Realistis atau Pahit? Pilihan Warga Bandung Raya Kala Rupiah Melemah

Mahasiswa Semester 4 - Program Studi Jurnalistik, Universitas Padjadjaran
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Laudya Messi Ikhrami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Ya, orang susah mah rasanya kayak kegencet, neng.”
Itulah curhatan bi Ani (47) seorang penjaga warung yang memberi tanggapan mengenai salah satu dampak yang ia terima akibat melemahnya nilai tukar rupiah.
Pada (8/06/2026), rupiah telah mencapai angka terlemahnya, yakni Rp 18.201. Hingga saat artikel ini ditulis, angka nilai tukar rupiah masih belum stabil.
Melemahnya nilai tukar rupiah ini memiliki berbagai dampak bagi masyarakat. Lalu, apa saja dampak yang diterima pada beberapa masyarakat Bandung Raya? Apa saja perubahan pola perilaku mereka dalam mengatur pengeluaran untuk kebutuhan pokok?
Asal muasal Rupiah melemah
Sejak Januari 2026, rupiah telah berada di angka Rp16.700 dan terus melemah. Dalam kurun waktu dua bulan, rupiah telah menyentuh angka Rp17.000 pada Maret 2026 dan terus melemah hingga puncaknya berada di angka 18.201 pada Juni 2026.
Jauh sebelum rupiah melemah seperti saat ini, Indonesia pernah punya nilai tukar rupiah kuat. Pada tahun 1990-1997, angka 1 dolar AS berada di kisaran Rp2.200 - 2.400.
Akan tetapi, mimpi indah tersebut tiba-tiba “buyar” ketika krisis moneter melanda di pertengahan 1997 sampai puncaknya di tahun 1998. Krisis ini merupakan bagian dari peristiwa Krisis Finansial Asia.
Krisis tersebut sudah terlebih dahulu menimpa Thailand. Di Indonesia, krisis ini diakibatkan oleh strategi pembangunan ekonomi yang salah.
Nilai tukar rupiah anjlok akibat devisa atau alat pembayaran internasional yang dimiliki pemerintah tidak cukup untuk membayar utang yang telah jatuh tempo. Saat itu, pemerintah kita menggunakan sistem utang luar negeri swasta jangka pendek dan menengah.
Kembali ke tahun 2026, menurut Inti Nuswandari, ahli ekonomi mikro dan makro dari Universitas IPWIJA Bogor mengatakan faktor utama melemahnya rupiah ini diakibatkan oleh ketidakpastian global akibat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dengan Iran.
Ketidakpastian tersebut diiringi pemicu tambahan yang berupa meningkatnya permintaan valas dalam negeri untuk impor, pembayaran hutang dan kebutuhan haji dan umrah.
“Jadi, ketidakpastian global dan kondisi pasar keuangan internasional biasanya menjadi pendorong utama depresiasi, sementara lonjakan permintaan valas domestik semakin memperdalam pelemahannya,” ujar Inti saat diwawancarai via chat.
Selain faktor eksternal tersebut, menurut Inti, melemahnya rupiah juga dapat dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap suku kebijakan bunga bank sentral utama, serta proses perlambatan ekonomi global sehingga para investor lebih berhati-hati terhadap aset negara berkembang seperti Indonesia.
Untuk faktor domestiknya bisa dipengaruhi oleh defisit transaksi berjalan yang melebar, penurunan harga komoditas ekspor, kebijakan fiskal yang kurang populis (seperti menaikan pajak dan pemotongan bantuan sosial untuk menyelamatkan anggaran), ketidakstabilan politik dalam negeri, dan perubahan penegakan hukum.
Dampak yang dirasakan oleh warga Bandung Raya
Kisah pertama datang dari Erin (27) dan Ani (47). Keduanya merupakan warga Cibiru Wetan dan berprofesi sebagai penjaga warung di Warung Bintang, salah satu warung yang berada di lokasi Wisata Batu Kuda, tepatnya di kaki Gunung Manglayang. Mereka berdua masih satu saudara dimana Ani adalah bibi dari Erin.
Tidak hanya satu keluarga, mereka juga merasakan satu dampak yang sama dari melemahnya rupiah, yakni meningkatnya harga barang.
“Ya efeknya melemah susah weh atuh. Efek yang di rasa harga barang pada naik,” curhat Erin.
Akibat daripada hal tersebut, mereka memangkas pengeluaran untuk pembelian barang.
“Jadi kalau beli bahan pokok beras sama minyak dikurangi dari yang biasanya dua liter jadi satu liter. Yang tadinya beli rinso satu kilo jadi beli yang kecil,” tambah Erin.
Selain mengurangi kuantitas pembelian barang, Ani menambahkan bahwa kadang ia tidak membeli barang-barang itu. Hal tersebut dikarenakan ia juga perlu membagi-bagi uang dengan anak-anaknya dan terkadang juga dikurangi jumlahnya.
Ani merasa tercekik dengan melemahnya rupiah ini. Pasalnya, sebelumnya harga barang telah naik dan kini ditambah naik lagi.
