Pentingnya Pendidikan Moral dan Adab Dalam Menuntut Ilmu

Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Airlangga - Tidak bermaksud menggurui, hanya ingin berbagi melalui sedangkal pemikiran, ilmu dan pengalaman yang dimiliki. Kebenaran yang absolut hanya milik Allah semata.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Lauren David Rangga Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahun 2024 mengenapkan enam tahun pasca peristiwa meninggalnya seorang guru seni di SMA Negeri 1 Torjun usai mendapatkan tindak penganiayaan dari muridnya sendiri.
Peristiwa tersebut menyisakan duka tidak hanya dirasakan oleh pihak keluarga, pasalnya pada masa itu digelar aksi seribu lilin di Monumen Trunojoyo, Sampang. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk belasungkawa untuk mendiang Bapak Budi Cahyanto.
Artikel kali ini bertujuan untuk mengkaji pentingnya pendidikan moral sebagai upaya untuk menghindari setiap peristiwa kekerasan murid terhadap guru. Sehingga terkait dengan kronologi lengkapnya dapat diakses melalui portal berita online dengan referensi link berikut ini:
1. https://www.liputan6.com/news/read/3253573/guru-sma-di-sampang-tewas-dianiaya-murid-siswa-pakai-pita-hitam
2. https://www.suara.com/news/2018/02/07/153816/siswa-pukul-guru-hingga-tewas-dijebloskan-ke-rutan-sampang?page=all
Pendidikan moral sejatinya merupakan pendidikan yang perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemangku kebijakan pemerintah khususnya dalam hal pendidikan maupun para orang tua.
Salah satu bentuk sederhana pendidikan moral yaitu mengajarkan anak untuk selalu mengucapkan 3 kalimat utama, seperti : "terima kasih" saat diberi sesuatu atau dibantu oleh orang lain, "tolong" saat membutuhkan bantuan orang lain, dan "maaf" ketika melakukan kesalahan.
Pendidikan moral yang sederhana ini sering kali menjadi pendidikan sering diabaikan atau jika ada dalam mata pelajaran yang berkaitan dengan moral, hanya sekedar formalitas semata tanpa adanya praktik nyata siswa dalam berperilaku yang baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah.
Hal tersebut tentu berdampak pada kurangnya rasa hormat dan patuh siswa terhadap guru maupun orang tua.
Pendidikan moral dapat dikatakan berhasil jika siswa mamupu secara konsisten menanamkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Namun pendidikan moral saja tidak akan cukup merubah siswa menjadi baik jika tidak diiringi dengan pendidikan agama yang baik, seperti taat beribadah dan takut akan tuhan (Allah).
Pendidikan moral siswa terhadap guru diajarkan dalam Islam, melalui adab-adab dalam menuntut ilmu. Seperti:
Memperbaiki niat : Berniat untuk mendapatkan keridhaan Allah, dengan ridha Allah maka ilmu akan mudah diterima.
Bersungguh-sungguh : Usaha terbaik akan memberikan hasil yang baik.
Menghormati guru : Mengerjakan perintah guru dan tidak mencelanya jika terjadi perbedaan pendapat.
Mengamalkan ilmu yang telah didapatkan : Sebagaimana sabda Rasulullah "Celakalah orang yang tidak berilmu, dan celaka (pula) orang yang berilmu namun tidak mengamalkannya," (HR Abu Nu'im).
Berprasangka baik : Selalu berprasangka baik atas ketetapan Allah, meskipun hasil dan proses pembelajaran yang telah dilakukan tidak sesuai dengan yang direncanakan.
Tentunya masih banyak lagi adab-adab yang harus dimiliki oleh seorang siswa dalam menuntut ilmu dalam islam. Penulis menyadari akan terbatasnya ilmu yang dimiliki, meskipun demikian semoga melalui artikel ini dapat menjadi referansi bagi siswa yang menuntut ilmu perlu adanya adab. Sedangkan bagi guru atau orang tua pendidikan moral yang sifatnya sederhana ini perlu dilakukan dan dipraktikkan secara konsisten agar siswa mempunyai gambaran atau contoh yang nyata.
Inspirasi topik : Sensei (Semoga Allah selalu memberikan kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan. Sehingga dapat selalu berbuat kebaikan)
Lauren David R. Wardhana - Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Airlangga
