Konten dari Pengguna

Pesan untuk Mahasiswa Baru

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lauren David Rangga Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumen Pribadi: Suasana Penutupan Kegiatan PKKMB Mahasiswa Baru
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen Pribadi: Suasana Penutupan Kegiatan PKKMB Mahasiswa Baru

Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru yang lebih populer disebut dengan PKKMB merupakan sebuah kegiatan yang sangat penting dan bermakna bagi setiap calon mahasiswa baru sebelum mengikuti kegiatan belajar dalam ruang kelas perkuliahan secara formal.

Melalui kegiatan PKKMB tersebut calon mahasiswa baru akan lebih mudah dalam beradaptasi secara akademik dengan memahami sistem belajar, kegiatan akademik, dan fasilitas penunjang di lingkungan kampus. Lebih lanjut calon mahasiswa baru juga akan mengenal lebih dekat dengan kehidupan lingkungan tempat belajar serta organisasi mahasiswa yang sehari-hari akan ditemui di fakultas masing-masing.

Berawal dari kegiatan PKKMB, mahasiswa baru dapat membangun jejaring melalui ruang kolaborasi dan perkenalan antar-mahasiswa baru dari berbagai lintas disiplin ilmu.

Salah satu momen penting dalam PKKMB adalah prosesi pengukuhan mahasiswa baru oleh rektor. Bagi saya, momen tersebut menjadi penanda bahwa perjalanan sebagai mahasiswa secara resmi dimulai.

Menjadi mahasiswa bukan sekadar perubahan status dari siswa menjadi mahasiswa. Ada kesempatan yang mungkin hanya datang sekali dalam hidup: kesempatan untuk belajar dari orang-orang yang berbeda, mencoba hal-hal baru, gagal dalam lingkungan yang relatif aman, dan menemukan bidang yang benar-benar ingin kita tekuni.

Tugas dan Tujuan Utama Mahasiswa

Apa sebenarnya tugas utama seorang mahasiswa? Secara sederhana, kita mengenalnya melalui tridarma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Menjalankan tridarma tentu merupakan bagian penting dari perjalanan mahasiswa. Namun, menurut saya, kuliah akan terasa lebih bermakna jika kita tidak berhenti pada kewajiban tersebut.

Kita perlu menemukan sesuatu yang benar-benar ingin kita pelajari, kembangkan, atau perjuangkan.

Saya sendiri baru memahami hal tersebut setelah menjalani beberapa fase pendidikan. Ada masa ketika saya berpikir bahwa semakin banyak hal yang dilakukan selama menjadi mahasiswa, semakin baik pula perjalanan tersebut. Namun, pengalaman bekerja sambil menjalani pendidikan justru mengajarkan saya bahwa waktu, tenaga, dan perhatian memiliki batas. Tidak semua kesempatan harus diambil. Ada kesempatan yang perlu kita ambil, tetapi ada pula yang harus kita lewatkan agar kita dapat memberikan perhatian pada sesuatu yang benar-benar penting.

Bagi sebagian orang, sesuatu yang diperjuangkan mungkin berupa penelitian, kemampuan berbicara di depan umum, membangun organisasi, membantu masyarakat, atau menemukan bidang yang ingin ditekuni setelah lulus. Ada pula yang berkembang melalui kompetisi, pekerjaan, atau kegiatan sosial.

Namun, saya juga belajar bahwa mencari pengalaman di luar kelas memiliki batas. Jangan sampai keinginan untuk mencoba banyak hal justru membuat kita mengabaikan kewajiban utama sebagai mahasiswa. Ikuti magang, kompetisi, diskusi, organisasi, atau kegiatan lain yang mendukung perkembangan diri, tetapi tetap tahu kapan harus berhenti dan kembali pada prioritas.

