Konten dari Pengguna

KKN Desa Martelu: Jejak Pengabdian Mahasiswa UNIMED untuk Kemandirian Masyarakat

Laura Debrina Tarigan

Laura Debrina Tarigan

Mahasiswi di Universitas Negeri Medan

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Laura Debrina Tarigan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa Martelu, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, menjadi saksi langkah nyata mahasiswa Universitas Negeri Medan (UNIMED) yang mengabdikan diri melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada 7 Juli hingga 18 Agustus 2025. Sebanyak 21 mahasiswa dari 8 Program Studi bergabung menjadi satu kelompok untuk berbagi ilmu, pengalaman, sekaligus belajar langsung dari kehidupan desa. Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Drs. Mesra, M. Sn. dan dukungan dari Bapak Kepala Desa Martelu Ernalem Tarigan, maka Tim mahasiswa KKN mengusung tema “Cerdas”, yang sejalan dengan tema besar KKN UNIMED 2025: “Bersinergi membangun desa mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan”.

Gambar 1. Mahasiswa KKN Unimed, bersinergi membangun desa mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan di Desa Martelu
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1. Mahasiswa KKN Unimed, bersinergi membangun desa mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan di Desa Martelu

Tema “Cerdas” dipilih karena selaras dengan kebutuhan masyarakat, yaitu pendidikan, kesehatan, dan kesadaran lingkungan. Tiga pilar inilah yang kemudian digarap mahasiswa selama 42 hari pengabdian. “Kami ingin meninggalkan sesuatu yang bisa terus bermanfaat bagi desa ini, bahkan setelah kami pulang akan tetap membekas dan berkelanjutan bagi warga desa Martelu,” ungkap Ketua Tim KKN Desa Martelu 2025.

Desa Martelu terdiri dari dua dusun dengan penduduk mayoritas beragama Kristen Protestan dan berasal dari etnis Batak Karo yang memegang teguh adat dan budaya. Mata pencaharian utama warga adalah bertani, dengan lahan pertanian yang subur dan dikelilingi panorama alam yang asri. Secara geografis, desa ini berbatasan dengan Desa Sikeben dan Desa Suka Maju. Kehidupan masyarakat yang erat dengan alam dan tradisi inilah yang menjadi ruang belajar sekaligus tempat berbagi pengalaman bagi mahasiswa.

Pengabdian ini tidak hanya sekadar menjalankan program kerja, melainkan wujud nyata kepedulian generasi muda terhadap desa. Sebanyak sembilan program utama berhasil terlaksana. Program pertama adalah bimbingan belajar untuk anak usia 5–12 tahun, yang juga terbuka bagi siswa SMP yang berminat. Materi yang diajarkan meliputi membaca, menulis, berhitung, dan pelajaran sekolah lainnya. Dalam meningkatkan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan interaktif, mahasiswa menyelipkan permainan edukatif.

Kegiatan ini disambut antusias oleh anak-anak, yang kini lebih percaya diri dalam belajar. “Makin rajin aku mengerjakan PR” ujar FG, siswa kelas III SD di Dusun 1. Hal serupa juga disampaikan MS, siswa kelas II di Dusun 2. Ia mengaku awalnya hanya mampu mengerjakan perkalian 1 dan 2. Namun, setelah mengikuti bimbingan belajar bersama mahasiswa KKN, kini ia sudah mampu menghitung perkalian 1 hingga 6. Pernyataan dari anak-anak desa menunjukkan dampak positif dari kegiatan bimbingan belajar yang dilakukan bersama mahasiswa KKN. Antusiasme dan semangat belajar yang tinggi menjadi motivasi sekaligus tumpuan bagi tim KKN untuk memberikan ilmu yang bermanfaat dan memperluas wawasan anak-anak di Desa Martelu.

Gambar 2. Mahasiswa KKN UNIMED mendampingi anak-anak Dusun I Desa Martelu dalam program bimbingan belajar
Gambar 3. Mahasiswa KKN UNIMED mendampingi anak-anak Dusun II Desan Martelu dalam program bimbingan belajar

Program kedua adalah senam sehat yang dilakukan tiga kali seminggu pada hari Senin, Rabu, dan Jumat. Kegiatan ini tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga. “Setiap sudah mulai kudengar musik, langsung aku siap-siap pergi senam. Semakin segar kurasa badanku ini, nakku” ujar Nini Karo yang sudah berumur lanjut usia. Melalui rutinitas senam yang dilakukan, khususnya para lansia mendapatkan manfaat besar dari kegiatan tersebut.

Gambar 4. Suasana kegiatan senam sehat di Desa Martelu

Program ketiga adalah gotong royong membersihkan saluran air, jalan, dan lingkungan umum. Kegiatan ini dilaksanakan setiap dua minggu sekali, tepatnya pada hari Rabu dan Jumat, bersama perangkat desa serta warga setempat. Gotong royong tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menguatkan semangat kebersamaan antarwarga. Dengan adanya kegiatan ini, lingkungan Desa Martelu terlihat lebih bersih, saluran air menjadi lancar, dan warga semakin sadar akan pentingnya menjaga kebersihan bersama.

