“#KaburAjaDulu”: Ketika Generasi Muda Merasa Lebih Pantas Pergi

Sociolgy Education Students at Jakarta State Universty.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Laura Zefanya Elizabeth tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Beberapa bulan terakhir, media sosial Indonesia diramaikan oleh satu tagar yang cukup menggerakkan kesadaran kita: #KaburAjaDulu. Tagar ini seolah menjadi seruan diam-diam atau kadang sangat lantang dari anak-anak muda Indonesia yang merasa kecewa, lelah, dan kehilangan kepercayaan bahwa mereka bisa hidup dengan layak dan berkembang di tanah air mereka sendiri.
Ini bukan sekadar lelucon di dunia maya; tagar ini menyimpan lapisan realitas yang cukup dalam. Ada yang benar-benar sedang mempersiapkan diri untuk studi ke luar negeri. Ada juga yang sudah berada di luar, melihat ke belakang dengan rasa lega karena telah “melarikan diri” lebih dulu. Namun, yang paling banyak mungkin adalah mereka yang masih terjebak antara bertahan dan pergi di tengah tekanan ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, dan kekecewaan terhadap arah kebijakan negara.

Fenomena #KaburAjaDulu bukan sekadar tentang kehilangan rasa cinta terhadap tanah air. Sebaliknya, ini muncul dari rasa peduli yang mendalam—karena ketika seseorang menginginkan yang lebih baik untuk negaranya, itu menunjukkan bahwa mereka masih memiliki harapan. Sayangnya, harapan yang terus-menerus tidak terwujud bisa berujung pada apatis atau bahkan sinisme.
Coba bayangkan lulusan baru harus bersaing untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji UMR yang tidak sebanding dengan biaya hidup. Di sisi lain, informasi tentang beasiswa, pekerjaan remote, dan karier global semakin mudah diakses. Ketika sistem dalam negeri terasa menutup pintu, wajar jika yang terlihat justru pintu dari luar.
Fenomena ini memang perlu kita telusuri lebih dalam, tidak hanya dari sudut pandang politik atau ekonomi, tetapi juga dari perspektif sosiologis. Kenapa ya, anak muda merasa tidak memiliki tempat dalam struktur masyarakat kita? Apa yang membuat mereka lebih memilih untuk “kabur” ketimbang berusaha memperbaiki keadaan? Dan bagaimana seharusnya pendidikan berperan dalam menjawab keresahan ini?
Secara sosiologis, fenomena ini bisa dilihat sebagai bentuk mobilitas sosial alternatif. Ketika jalur formal seperti pendidikan, pekerjaan, dan meritokrasi di dalam negeri mulai terasa kurang menjanjikan, individu pun mulai mencari cara lain untuk meningkatkan status sosial mereka dan salah satu pilihan yang paling logis adalah keluar dari sistem itu sendiri.
Sosiolog Anthony Giddens berpendapat bahwa manusia adalah agen aktif yang mampu membuat pilihan strategis. Jadi, #KaburAjaDulu bukanlah tindakan putus asa, melainkan sebuah keputusan yang diambil dengan pertimbangan rasional: mana yang menawarkan peluang lebih baik?
Dan tentu saja, media sosial semakin memperkuat fenomena ini. Di X (yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter), tagar ini bukan hanya sekadar tempat untuk meluapkan keluh kesah. Ia juga berfungsi sebagai platform untuk berbagi informasi tentang beasiswa, tips hidup di luar negeri, dan bahkan mentoring daring. Ini adalah bentuk kapital sosial digital, di mana jaringan solidaritas terbentuk dari keresahan yang sama.
Robert Merton menjelaskan bahwa ketika ada ketidaksesuaian antara tujuan sosial yang dianggap sah, seperti sukses dan stabilitas ekonomi, dan cara-cara yang legal untuk mencapainya, maka individu akan mengalami ketegangan. Reaksi terhadap ketegangan ini bisa bervariasi, termasuk “melarikan diri.”
Banyak anak muda Indonesia memandang kesuksesan sebagai tujuan hidup: pekerjaan yang layak, rumah yang stabil, serta akses terhadap kesehatan dan pendidikan. Namun, ketika jalan untuk mencapainya melalui pendidikan, kerja keras, dan meritokrasi, terasa tertutup oleh nepotisme, korupsi, dan kesenjangan ekonomi, mereka mengalami tekanan, dan pilihan untuk pergi ke luar negeri menjadi bentuk inovasi adaptif dalam teori Merton, mencari alternatif yang berbeda dari norma yang ada.