Saya baru benar-benar memahami pentingnya menjaga ritme ketika menjalani pendidikan sambil menghadapi berbagai tanggung jawab lain. Tidak setiap hari berjalan dengan energi yang sama. Ada hari ketika pekerjaan dan tugas akademik dapat diselesaikan dengan baik, tetapi ada pula hari ketika tubuh dan pikiran hanya mampu menyelesaikan hal-hal sederhana. Dari situ saya belajar bahwa konsistensi tidak selalu berarti melakukan sesuatu dengan intensitas yang sama setiap hari. Kadang-kadang, konsistensi hanya berarti tetap bergerak meskipun langkah kita sedang lebih kecil.

Namun, perjalanan menjadi mahasiswa tentu tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada masa ketika kita merasa bersemangat mengikuti berbagai kegiatan, tetapi ada pula saat ketika kita justru merasa kehilangan arah.

Mahasiswa Tahun Pertama: Berdaptasi dengan Lingkungan Baru

Tidak dapat dipungkiri, tahun pertama menjadi mahasiswa sering kali diwarnai kebingungan. Di sisi lain, sebuah kampus mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah, kota, pulau, bahkan negara. Mereka yang datang dari tempat yang berbeda sering kali harus beradaptasi dengan lingkungan baru, sehingga tidak jarang menghadapi rasa kesepian, rindu kampung halaman, atau culture shock.

Saya masih ingat bahwa menjadi mahasiswa berarti harus belajar kembali bagaimana mengatur hidup sendiri. Tidak ada lagi yang selalu mengingatkan kapan harus belajar, kapan harus mengerjakan tugas, atau kapan harus beristirahat.

Yang perlu diingat, merasa bingung atau kesepian pada awal perkuliahan bukan berarti kita gagal beradaptasi. Adaptasi memang membutuhkan waktu.

Mulailah dari hal-hal sederhana. Tetap berkomunikasi dengan keluarga di rumah, buat rutinitas harian yang realistis, dan jangan ragu memanfaatkan fasilitas bimbingan konseling kampus ketika tekanan mulai terasa berat.

Di saat yang sama, cobalah membangun lingkungan sosial yang membuatmu nyaman. Mengikuti kegiatan kampus atau organisasi tidak harus selalu tentang prestasi. Terkadang, alasan paling sederhana untuk ikut adalah menemukan seseorang yang bisa diajak makan siang atau berbicara ketika hari sedang terasa berat.

Namun, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang bagaimana kita melewati tahun pertama. Tanpa terasa, mahasiswa yang dahulu masih mencari ruang kelas dan teman baru akan sampai pada fase ketika ia harus memikirkan tugas akhir dan kehidupan setelah kampus.

Mahasiswa Akhir

Tantangan utama mahasiswa akhir meliputi tekanan pengerjaan skripsi atau tugas akhir, hambatan birokrasi dan revisi dosen, stres mental akibat takut tertinggal dari teman, serta kecemasan menghadapi dunia kerja.

Mungkin saat membaca bagian ini, mahasiswa baru merasa kehidupan mahasiswa akhir masih sangat jauh. Percayalah, waktu bergerak lebih cepat daripada yang kita kira. Semester pertama yang terasa panjang perlahan berubah menjadi semester terakhir.

Oleh karena itu, jangan hanya bertanya, "Bagaimana saya bisa lulus?" tetapi juga "Ketika saya lulus nanti, saya ingin menjadi orang seperti apa?"

Saya juga pernah berada di fase ketika tugas akhir terasa seperti perjalanan yang panjang. Ada revisi yang harus diselesaikan, ada pekerjaan yang tetap harus dijalankan, ada urusan administratif yang harus dibereskan, dan ada saat ketika melihat teman lain sudah lebih dahulu menyelesaikan studinya membuat saya bertanya-tanya apakah saya sedang tertinggal. Pada akhirnya saya belajar bahwa membandingkan waktu kita dengan waktu orang lain hanya akan membuat perjalanan terasa semakin berat. Yang perlu dilakukan adalah kembali melihat apa yang ada di depan kita dan menyelesaikan satu per satu hal yang memang menjadi tanggung jawab kita.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa kita tidak selalu membutuhkan langkah besar untuk menyelesaikan tugas akhir.