Gambar 5. Suasana gotong royong menjaga kebersihan Desa Martelu

Program keempat adalah sosialisasi pengelolaan sampah, dalam kegiatan ini warga diajarkan memilah sampah organik dan anorganik, serta membuat pupuk organik cair (POC) dari limbah dapur. Warga terlihat antusias mempraktikkan proses pembuatan POC yang sederhana namun bermanfaat. “Terima kasih buat anak-anakku KKN, aku secara pribadi banyak kudapat manfaatnya kalian di sini. Pertama kalian ajari anak kami, dia sangat senang dan semangat. Yang kedua kalian sudah mengajari kami cara mengelola sampah, mulai dari sekarang semoga kami praktikkan. Banyak bagus tanaman kami nanti dan kami bisa panen tanpa harus beli pupuk lagi” ungkap salah seorang perwakilan warga Desa Martelu.

Gambar 6. Sosialisasi pengelolaan sampah rumah tangga diolah menjadi pupuk cair oleh mahasiswa KKN UNIMED

Program kelima adalah sosialisasi bencana alam, khususnya tanah longsor yang menjadi salah satu risiko di Desa Martelu. Melalui penyuluhan ini, warga mendapatkan pemahaman tentang langkah pencegahan dan penanganan darurat saat bencana terjadi. Dampak langsung dari kegiatan ini terlihat ketika warga Dusun 2 berinisiatif membersihkan drainase untuk mencegah genangan air yang dapat memicu longsor.

Gambar 7. Suasana sosialisasi bencana alam oleh mahasiswa KKN UNIMED

Program keenam adalah penomoran rumah. Mahasiswa KKN membuat sekaligus memasang papan nomor rumah lengkap dengan nama keluarga. Ide sederhana ini ternyata mendapat apresiasi besar dari warga karena sangat membantu dalam urusan administrasi desa. Dengan adanya papan nomor rumah yang seragam, data warga bisa lebih cepat diperbarui, dan tamu dari luar desa, seperti petugas kesehatan, kurir, atau kerabat, lebih mudah menemukan alamat yang dituju.

Gambar 8. Pemasangan nomor rumah warga desa Martelu

Program ketujuh adalah pemasangan papan petunjuk arah di beberapa titik strategis desa. Titik strategis pemasangan papan petunjuk arah, yaitu posyandu, kantor desa, dusun 2 Martelu (Cingkam), desa Bukum, dan desa Suka Maju. Fasilitas ini membantu warga baru dan tamu menemukan lokasi penting dengan mudah. Selain pemasangan papan petunjuk arah, kami juga membuat papan himbauan untuk berhati-hati karena banyak anak-anak. Contohnya, pemasangan papan himbauan di lapangan voli dan di beberapa tempat lainnya.

Gambar 9. Pemasangan papan petunjuk arah

Program kedelapan adalah renovasi gapura desa yang kini tampil lebih kokoh dan indah, menjadi simbol penyambutan bagi setiap orang yang datang di desa Martelu. Gapura tersebut bukan hanya sekadar pintu masuk, tetapi juga wajah desa yang pertama kali dilihat tamu atau pendatang.

Gambar 10. Renovasi gapura desa Martelu

Program kesembilan adalah perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Suasana desa Martelu saat itu berubah menjadi penuh warna dan semangat. Tidak hanya anak-anak yang antusias, para remaja dan orang tua pun ikut larut dalam kegembiraan. Perayaan ini menjadi lebih dari sekadar lomba, ia menghadirkan momen kebersamaan, mempererat hubungan antara mahasiswa KKN dan masyarakat, serta meneguhkan rasa cinta tanah air di tengah kehidupan desa. Momen 17 Agustus ini menjadi penutup manis rangkaian program KKN sekaligus kenangan yang akan terus hidup di hati warga dan mahasiswa.

Gambar 10. Perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus

Dampak dari seluruh program ini terasa nyata di masyarakat. Kesadaran warga terhadap kebersihan lingkungan meningkat, anak-anak menjadi lebih semangat belajar, infrastruktur desa menjadi lebih rapi dan informatif, dan kesiapsiagaan terhadap bencana longsor semakin baik. “Anak-anak sekarang makin semangat belajar,” ucap salah satu pemuda karang taruna. Kepala Dusun 1 pun turut memberikan kesan saat acara perpisahan, “Terima kasih kami ucapkan kepada anak KKN, sudah banyak berbuat di desa ini, seperti mengajari anak-anak kami, membawa kami untuk kebersihan, dan lain-lainnya. Semoga sukses kedepannya.”

Kegiatan KKN ini ditutup dengan perpisahan sederhana namun penuh makna. Air mata haru mewarnai momen kebersamaan, meninggalkan pesan bahwa 42 hari pengabdian akan tetap hidup dalam ingatan mahasiswa dan warga desa. Bagi mahasiswa, KKN di Desa Martelu bukan sekadar pengabdian, tetapi pembelajaran hidup. Mereka belajar arti kebersamaan, kerendahan hati, dan bagaimana ilmu yang dipelajari di bangku kuliah bisa memberi manfaat nyata.

KKN di Desa Martelu membuktikan bahwa kolaborasi mahasiswa dan masyarakat dapat menciptakan perubahan nyata yang berkelanjutan. Mahasiswa pulang membawa pengalaman berharga, sementara desa memperoleh manfaat nyata yang dapat terus dikembangkan. “Semoga Desa Martelu tetap menjadi desa yang cerdas, mandiri, dan berdaya saing. Kami bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan ini,” tutup Ketua Tim KKN.

Dokumentasi lengkap kegiatan dapat diakses melalui video dengan memindai QR Code yang tertera di bawah ini.