“Ya, orang susah mah rasanya kayak kegencet, neng,” curhat Ani.
Ani adalah seorang ibu tunggal yang telah ditinggal meninggal oleh suaminya. Ia juga memiliki beberapa anak yang masih harus ia biayai dengan bekerja sehari-hari di Warung Bintang. Ani juga menulis harapannya untuk pemerintah.
“Ya pengen turun lagi harga-harga, jangan naik terus. Kan usaha susah, ekonomi juga susah.”
Kisah kedua datang dari Suryani (53) seorang Ibu Rumah Tangga yang berasal dari Cikutra, salah satu wilayah yang terletak di timur kota Bandung.
Sebagai seorang IRT yang biasa berbelanja, Suryani merasa bahwa harga bahan pokok naik akibat anjloknya rupiah. Akibatnya, ia harus mengeluarkan bujet lebih untuk memenuhi kebutuhan pokok yang perlu dibeli.
Selain itu, ia juga melakukan budgeting untuk mengontrol pengeluaran sekaligus melakukan penghematan akibat kondisi rupiah yang tak stabil akhir-akhir ini.
“Kalau soal ngatur pengeluaran mah ya kita tiap bulannya buat budgeting lah buat kebutuhan kita apa aja, dan buat sekarang harus agak menghemat dulu biar ga habis banyak pengeluarannya.”
Terakhir, Suryani berharap semoga pemerintah bisa memberikan solusi yang terbaik agar harga-harga bahan pokok menurun.
Kisah ketiga datang dari Alif Kuncoro (55), seorang konsultan lingkungan dan ayah dari tiga bersaudara yang berasal dari Buah Batu, pinggir kota Bandung.
Alif merasa tidak terkena dampak besar dari melemahnya rupiah ini. Akan tetapi ia cukup merasakan efek dari harga barang yang meningkat, terkhususnya dari barang-barang impor.
“Barang-barang impor seperti plastik ya jadi berpengaruh juga sih. Jadi lebih mahal istilahnya. Terutama yang sekian tadi berapa, sekilo tadi berapa sekarang malah naik,” ujar Alif.
Ia juga berharap agar kondisi ini cepat pulih dan selalu mengingatkan kita agar jangan terlalu terlarut.
Apa yang harus dilakukan pemerintah?
Sebelum mengetahui apa yang perlu dilakukan pemerintah, Inti memberi saran apabila kondisi rupiah belum membaik, masyarakat perlu memprioritaskan belanja kebutuhan pokok daripada kebutuhan lainnya, mengurangi konsumsi atau penggunaan barang dan jasa impor yang tidak urgent, dan mulai banyak beralih ke produk lokal yang harganya tidak terpengaruh oleh kurs.
Menurut Inti, untuk menguatkan kembali rupiah dalam jangka pendek, pemerintah dengan Bank Indonesia dapat memperkuat bauran kebijakan makroprudensial (mengawasi dan memelihara stabilitas sistem keuangan secara menyeluruh demi mencegah terjadinya risiko yang bersifat sistemik), melakukan campur tangan di pasar valas dan Surat Berharga Negara (SBN), menjaga daya tarik aset rupiah, dan memastikan komunikasi kebijakan berjalan konsisten sehingga kepercayaan pasar terjaga.
Dalam jangka menengah, pemerintah dapat memfokuskan untuk perbaiki fundamental dengan mendorong ekspor bernilai tinggi, memajukan substitusi impor strategis, memperluas diversifikasi pasar ekspor, menarik investasi asing langsung yang berkualitas, mengelola utang dengan hati-hati, menjaga stabilitas politik serta kepastian hukum dan menjalankan kebijakan fiskal yang kredibel dan berorientasi pada pertumbuhan.
Selain itu, Inti turut menambahkan bahwa pemerintah bisa mengatur kebijakan pengendalian inflasi.
“Kebijakan pengendalian inflasi dapat dilakukan melalui operasi pasar, jaminan pasokan pangan-energi, dan penguatan perlindungan sosial juga penting agar pelemahan rupiah tidak berujung pada krisis daya beli dan kepercayaan.”
Dari kisah empat narasumber, terlihat telah terjadi penurunan daya beli di masyarakat atau munculnya sebuah pola dalam rumah tangga yang mengurangi konsumsi barang non-esensial (seperti gaya hidup), bergeser ke merek yang lebih murah, mengecilkan porsi belanja pangan berkualitas ke karbohidrat murah dan menunda pembelian barang tersier.
Ciri-ciri tersebut mirip dengan yang dirasakan oleh keempat narasumber, terkhususnya pada mengurangi pembelian maupun konsumsi barang-barang tersebut demi menghemat pengeluaran. Efek maupun dampak yang dirasakan juga sama, berupa naiknya harga kebutuhan pokok.
Penurunan daya beli pada masyarakat merupakan sebuah ancaman karena bisa berujung pada pertumbuhan ekonomi negara kita. Semoga rupiah kita kembali membaik dan pemerintah bisa menyelesaikan masalah ini.
