari piknik sekolah. Ketika mengharap cuaca cerah boneka teru teru bozu digantung dengan kepala diatas, namun jika digantung secara terbalik mengisyaratkan permohonan agar hujan turun.
ADVERTISEMENT
Ada sebuah lagu yang biasa dinyanyikan anak-anak di Jepang saat membuat Teru Teru Bozu.
Berikut lirik lagunya:
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Itsuka no yume no sora no yō ni
Haretara kin no suzu ageyo Teruteru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Watashi no negai wo kiita nara
Amai o-sake wo tanto nomashoTeruteru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure Sorete mo kumotte naitetara
Sonata no kubi wo chon to kiru zo
Thailand
Kalo Negara Gajah Putih punya apa ya untuk mengkal hujan?
Nah… kaloThailand memiliki ritual penghentian hujan yang menanfaatkan tumbuhan serai dan seorag gadis. Ritual ini dilakukan dengan penancapan tumbuhan serai ke tanah, lalu meminta seorang gadis yang masih perawan untuk memanjatkan doa agar hujan berhenti. Masyarakat Thailand percaya ritual ini dapat menangkal awan sumber badai untuk menjauh sehingga cuaca menjadi cerah.
ADVERTISEMENT
India
Negara yang terkenal dengan Bollywoodnya ini juga memiliki tradisi mendatangkan hujannya sendiri, yang dikenal dengan Varuna Yajna.
Sesuai ajaran agama Hindu ritual ini dilakukan dengan memuja dewa air yang dipercaya mengatur turunnya hujan. Masyarakat India percaya bahwa turunnya hujan adalah tanda datangnya keberuntungan.
Udah puas belum kukasih tahu cara-cara menangkal dan menurunkan hujan? Siapa tau pas nangis bombay dighosting gebetan bisa nih nurunin hujan, biar ga terlihat deru-deru air matanya…..
Perlu dipahami ya guys, bahwa pawang hujan dan ritual-ritual menangkal atau memanggil hujan itu adalah bentuk kebudayaan. Kebudayaan ini ada sebagai wujud upaya manusia menangani apa yang di luar kemampuannya. Jadi jika kalian percaya atau tidak bukanlah permasalahan. Toh jika berhasil seperti apa yang dilakukan Mbak Rara di Mandalika ga ada ruginya bagi kita, malah seharusnya kita bersyukur saja acaranya dapat dimulai kembali karena hujan reda.
ADVERTISEMENT
Referensi :
Christy, I. Y. (2017). Objek-Objek Dalam Ritual Penangkal Hujan. Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan, 12(1), 70-76.
http://cakepane.blogspot.com/2015/07/pawang-hujang-balian-nerang-di-bali.html
https://www.kompas.com/stori/read/2022/03/21/093044079/apakah-pawang-hujan-hanya-ada-di-indonesia?page=all#:~:text=Thailand,memercayai%20adanya%20ritual%20penghentian%20hujan.&text=Biasanya%2C%20mereka%20akan%20menggunakan%20serai,supaya%20hujan%20dapat%20segera%20berhenti.
https://www.hipwee.com/feature/negara-yang-punya-tradisi-pawang-hujan/
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020