Konten dari Pengguna

Pentingnya Memberikan Nasihat Melalui Komunikasi Tanpa Menyakiti Perasaan

Lauren David Rangga Wardhana

Lauren David Rangga Wardhana

Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Airlangga - Tidak bermaksud menggurui, hanya ingin berbagi melalui sedangkal pemikiran, ilmu dan pengalaman yang dimiliki. Kebenaran yang absolut hanya milik Allah semata.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lauren David Rangga Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Surabaya, 4 Desember 2024 - Sejatinya tidak ada satupun dakwah keagamaan yang mempunyai tujuan tidak baik, sepanjang penjelasan dalam ceramah yang disampaikan memuat nilai-nilai agama yang bersumber dari Tuhan yaitu kitab suci ataupun berdasarkan dari suri tauladan yang ditunjukan oleh seorang utusan tuhan (rasul (dalam agama islam)) ataupun dari orang biasa yang shalih.

Belakangan ini telah viral sebuah video yang menayangkan seorang pendakwah telah terkenal mengucapkan suatu kata, kurang lebih "es teh mu masih banyak? silahkan dijual sana bodoh" (Magelang, Desember 2024). Video tersebut mengundang 2 respon yang berbeda atau pro dan kontra.

Ilustrasi penjual es teh (freepik.com)

Pendakwah hakikatnya merupakan manusia biasa seperti kita yang tidak luput dari pada kesalahan mengucapkan kata. Artikel kali ini penulis tidak akan membahas apakah fenomena diatas merupakan hal yang wajar ataupun tidak wajar, karena hal tersebut dapat dikaitkan dengan metode dakwah yang mana itu diluar kapasitas ilmu yang penulis miliki.

Pesan yang ingin penulis sampaikan pada artikel kali ini yaitu penulis ingin menyampaikan adab terkait dengan komunikasi dan pentingnya menjaga tutur kata yang didasari dengan maksud yang baik namun tidak melukai perasaan orang lain yang menangkap pesan kita, yang dikutip dari berbagai literatur tentang etika komunikasi dalam ajaran agama, yaitu Islam sebagai pendukung penulis dalam menuliskan poin-poinnya.

  1. Diriwayatkan dari H.R. Bukhari dan Muslim ke 15, yang memiliki arti dari Abu Hurairah ra, berkata, Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka melainkan karena terlalu banyak berdebat (HR Ahmad dan Tarmidzi). Kedua hadits tersebut mengajarkan kita bahwa dalam berkomunikasi cukup dengan perkataan yang ringkas dan jelas.

  2. Dalam berbicara ada adab yang diajarkan Rasulullah saw yaitu, seorang muslim senantiasa berusaha membicarakan yang mendatangkan manfaat. Menjauhi perkataan yang tidak berguna seperti gibah, namimah, mencela orang lain dan sebagainya.

  3. Segera mengambil tindakan yaitu meminta ampunan dan maaf kepada Allah serta orang yang terkait, tanpa melalui perantara orang lain.

Manusia sejatinya memiliki sifat bawaan sebagai individu yang baik. Dalam konteks komunikasi, secara naluriah individu akan memberikan nasihati positif kepada orang lain. Terdapat beberapa poin yang harus kita pahami dalam memberikan nasihat agar tidak menyakiti perasaan orang lain.

  1. Menasihati secara pribadi. Sebagaimana Imam Syafii menjelaskan, "Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri. Memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian itu termasuk sesuatu pelecehan.

  2. Memberikan nasihat di waktu yang tepat. Sebagaimana Ibnu Mas'ud menjelaskan, "Sesungguhnya adakalanya hati bersemangat dan mudah menerima, dan adakalanya hati lesu dan mudah menolak. Maka ajaklah hati saat dia bersemangat dan mudah menerima dan tinggalkanlah saat dia malas dan mudah menolak."

  3. Menasihati dengan lembut, tidak membentak atau dengan nada yang tinggi.

  4. Menasihati sesuai dengan tahap menurut syariat, yaitu menggunakan tanggan (kekuasaan), lisan, dan doa. "Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim)

  5. Tidak memaksakan bahwa nasihat yang kita berikan harus diterima atau dilakukan.

Penulis menyadari akan keterbatasan ilmu yang dimiliki, seperti terkait dengan metode dakwah ataupun ilmu lain yang terkait. Topik ini diangkat semata-mata tidak bertujuan untuk menjatuhkan satu pihak tertentu atau memutuskan fenomena yang terjadi adalah hal yang wajar atau tidak wajar. Semoga kita semua dalam berkomunikasi ataupun menasihati seseorang selalu berada dalam lindungan-Nya, sehingga tidak ada pihak yang menjadi sakit hati karena perkataan kita, aamiin.

Lauren David R. Wardhana - Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Airlangga