Konten dari Pengguna

Eksistensi dan Tantangan Individu Autistik di Masyarakat

Lauren David Rangga Wardhana

Lauren David Rangga Wardhana

Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Airlangga - Tidak bermaksud menggurui, hanya ingin berbagi melalui sedangkal pemikiran, ilmu dan pengalaman yang dimiliki. Kebenaran yang absolut hanya milik Allah semata.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lauren David Rangga Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh : Lauren David R. Wardhana, Topan, Dani, dan Daniel - Mahasiswa Magister Psikologi Pendidikan Universitas Airlangga

Ilustrasi Anak Autistik Bermain dengan Teman Sebayanya (Sumber: AI Chatgpt)

Pada hakikatnya fenomena autisme ditengah masyarakat Indonesia bukanlah sebuah hal yang asing. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya komunitas yang peduli autistik yang masyarakat ciptakan, seperti: Yayasan Autisma Indonesia, Rumah Autis, Yayasan MPATI, YCHI Autism Center, Pemuda Autisme Indonesia, dan Teman Autis.

Namun faktanya kehadiran komunitas autisme di masyarakat belum cukup mampu untuk menyadarkan masyarakat secara luas. Hal itu didukung oleh beberapa contoh kasus yang dialami oleh individu autistik. Pada tahun 2017 silam seorang siswa berinisial NF berusia 11 tahun harus meregang nyawa akibat bulyying yang dilakukan oleh temannya. (berita lebih lanjut: https://m.jpnn.com/news/anak-autis-tewas-di-bully-di-pontianak). Dalam praktiknya kasus pembullyan terhadap individu autistik serupa masih terus terjadi di tengah masyarakat, khususnya pada sektor pendidikan atau di sekolah.

Dalam praktiknya tantangan individu autistik tidak hanya pada aspek sosial yaitu bullying. hal itu dikarenakan bullying adalah tindakan yang sering dan mudah kita temui. Lebih lanjut, tantangan individu autistik mencakup banyak aspek. Antara lain:

  1. Suport Sistem

  • Sekolah dan guru : beban administratif sangat banyak dan minimnya pelatihan yang dilakukan oleh sekolah membuat guru memiliki pengetahuan yang minim akan autisme.

  • Keterbatasan Sumber Daya : Hanya sedikit sekolah yang mempunyai guru atau konselor dan psikolog pendidikan yang dapat menangani anak berkebutuhan khusus.

  1. Lingkungan

  • Minimnya pengetahuan masyarakat akan fakta, mitos dan persepsi yang berkembang terkait autisme

  1. Kesulitan dalam Mengatasi Masalah pada Diri Sendiri

  • Kesulitan Komunikasi dan Sosial

  • Sensivitas Sensorik

  • Perilaku Repetitif dan Rutinitas

  • Kesulitan Akademik dan Eksekutif Function

  • Kesehatan Mental dan Emosi

Mengutip unairnews (2025) menyebutkan bahwa perkirakan prevalensi individu yang didiagnosis autism spectrum disorder di Indonesia selalu meningkat sebanyak 500 orang setiap tahunnya.

Berdasarkan data diatas, autisme sudah selayaknya mendapat perhatian lebih dari seluruh kalangan usia masyarakat, agar terjadinya kasus pembulyyan hingga berujung pada kehilangan nyawa atau pada hasus yang serupa dapat diminimalisir.

Mengacu pada Pancasila, sila ke 5 yang berbunyi Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Berdasarkan sila tersebut kita sebagai masyarakat Indonesia wajib untuk mengamalkan sila tersebut dengan mendorong keadilan sosial pada individu autistik untuk memiliki akses yang sama terhadap kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan. Hal ini akan menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap individu autistik untuk mencapai potensi maksimalnya.

Adapun bentuk tindakan yang dapat kita jadikan sebagai strategi dalam berinteraksi dan mengoptimalkan potensi individu autistik, antara lain:

  1. Memperbaiki Perspektif

  • Setiap individu dengan autisme adalah individu yang mempunyai bakat dan potensi dibidang yang menjadi minatnya. Hal tersebut bisa kita temukan melalui rutinitas atau minat tetap yang selalu dilakukan dan menjadi kesukaan individu autistik. Setelah minat ditemukan tugas kita adalah mengasahnya terus menerus hingga menjadi individu yang ahli dibidang tersebut.

  • Setiap individu autistik tidak dapat disamakan. Hal tersebut diakarenakan adanya variasi yang luas terkait dengan ciri-ciri jenis autistik atau yang dikenal sebagai spektrum. Sebagai contoh: ada individu autistik yang sangat peka terhadap rangsangan (hipersensorik) dan ada yang kurang peka terhadap bunyi (hiposensorik).

  • Memahami bahwa terlambatnya respon yang diberikan dalam berinteraksi sosial dikarenakan individu autistik perlu waktu untuk memahami apa yang kita sampaikan. Kita bisa menggunakan tempo yang pelan, nada yang jelas, dan bahasa yang lebih sederhana.

  1. Menyusun Strategi Belajar yang Efektif

  • Menggunakan Pendekatan Visual : membuat jadwal & instruksi belajar menggunakan bergambar, kartu yang mencerminkan macam-macam emosi dan aktivitas. Hal ini dapat memancing individu autistik untuk mau berbicara dan menumbuhkan kepekaan terhadap emosional seseorang.

  • Lingkungan Terstruktur : Ciptakan rutinitas harian konsisten dan minim gangguan sensorik yang berlebihan.

  • Membuat Modifikasi Kurikulum : Dalam proses belajar materi disesuaikan dengan kemampuan individu autistik dengan lebih fokus menyusun materi secara konkret dan gunakan juga alat bantu teknologi (AAC, aplikasi) untuk menunjang proses belajar.

  • Dukungan Sosial dan Peer: Lakukan sosialisasi dengan tujuan edukasi teman sebaya terkait autisme dan melakukan permainan peran dengan aturan sosial saat belajar.

  • Pelatihan Terhadap Guru dan Staf: Terkait dengan hal ini sekolah dapat bekerjasama dengan pemerintah untuk mengadakan kegiatan untuk mendalami autisme dengan menghadirkan psikolog pendidikan atau pakar dibidang autisme.

Semoga dari tulisan kami yang sangat sederhana ini dapat menambah pengetahuan serta wawasan mengenai individu autistik, sehingga kita dapat meminimalisir adanya perilaku diskriminatif dan dapat mengembangkan potensi individu autistik itu sendiri sebagai individu yang berdaya.