Konten dari Pengguna

Menunggu Lebih Melelahkan dari Menyelesaikan Pekerjaan, Ini Sebab dan Solusinya

Lauren David Rangga Wardhana
Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Airlangga - Tidak bermaksud menggurui, hanya ingin berbagi melalui sedangkal pemikiran, ilmu dan pengalaman yang dimiliki. Kebenaran yang absolut hanya milik Allah semata.
30 Juni 2025 14:44 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Menunggu Lebih Melelahkan dari Menyelesaikan Pekerjaan, Ini Sebab dan Solusinya
Kelelahan merukapan suatu kondisi yang lazim ditemui pada setiap individu. Kelelahan biasanya diakibatkan oleh aktivitas fisik yang bertujuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
Lauren David Rangga Wardhana
Tulisan dari Lauren David Rangga Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Oleh: Lauren David R. Wardhana (Mahasiswa Magister Psikologi Pendidikan Universitas Airlangga) dan Bee (Autor Blogspot Aksara Senandika)
Ilustrasi Individu Merasa Sangat Kelelahan Efek dari Menunggu. Suber: Dibuat dengan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Individu Merasa Sangat Kelelahan Efek dari Menunggu. Suber: Dibuat dengan AI
Kelelahan merukapan suatu kondisi yang lazim ditemui pada setiap individu. Kelelahan biasanya diakibatkan oleh aktivitas fisik yang bertujuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, namun faktanya kelalahan juga dapat dirasakan oleh individu yang hanya menunggu atau berdiam diri tanpa melibatkan aktivitas fisik.
ADVERTISEMENT
Hal tersebut didukung oleh sebuah hasil temuan penelitian yang dilakukan oleh Wiehler, Branzoli, Adanyeguh, Mochel, dan Pessiglione pada tahun 2022 dalam jurnal Current Biology yang menjelaskan bahwa diam atau menunggu, seringkali lebih melelahkan secara neurometabolik dibanding aktivitas yang dikerjakan secara produktif.
Pada artikel kali ini penulis akan menjelaskan secara terperinci bagaimana dinamika fenomena tersebut terjadi yang didasari oleh hasil penelitian terdahulu dan telaah literatur yang dapat memberikan informasi terhadap masyarakat bahwa rasa lelah saat menunggu merupakan fenomena psikologis dan bukan disebabkan oleh gangguan yang tidak dapat dijelaskan. Utamanya dikaitkan dengan gangguan yang diakibatkan oleh makhluk astral, hihi.
Wiehler, Branzoli, Adanyeguh, Mochel, dan Pessiglione menjelaskan bahwa keterlibatan kognitif yang lama dan tidak produktif (seperti hanya menunggu) menyebabkan akumulasi zat neurotoksik di korteks prefrontal, sehingga mempercepat timbulnya kelelahan mental. Menunggu bukan aktivitas pasif bagi otak. Menunggu memerlukan kontrol kognitif yang menyebabkan penumpukan glutamat.
ADVERTISEMENT
Apasih glutamat itu? glutamat adalah asam amino yang berperan sebagai neurotransmitter (pembawa pesan) yang ada pada otak. Glutamat juga memiliki fungsi dan peran yang vital dalam mendukung fungsi otak dan metabolisme, seperti produksi energi dan biosintesis protein. Penumpukan glutamat, ini memicu penurunan efisiensi kognitif dan munculnya gejala kelelahan, seperti: kurang sabar dan mengalami motivasi yang rendah dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan penjelasan diatas penulis mencoba memberikan beberapa tips yang ampuh dalam meminimalisir efek merasa kelelahan pada saat menunggu atau tidak melakukan sautu aktivitas.
Dalam psikologi, dzikir dapat dipahami sebagai bentuk coping spiritual dan mindfulness Islami, yang mengarahkan pikiran untuk fokus, tenang, dan terhubung dengan makna yang lebih tinggi.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan oleh Nashori pada tahun 2015, menunjukkan bahwa dzikir secara signifikan mampu menurunkan kecemasan dan meningkatkan ketenangan.
Jurnaling merupakan salah satu teknik dalam psikoterapi, dimana seseorang menuliskan pikiran, perasaan, pengalaman, atau refleksi diri di buku harian atau media digital.
Metode jurnaling ini bertujuan untuk menjaga aktivitas kognitif tetap berjalan, mengolah emosi, meningkatkan kesadaran diri, serta mengurangi stres.
Jurnaling juga bertujuan mengubah waktu tunggu menjadi aktivitas produktif saat menunggu, misalnya di ruang tunggu, antrian, atau menunggu hasil. Jurnaling membantu mengalihkan fokus dari rasa bosan dan kecemasan ke aktivitas reflektif yang menenangkan.
Adapun contoh praktif sederhana dalam jurnaling yaitu menuliskan tiga hal yang perlu kita syukuri hari ini, menncatat satu hal yang sedang kita pikirkan atau khawatirkan, menuliskan kemungkinan solusinya dan refleksikan satu pengalaman positif yang baru saja terjadi.
ADVERTISEMENT
Melakukan aktivitas fisik sederhana adalah bentuk gerakan tubuh yang dilakukan dengan intensitas ringan hingga sedang yang tidak membutuhkan keterampilan khusus, tidak terlalu menguras energi, dan bisa dilakukan oleh hampir semua individu dalam kehidupan sehari-hari.
Aktivitas sederhana yang dapat kita lakukan dalam sehari-hari antara lain: Jalan kaki santai selama 10–30 menit,menyapu, mengepel, mencuci piring, dan melakukan stretching sederhana (mengayun tangan, memutar bahu, dan gerakan senam peregangan).
Temuan penelitian yang dilakukan oleh Andrade-Lima dan kawan-kawan pada tahun 2019, dalam Journal of Physical Activity and Health menunjukkan bahwa aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki singkat mampu menurunkan stres dan meningkatkan mood, terutama saat dilakukan saat jeda dari aktivitas duduk lama.
ADVERTISEMENT
Sekian sharing pengetahuan yang bisa kami berikan, semoga dari tulisan yang sederhana ini mampu menjadikan kita menyikapi situasi menunggu dalam kehidupan sehari-hari dengan aktivitas yang selalu melibatkan aktivitas kognitif dan fisik sederhana, sehingga hal tersebut dapat menghindarkan kita dari kelelahan secara psikologis. Terima kasih.