Beberapa hal sederhana justru dapat membantu kita tetap bergerak. Kita bisa membuat target kecil dengan memisahkan bab atau bagian tugas akhir menjadi target harian, rutin melakukan bimbingan, mencatat setiap masukan revisi dengan jelas, serta mencari teman sesama pejuang tingkat akhir untuk saling mendukung dan berbagi informasi.

Pada Akhirnya, Jangan Hanya Pulang Membawa Ijazah

Untuk kamu yang sebentar lagi menjadi mahasiswa, mungkin hari-hari pertama di kampus akan terasa panjang. Kamu mungkin akan bingung mencari ruang kelas, salah masuk gedung, lupa nama teman baru, atau merasa bahwa semua orang terlihat lebih siap dibandingkan dirimu. Tidak apa-apa. Kamu tidak harus langsung mengetahui semuanya.

Nikmati prosesnya. Datanglah ke kelas dan belajarlah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan takut untuk keluar dari ruang kelas. Temui orang-orang baru, bangun pertemanan, ikuti kegiatan yang sesuai dengan minatmu, cobalah sesuatu yang belum pernah kamu lakukan, dan jangan takut mengalami kegagalan. Namun, di tengah semua itu, jangan lupa menjaga dirimu sendiri. Kamu tidak harus selalu menjadi yang paling aktif, paling berprestasi, atau paling dikenal. Kamu hanya perlu terus bertumbuh menjadi versi dirimu yang lebih baik.

Beberapa tahun dari sekarang, masa PKKMB yang hari ini terasa begitu penting mungkin hanya akan menjadi sebuah kenangan. Kamu akan duduk di depan laptop mengerjakan tugas akhir, menghadapi revisi, memikirkan pekerjaan, dan bertanya-tanya mengapa waktu berjalan begitu cepat. Pada saat itu, mungkin kamu akan menyadari bahwa kuliah ternyata bukan hanya tentang bagaimana memperoleh gelar sarjana.

Kuliah adalah tentang bagaimana kita belajar menjadi manusia yang lebih mandiri, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, berani mengambil keputusan, dan memiliki sesuatu yang dapat kita berikan kepada orang lain.

Karena itu, jangan hanya bercita-cita menjadi mahasiswa yang lulus tepat waktu. Jadilah mahasiswa yang ketika akhirnya meninggalkan kampus, dapat menoleh ke belakang dan berkata, "Saya mungkin belum menjadi manusia yang sempurna, tetapi saya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang pernah saya miliki."

Kalau saya bisa kembali ke hari pertama ketika menjadi mahasiswa, mungkin saya tidak akan memberikan terlalu banyak nasihat kepada diri saya sendiri. Saya hanya ingin mengatakan: jangan terlalu takut tertinggal, jangan merasa harus mencoba semuanya, jangan terlalu cepat membandingkan perjalananmu dengan orang lain, dan jangan lupa menikmati masa ketika kamu masih memiliki begitu banyak kesempatan untuk mencoba.

Karena beberapa tahun kemudian, kamu akan menyadari bahwa masa itu ternyata berjalan jauh lebih cepat daripada yang kamu bayangkan.

Karena pada akhirnya, yang paling saya takutkan bukanlah meninggalkan kampus tanpa menjadi mahasiswa yang paling berprestasi. Saya lebih takut jika meninggalkan kampus tanpa benar-benar menggunakan kesempatan yang pernah diberikan kepada saya.

Selamat datang di dunia perkuliahan.

Semoga perjalananmu tidak hanya mengantarkanmu pada sebuah gelar, tetapi juga mempertemukanmu dengan pengalaman, orang-orang baik, kegagalan yang mendewasakan, keberanian untuk mencoba, dan alasan baru untuk terus melangkah.