Marx menyebutkan bahwa dalam masyarakat kapitalis, individu sering mengalami alienasi—tercerabut dari makna pekerjaannya, dari sesama manusia, dan dari esensi dirinya. Banyak generasi muda yang merasa hidup dalam sistem yang tidak mewakili aspirasi mereka, hanya menjadi roda kecil dalam mesin besar negara yang tak mendengar.
Fenomena “kabur” bisa dilihat sebagai bentuk pemberontakan halus terhadap sistem yang membuat mereka merasa tak memiliki kendali atas masa depan mereka sendiri. Ketika merasa tidak punya ruang untuk berkontribusi secara otentik, mereka memilih untuk mencari tempat lain yang dianggap lebih manusiawi.
Pertanyaannya adalah: jika semua anak muda berkemampuan untuk pergi, siapa yang akan membangun negeri ini?
Ini adalah kekhawatiran klasik yang dikenal sebagai brain drain. Negara kehilangan sumber daya manusia yang berkualitas, dan semua investasi pendidikan yang telah diberikan dari sekolah dasar hingga universitas akhirnya “dinikmati” oleh negara lain. Namun, pertanyaan balasannya juga menyakitkan: jika negara tidak menyediakan tempat yang layak untuk tumbuh, apakah adil untuk meminta mereka tetap bertahan?
Di sini, kita juga harus jujur bahwa fenomena ini mencerminkan masalah yang lebih dalam, yaitu kepercayaan. Banyak anak muda merasa bahwa negara tidak lagi bisa diandalkan sebagai “rumah,” entah karena korupsi, diskriminasi, atau ketidakmampuan untuk mendengarkan suara generasi baru. Ini bukan hanya soal gaji atau kesempatan, tetapi juga tentang rasa memiliki.
Dari perspektif pendidikan, ini menjadi sebuah tamparan keras. Bukankah seharusnya sekolah dan universitas menjadi tempat di mana harapan tumbuh? Sayangnya, kenyataannya seringkali justru sebaliknya. Biaya pendidikan yang melambung, kurikulum yang tidak relevan, dan kurangnya akses ke peluang kerja membuat sekolah terasa seperti jalan buntu, bukan jalan keluar.
Di sinilah reformasi pendidikan menjadi sangat penting. Kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada pengetahuan akademis semata. Kita perlu literasi global, kemampuan berbahasa asing, keterampilan digital, dan yang tak kalah penting ruang dialog yang sehat di sekolah. Siswa dan mahasiswa harus diberi kesempatan untuk berpikir kritis tentang negara mereka, bukan hanya menghafal pelajaran tentang nasionalisme semu.
Bayangkan jika sekolah menjadi tempat di mana isu-isu seperti #KaburAjaDulu bisa dibahas secara terbuka. Di mana siswa diajak untuk menganalisis masalah sosial dan menciptakan solusi bersama. Mungkin saat itu, keinginan untuk “kabur” tidak akan muncul lagi karena mereka merasa memiliki ruang untuk memperbaiki keadaan, bukan hanya melarikan diri darinya.
Fenomena #KaburAjaDulu adalah alarm keras bagi semua pihak, bukan hanya pemerintah, tetapi juga institusi pendidikan, media, dan keluarga. Ini bukan sekadar ungkapan sinis dari anak muda, melainkan cerminan dari kegagalan struktural yang perlu ditanggapi dengan serius.
Anak muda bukan tidak cinta tanah air. Justru karena mereka peduli, mereka frustrasi. Justru karena mereka punya mimpi besar, mereka merasa kecewa saat negara tidak mampu mewadahi harapan itu.
Kita bisa terus menyalahkan generasi muda yang dianggap “tidak nasionalis,” tetapi itu hanya akan memperlebar jurang. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk mendengarkan mereka bukan untuk menghakimi, tetapi untuk bersama-sama membangun kembali sistem sosial yang adil, inklusif, dan penuh harapan.
Semoga, suatu hari nanti, tagar #KaburAjaDulu bisa berubah menjadi #BangunBersama, karena kita percaya bahwa negeri ini masih bisa diperbaiki—bukan dengan melarikan diri, tetapi dengan kembali, membentuk masa depan yang lebih baik.
